Sesama Peduli Beras…

Indonesia krisis pangan! Itu kekuatiran kita bersama untuk tahun-tahun mendatang. Semua berdasar, karena turunnya tingkat kesuburan tanah, harga pupuk melambung, juga penerbitan beberapa kebijakan keliru, hingga mendorong para petani putus asa dan sebagian beralih profesi. Persoalan itu pernah ditambal sulam dengan berbagai subsidi. Lalu apa kaitannya dengan kita sebagai orang perkotaan? Ada bahaya besar di depan sana, kelaparan!

Sewaktu kuliah, saya sering makan bersama rekan-rekan seangkatan. Biasanya kita makan di tempat yang berporsi kingkong nan murah. Selain karena rata-rata berpostur tinggi dan besar, keuangan yang terbatas, kami juga memiliki kemampuan melahap makanan di atas manusia normal. Setiap kali hendak makan, ada perjanjian yang sudah kami sepakati, “Apapun rasanya, tidak boleh sisa!” itu prinsipnya. Kalau sampai tidak habis, mesti bersiap-siap dimasukkan ke dalam tungku pembakaran.

Lain waktu, saya makan malam dengan seorang wanita cantik yang kuliah di perguruan tinggi ternama. Persis di depan kampus itu kami bersenda gurau. Saat makanan tiba, kami berdoa lalu melahap makanan itu perlahan. Setelah beberapa menit, makanan saya habis, namun nona itu belum menyelesaikan makanannya, bahkan ia membiarkan makanan itu tersisa. Tidak menunggu lama, saya katakan, “Non, dihabisin donk makanannya, kan kasian petaninya?!” lalu ia membalas, “Aduh gimana donk, makanannya nggak enak ‘ndut!” Setelah ngobrol sana-sini akhirnya kami pulang.

Kebetulan saya pernah mengikuti kegiatan sosial “Beras Peduli Sesama”, pembagian beras kepada orang-orang yang membutuhkan. Bagi yang cacat menerima secara rutin setiap bulan, yang berpenghasilan rendah disesuaikan dengan sumbangan yang diterima panitia. Beras itu biasanya diantar langsung ke rumah-rumah, seijin pihak kelurahan/kecamatan, dan bantuan ibu-ibu PKK. Oh iya, program ini tidak memandang perbedaan agama dan status, karena prinsipnya, “Kita harus saling membantu, untuk kebaikan bersama”.

Suatu kali saya mengantarkan beras kepada seorang anak yang sejak lahir lumpuh dan tidak bisa bangkit dari kasur. Sewaktu memasuki kamarnya, “Yah Tuhan!” hanya itu yang bisa terucap, kakinya kecil, matanya cekung! Pernah pula saya mengantarkan beras kepada seorang ibu, buruh cuci dengan penghasilan 300 ribu per bulan. Kebetulan saat hendak memberikan beras itu, si ibu sedang menyuci. Setelah menerima beras ia berkata, “Terima kasih Tuhan!” Ucapannya membuat airmata saya jatuh! “Bagaimana dia menyekolahkan anaknya?! Bisa makan saja sudah untung!” Nyatanya, banyak manusia di dunia ini yang butuh beras!

Aspek lain, Indonesia adalah negara agraris! Sampai hari ini, ekonomi Indonesia ditopang hasil pertanian dan laut. Kalau saja perhatian terhadap kedua ranah strategis itu lebih ditingkatkan, bukan tidak mungkin kita makmur! China sebagai negara modern, ternyata masih menyadari kalau pangan itu kebutuhan dan penopang ekonomi negara. Desa-desa yang ditinggalkan penduduknya, ditanami jagung, padi, dan sebagainya, tidak dibiarkan tidur! Sangat kontras dengan keadaan di negara ini.

Ada cara berpikir kolot; Satu butir beras/nasi, bisa membuat para petani merasa dihargai juga mampu memperlambat datangnya masa kelangkaan pangan. Beras! Kepunyaan Tuhan yang dititipkan untuk anda dan saya, supaya bisa hidup dan menghidupkan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s