Wanita Batak:Sejuta Pesona

Setiap suku yang ada di negara ini punya karakter dan keistimewaan tersendiri, tak terkecuali suku Batak. Siapa yang tidak takjub akan keindahan danau toba, belum lagi soal gondang juga tortor, kehidupan sosial, gaya bicara, dan sejarah perjuangannya. Suku ini juga dikenal sebagai pekerja keras, kritis, dan sangat mendukung pembangunan Indonesia sejak pra kemerdekaan sampai sekarang. Oh iya, pesona batak itu kurang lengkap kalau tak ada wanita didalamnya. Hehehe…

Ijinkan saya sedikit narsis. Ibu saya adalah gambaran wanita batak yang mungkin mewakili yang lainnya. Saya harus akui kalau logatnya terkesan kurang ramah ketika menasehati atau menyapa orang lain. Tapi itulah wanita batak! Kesannya memang galak, tapi hatinya tulus dan selalu rindu untuk melakukan kebaikan. Kenapa? Kalau saja ibu saya benar-benar galak, sejak usia dua tahun saya akan memilih lari ke hutan. Karena itu mungkin lebih baik daripada harus menerima tekanan dan teror dua kali 48 jam.

“Sar, ibu mu kog galak yaa!” Itu kesan pertama sahabat-sahabat SMA ketika menyaksikan langsung dialog antara kami berdua. Ada yang memilih untuk tidak lagi berkunjung ke rumah, sebagian masih bertahan seraya memberanikan diri. Tapi kesan itu semua berubah seiring waktu, bahkan sekarang mereka menganggap ibu saya seperti orang tua kandungnya. Mereka sering menghubungi saya dan mengatakan, “Oi laeeee, wanita batak itu tak seperti yang kukira!”.

Dalam pergaulan remaja atau pemuda batak, ada beberapa gurauan. Misalnya; “Hati-hati kau kawan, jangan kau dekatin dia, dari Siantar itu!” Saya coba jelaskan soal statement ini. Seolah-olah kalau cewe Siantar itu galak dan sulit untuk diajak berteman. Dugaan itu karena dia mengira kalau Siantar itu kota tatto/preman, sehingga ia menduga bukan hanya laki-lakinya saja yang preman, tetapi perempuannya juga. “Jadi, jangan mascam-mascam lae!” Juga beragam candaan lain, yang tentunya tidak untuk menyudutkan.

Pernah suatu kali saya menggoda seorang wanita bernama Tiur, “Suit…suit…mau kemana ito?” Lalu ia membalas, “Emangnya urusanmu aku mau kemana!” Waktu itu saya tidak merasa takut, emosi, atau bahkan menilainya kampungan. Justru saya merasa inilah kejujurannya, tapi bukan berarti dia tidak mau berkenalan, hehehe…karena beberapa minggu setelah kejadian itu saya berteman dekat dengannya sampai hari ini. Pribadinya baik juga gemar menolong orang lain, itu kesimpulan sementara saya.

Ada juga kisah lainnya. Suatu kali dalam perjalanan ke Balige di sebelah saya duduk seorang perempuan. Saya menyapanya dengan baik, “Ito, mau turun di mana?” Lalu ia menjawab, “Di Siborong-borong, bang….” katanya dengan lembut. Setelah mendengar itu, yang ada dalam pikiran saya, “Alamaakk! Lembut kali suaranya, kog nggak sama kayak mamakku, yah!” Saya terkejut sekaligus kagum karena selama ini sebagian besar cewe batak yang saya ajak bicara suaranya tergolong tenor. “Kalau yang ini, bah! Lembut lho, Jeng!”

Selama di Balige, saya mengamati berbagai perkembangan, baik itu soal ekonomi, budaya, kehidupan sosial dan yang lainnya. Nah, sebelum pulang ke Bandung saya menyempatkan diri makan mie goreng. Kebetulan yang punya warung itu saudara Thionghoa, dari jauh saya sudah menyiapkan kata-kata supaya terasa akrab. Kali ini saya dikejutkan lagi, begitu kaki saya memasuki kedainya, dia langsung menyapa, “Horas ito! Naeng memesan aha?” (Selamat siang kawan! Mau pesan apa?). Saya girangnya bukan main, karena budaya dan kehidupan sosial di tanah batak ini terjaga dengan baik. Di depan saya nyata ada seorang saudara yang mau belajar dan mencintai budaya batak. Terlepas dari pretensi ini; Yang penting jualanku laris, nggak apa-apalah kalau aku belajar bahasa batak.

Kesimpulan saya; Soal galak atau lembut, itu bagian dari proses kita semakin bertumbuh dalam segala hal. Yang lebih utama adalah ketulusan dan bagaimana mengupayakan kebaikan bagi siapapun yang ada di sekitar kita. Ada hal-hal yang mesti diucapkan dengan lembut. Namun jangan lupa, ada ritme-ritme lain yang juga perlu kita hargai sebagai bagian dari pengenalan diri juga orang lain. Lebih dari itu, penggunaan pretensi sangat disarankan. Usul saya, sebelum berpretensi mungkin akan lebih baik ketika itu didului oleh nilai-nilai kearifan atas dasar persaudaraan.

Terima kasih buat wanita-wanita batak dan Balige.

6 thoughts on “Wanita Batak:Sejuta Pesona

  1. Pingback: Menilik Peran Wanita Batak Melalui Lagu Lagu Batak | Kartini Masa Kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s