Ah, Tuhan! Tuh Tipe Gue, Noh!

Maman punya sahabat kecil, namanya Moymoy. Mereka sering bertemu dan suka bercerita banyak hal. Sesekali tentang spiritualitas, kehidupan sosial, maupun yang terkait dengan masa depan. Suatu kali mereka berkesempatan membahas soal kriteria pasangan hidup…

Hari pertama,
“Eh, Man, tipe wanita lu seperti apa sih?!”
“Oh, yang penting cerdas dan sederhana. Kalau lu, Moy?”
“Apa yah…Hmmm…yang pertama, cinta Tuhan, trus jago musik ama English.”
“Alasannya?”
“Iyah, gue ngebayangin kalo ntar setelah nikah, anak-anak gue ajarin bahasa Inggris! Hihihi…Nah, kalo lu, knp?”
“Iya, kan susah kalo nyarinya yang pinter, kaya, ama cantik.”
“Ah, masa?!”
“Di dapur…”

Hari kedua,
“Oh, iyah, Moy! Berarti lu nggak suka donk ama yang nggak jago maen musik?”
“Nggak juga sih sebenernya…”
“Kalo misalnya dia jago maen suling, piyee?!”
“Hadeuuhhh, ada yang lebih keren nggak?! Maen drum, ato apa gituh…”
“Nggak ada!”
“Oh, tapi yang utama sih, cinta Tuhan, soal jago musik ama English itu tambahan aje, Man!”
“Sama! Gue juga…yang penting cantik dan kaya, soal cerdas atau sederhana itu tambahan juga..”

Hari ketiga,
“Oh iya, Man, lu udah pernah pacaran ama yang kayak kriteria lu itu?”
“Udah donk, dulu! Sekali! Itu juga khilaf!”
“Lho, kok?!”
“Iya, matsut gue, dia khilaf nerima gue…”
“Hahahaha…”
“Nah, kalo lu, Moy?”
“Aduh! Dari tiga kali pacaran, tiga-tiganya nggak tipe gue sebenernya, Man…”
“Kok bisa?”
“Yah…gituh deh…”
“Okok…”

Hari keempat,
“Nah, waktu lu pacaran ama dia, apa yang lu rasain, Man?”
“Asyik! Seneng banget!”
“Wah….iyahh?”
“Ho oh, soalnya kan gue dapetin yang sesuai kriteria dan nggak bosen kalo ktemu, hihihi. Kalau lu, Moy?”
“Gue juga seneng donkkk!”
“Kok bisa?! Kan mereka nggak sesuai ama tipe-tipe lu?”
“Iyaah sih, tapi kan, gue belajar untuk nggak menuntut dan egois.”
“Matsutnya?”
“Gini yah, Man, kebayang nggak kalo kita nyarinya ama yang sesuai kriteria terus?”
“Laluuuu?”
“Sementara, tanpa nyadar, kita itu udah yang kayak matok bahwa kehendak kita yang berlaku, kan mestinya kehendak Tuhan, Man…”
“Caranya?”
“Bergaullah dengan Tuhan lewat proses-prosesnya, gimane?”
“Oh, gituh, yaah? Ah, masaaa?!”
“Gitulah pokoknya, Man!”
“Okok, nite yak!”
“Yup! Gbu, Man!”

Diskusi kecil itu pun berakhir. Tanpa sadar, Maman seperti yang sedang diingatkan lewat Moymoy, bahwa, “Kadang-kadang, standard hidup yang diimpikan, telah mengesampingkan atau bahkan melupakan kalau Tuhan memiliki rencana tersendiri, yang dirasa baik untuk anak-anakNya”.Ah, Tuhan! Tuh tipe gue, nooohhh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s