Eka dan Kantong Intelektual Muda Kristen

Semasa kecil, The Oen Hien bercita-cita menjadi tentara. Rumahnya berdekatan dengan kompleks militer. Namun mimpi itu harus dilupakan, ia warga keturunan, orangtuanya hanyalah pewarung kecil, bahkan pernah berminggu-minggu mereka hanya makan singkong. Ayahnya melarang ia bergaul dengan penduduk asli. Namun peringatan itu dilanggar, ia tetap berteman dengan para “gang tangsi” (anak-anak tentara) dan tak sungkan memakai sarung dan peci bersepeda berkeliling Pecinan (Perkampungan China). Pernah pula beberapa kali ia terlibat perkelahian.

Setelah lulus SMA, ia menerima ajakan temannya mendaftar di Sekolah Tinggi Theologia Jakarta (STTJ). Alasannya, karena tinggal di asrama dan mendapat bantuan biaya dari sahabatnya. Tak jarang ia kehabisan uang karena kiriman yang terbatas, hingga mendorongnya mencuri barang di asrama untuk dijual. Inilah masa kecil (Alm.) Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D. Pejuang toleransi sekaligus teladan intelektual muda Kristen.

Siapa sangka? Eka kecil yang miskin, suka berkelahi dan pernah mencuri itu dipanggil, dibentuk, dan diutusNya menjadi berkat. Perjumpaannya dengan Tuhan menyadarkannya kalau kekristenan itu mesti jadi berkat di negara ini lewat komitmen nasionalis, intelektualitas, dan sikap pluralis (menolong yang lapar, haus, dan menangis tanpa pandang agama juga statusnya). Itu yang ia lakukan selama hidupnya. Hal ini juga yang ditekuni oleh orang-orang seperti S.A.E. Nababan, T.B. Simatupang, dan Dr. J. Leimena. Mereka gemar membaca dan giat berorganisasi semasa muda. Hasilnya, mereka memberikan sumbangan besar dan menjadi bagian penentu kebijakan publik pada masanya.

Sejak 1945 hingga era 90-an kita menyaksikan orang-orang Kristen langganan duduk di pemerintahan, begitu juga kawan-kawan Katholik yang dibentuk lewat Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Kontras dalam sepuluh tahun terakhir, golongan intelektual Kristen kurang kelihatan bahkan terkesan mandek! Hingga berbuntut munculnya berbagai ketimpangan kebijakan publik. Dan ketidakadilan itu pun sudah terjadi belakangan ini; birokrasi semrawut, peraturan-peraturan sepihak, dan sebagainya. Ada tantangan besar di depan sana! Kita mesti mendorong dan menciptakan Intelektual-intelektual muda supaya kekristenan itu kian nyata dan mampu mengubah ketidakadilan menjadi kebaikan bersama.

Gereja dan berbagai organisasi sayapnya (GMKI, PMK, Perkantas, LPMI, Navigator, dan lain-lain) menyadari kegelisahan itu dalam tahun-tahun belakangan. Banyak yang sudah dilakukan, semisal; bedah buku, seminar, membentuk komunitas jurnalistik, pelatihan ini dan itu, beasiswa bagi pemuda-pemudi yang berpotensi dan semacamnya. Semua ini menggembirakan. Nah, supaya proses kehadiran intelektual muda itu semakin berkualitas dan tidak terhambat – selain Tuhan, lembaga pendidikan, dan gereja – keluarga adalah kuncinya. Mesti berperan dan lebih cepat tanggap. Lingkungan dan barisan keluarga harus mampu menjawab. Prinsipnya masih sama, “Hal besar dimulai dari yang kecil”. Konkretnya?

Pertama, “Who is Jesus”. Kekristenan versi zaman ini mengajarkan kalau Yesus hanyalah milik orang Kristen. Akibatnya, egoisme spiritualitas merebak. Padahal, Yesus itu datang untuk dunia. Kita perlu berusaha lebih keras lagi di dalam keluarga menyatakan kalau Yesus itu datang demi seisi jagad raya ini. Harapannya, dengan demikian, setiap kita akan dimampukan memandang bahwa siapapun itu adalah ‘kristus-kristus kecil’ yang bisa menjadi rekan untuk saling mendoakan, mendukung, dan menguatkan.

Kedua, Penempatan Diri. Menjabarkan peran tiap-tiap anggota keluarga. Sebagai orang tua, apapun profesinya, ada baiknya penerapan dedikasi pekerjaan lewat disiplin keseharian disaksikan oleh anak. Sementara, anak didorong mengembangkan diri dengan menekuni prioritasnya (sebagai siswa/mahasiswa, belajar dan belajar). Semua itu diharapkan menghasilkan sistem yang saling ‘membangun’. Sehingga anak memahami arti kehadirannya di dunia ini.

Ketiga, Kultur Komunikasi. Sistem pendidikan yang lama membuahkan generasi pemalu, takut untuk bicara, dan tidak kritis karena kurangnya kesempatan bertanya kala mengikuti kelas-kelas belajar. Sistem ini secara tidak sadar terwujud di lingkup keluarga, hal ini mesti dibenahi bersama. Ada banyak langkah awal untuk merenovasinya. Menawarkan si anak memimpin doa saat makan malam bersama merupakan salah satu langkah cerdik untuk mengasah keberaniannya berbicara di depan umum. Atau memancing anak bertanya saat sedang menonton tayangan televisi. Model yang demikian mampu merangsang anak karena ia akan merasa dihargai dan mulai bersikap kritis. Tentu usulan ini membutuhkan komitmen dan pendekatan dari hati ke hati.

Kalau di dalam keluarga kita berhasil menanamkan prinsip bahwa Yesus ada untuk semua orang, lalu berusaha menjadi teladan, saling memotivasi, dan terus belajar. Maka yang kita butuhkan tinggal bagaimana mengasah keberanian berbicara dan senantiasa memaksimalkannya di keluarga, kampus, gereja, dan di pemerintahan. Selebihnya, kita bisa semakin sinergis dengan program-program penciptaan kaum intelektual muda yang direncanakan gereja dan institusi sejenisnya. Saya yakin, atas cinta Tuhan, kita akan selalu diberikan kesempatan untuk semakin mengembangkan potensi.

Tanpa Tuhan, kita tidak bisa melakukannya dengan gemilang. DIA tetap menjadi kekuatan dan intelektual utama kita. Nah, sekarang semuanya kembali pada anda dan saya, mari kita mulai proyek besar ini dari langkah kecil di tengah keluarga. Supaya di perlombaan selanjutnya kita bersukacita dalam mendoakan, mendukung serta menyaksikan ribuan intelektual muda membangun – tak hanya bagi kekristenan – melainkan bagi bangsa ini.

Albertus Patty, Martin Lukito Sinaga, Prof. Sri Widiyantoro, Kornel M. Sihombing, dan yang lainnya sedang berkiprah di kancah nasional dan memulainya lewat keluarga. Kita kapan? Intelektual muda, datanglah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: