Benteng Terakhir NKRI

“Tanganku terasa sakit sekali dipukul balok, terbacok gobang terkulai tak berdaya.”
“Aku digantung, dipermalukan, dicabut nyawa seolah merekalah pemberi nafas kehidupan…”
“Aku dinyatakan untuk perdamaian, bukan demi kekerasan…”

Itu ungkapan pilu atas pelanggaran HAM yang kita saksikan belakangan ini. Beruntun! Mulai dari tindak kekerasan hingga pembakaran rumah ibadah. Idealnya, ini bukan waktunya untuk menyalahkan. Namun bagaimana agar kita tetap teguh dalam semangat kebangsaan dan perdamaian.

Untuk beberapa waktu ini, mungkin kegagalan menghantui dan membuat kita takut untuk tetap mewujudkan perdamaian. Namun kita tidak boleh hanyut sampai terjerumus dalam keputusasaan. Kita mesti bangkit, bangun dari kekuatiran dengan kesadaran bahwa perdamaian itu titipan Tuhan. Prinsipnya; kekerasan tidak selesai dengan kekerasan.

Menurut studi Ketahanan Nasional, selain pemerintah dan militer, masyarakat termasuk bagian penentu dan penjaga stabilitas. Nah, sementara pemerintah dan militer sedang berupaya keras mengusut dan mengadili pelanggar HAM itu. Kita mesti senantiasa berdoa dan berharap hukum diterapkan demi keadilan. Selain itu, kita tidak boleh lupa kalau ‘daya kritis’ adalah anugerah bagi kita.

Kita sama-sama tahu apa tugas pemadam kebakaran. Mereka adalah pejuang kehidupan yang mengandalkan air untuk meredam ganasnya api. Mereka bekerjasama dalam kesehatian, teliti, dan dengan bijak menyiramkan air ke tiap titik-titik api, supaya tidak lagi merugikan bahkan menimbulkan luka fisik dan batin. Saya jadi teringat masa-masa remaja, kala itu saya suka menonton film silat. Ada beberapa adegan yang menunjukkan air memadamkan api. Mungkin seperti itulah cara yang baik untuk kita menggunakan daya kritis itu demi kebaikan bersama.

Semoga momen ini tidak menyulut amarah atas amoral kemanusiaan. Selalu ada harapan untuk mewujudkan kesetaraan dalam bingkai kebangsaan. Tanah ini masih NKRI, karena ada anda dan saya, yang selalu siap membangun, mencintai dan menghargai siapapun.

“Kekecewaan itu terbatas, namun harapan tidak terbatas.” [Marthin Luther King, Jr]
Minggu, Senin, Selasa#Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s