Sisingamangaraja XII: Belajar Sejak Kecil…

Beberapa waktu lalu saya beserta keluarga menepati janji ziarah ke makam raja ternama Sisingamangaraja XII. Kesan pertama, halamannya kotor! Banyak sampah disana-sini, puntung rokok berserakan di pot bunga, tidak terawat! “Raja sebesar dia, apa layak mendapatkan penghargaan seperti ini?!” Dengan perasaan kecewa saya melanjutkan langkah dan mendapati prasasti yang memuat tanda tangan serta pernyataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa raja batak ini besar dan menjadi bagian kebanggaan Indonesia.

Saya sempat meraba-raba pernyataan di atas batu itu, darah saya bergejolak dan hampir saja meneteskan airmata, “Inilah raja yang mengangkat harga diri orang batak…”. Saya tidak berlama-lama disitu, kaki saya kian mendekat ke pusaran makam Sri Maharaja Patuan Bosar itu. Karena baru pertama kali kesana, saya bertanya pada ibu, “Sendalnya mesti dilepas yah, mak?”, “Iya bang, dilepas,” Ujarnya. Lalu kami semakin mendekat. Disitu ada tiga makam; Patuan Anggi, Raja Sisingamangaraja XII, dan Patuan Nagari.

Patuan Nagari dan Patuan Anggi adalah putra-putra perkasa yang senantiasa menemani ayahnya berperang. Ada juga putrinya yang heroik, sejak usia 11 tahun sudah ikut berjuang, dialah srikandi Boru Lopian, yang sampai mati mengawal perlawanan Sri Maharaja itu. Mereka mempertaruhkan nyawa, termasuk kenyamanan demi harga diri dan kedaulatan Tapanuli! Kalau saja waktu itu Sisingamangaraja bersedia melakukan perundingan, bukan tidak mungkin bisa hidup enak.

Ksatria yang bergelar Ompu Pulo Batu itu sudah ditabalkan menjadi raja sejak umur 17 tahun dan memperlengkapi diri dengan belajar ke Aceh juga dari lingkungannya sendiri. Ketangguhannya mampu menggentarkan penjajah. Taktik perangnya sederhana, lewat bukit, lembah dan sungai, namun mampu memusingkan para bule yang rakus. Ia juga ditemani pejuang-pejuang Aceh, putra-putrinya yang siap sedia dan tak kenal lelah. Jangankan peluru senapan, meriam pun siap dihadapi! Belum lagi soal hulubalangnya yang setia dan cerdik. Sungguh, raja kharismatik nan tegas!

Raja Bakkara itu sudah lama pergi, ada puluhan pesan dan semangat yang ia tinggalkan bagi anak muda batak. Sejak kecil ia tekun belajar dan lewat itu ia menyadari bahwa penjajahan harus dihapuskan. Sejarah mencatat, sejak kepemimpinannya, bangsa batak mulai memberlakukan stempel kerajaan dan surat-menyurat. Ia juga raja yang mampu mengatur kebijakan politik, ekonomi, relasi, dan keuangan. Semua itu dimilikinya karena ia terus belajar.

Setelah beberapa menit di kompleks makam itu, saya membersihkan puntung dan bungkus rokok yang berserakan ke tempat sampah. Di lain keadaan, ibu saya menuliskan daftar pengunjung, juga sedikit sumbangan untuk perawatan makam. Lalu kami pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s