Sayang, Aku Cinta Mati, Menikahlah!

“Anthony adalah cinta pertama dan terakhir saya. Kami telah bersama selama empat tahun. Sekarang, saya adalah isterinya. Saya akan selalu mencintainya,” ujar Karen, wanita yang menikahi jasad tunangannya yang meninggal karena kecelakaan tahun 2009 lalu. Perancis Timur, Jumat (23/6/2011) waktu setempat. (www.surya.co.id).

Minggu lalu, saya menyaksikan film Up in the Air. Mengisahkan perjalan seorang profesional juga keynote speaker terkenal bernama Ryan. Tugasnya, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain memecat setiap karyawan yang nilai tidak lagi layak atau kurang berkembang oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasanya. Hampir setiap hari ia mesti membawa koper, singgah ke hotel, melancarkan aksinya, lalu terbang lagi. Sampai suatu kali ia bertemu Alex, wanita karir yang juga super sibuk. Mereka menjalin hubungan tanpa status, bertemu di sela-sela kesibukan dengan menyesuaikan jadwal jauh-jauh hari sebelumnya.

Suatu kali, Natalie, seorang wanita muda bekerja di kantor Ryan. Singkatnya, mereka menjadi partner dan selalu bersama berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Natalie pernah bertanya pada Ryan, “Dengan usiamu yang segitu, apa engkau tidak berpikir untuk menikah?” Ryan hanya tersenyum karena pernikahan bukanlah mimpinya. Selidik punya telisik, Natalie ternyata bekerja di kantor itu hanya demi mengejar pria idamannya, namun akhirnya ia ditinggalkan begitu saja. Suatu ketika, Ryan sadar dan berusaha menemui Alex, yang diterima hanyalah kekecewaan. Ia menghampiri tempat tinggal Alex, melihat dua anak kecil sedang menaiki tangga bersama suara suaminya, “Who is it dear?” lalu Ryan pergi.

Pasca kejadian itu ia merasa ketekunannnya bekerja, menabung, membahagiakan adiknya, bahkan target dan penghargaan maskapai penerbangan atas perjalanannya ribuan kilometer tak lagi terlalu berarti dan berpikir kalau ia hanya perlu terus terbang kesana-kemari menghabiskan sisa kontrak kerjanya. Hatinya berontak, “Aku butuh wanita untuk berbagi cinta dan kehidupan!”

Di masa kini, kita senantiasa diperhadapkan pada tantangan, menyangkut masa depan pribadi, yang berdampak pada suasana keluarga. Kalau saya menikah secepatnya, ah! Pasti ayah dan ibu akan sangat senang. Kalau saya menyelesaikan studi 3,5 tahun, ayah tentu akan membelikan mobil baru juga membuat pesta akbar bersama kroninya, dan berbagai ungkapan kebahagiaan lainnya. Sepertinya, kita sedang berlomba-lomba menjadi pemenang, supaya hidup tenang dan berakhir kesenangan tanpa peduli pentingnya relasi dengan lawan jenis. Tidak juga menandakan bahwa tanpa pasangan hidup anda tidak bahagia.

Tidak usang kita sering mendengar berita miring buah pernikahan; cerai muda, tidak memiliki anak, kesulitan ekonomi hingga suasana rumah tangga seperti neraka dan kenyataan lainnya yang membuat anda dan saya semakin perlu menimbang lebih mendalam tentang perkawinan. Mungkin, ada yang menganggap niatan wanita Perancis di atas ‘gila’, menikahi jenazah tunangannya. Lain lagi dengan gamer asal Jepang yang nekat menyatakan pernikahannya dengan tokoh virtual dambaan tahun 2009 lalu–bisa saja menyiratkan kalau wanita yang ia cari di dunia ini tidak sesuai dengan kriterianya.

Siapa yang tidak ingin menikah? Sebagian kalangan merasa rumah tangga bukanlah ujung kehidupan, sebagian lagi menilai pernikahan adalah bagian dari proses pendewasaan kehidupan rohani dan real-nya sebagai mahluk sosial. Baik, opini-opini yang tidak bisa kita tuding keliru seutuhnya. Sebab semua itu pilihan, bisa berdasarkan pengalaman masa lampau atau pertimbangan tantangan; tuntutan relasi sosial dalam keluarga, persahabatan, tempat bekerja, dan sebagainya.

Saya pernah dibelikan cincin oleh seorang wanita, sangat berkesan, terharu dan romantis, tidak seperti di sinetron (mengeluarkan airmata). Saat itu, saya merasa bahagia, tidak bisa terpaparkan lewat kata. Saya merasa itu kenangan terbaik yang masih bertahan sampai hari ini. Tidak arif ketika saya membandingkan mantan kekasih dengan perempuan-perempuan yang dekat dalam kehidupan saya belakangan ini. Hanya saja, itulah kejujuran, kenangan, dan kenyataan yang sudah saya alami.

Seperti Ryan, tentu ada alasan mengapa awalnya ia tidak terlalu memikirkan relasinya. Begitu pula dengan Karen, mungkin keputusannya dablek, tapi itu wujud cintanya yang tidak lekang walau terpisah dimensi. Lalu saya, yah seperti itu, kemapanan adalah harapan sebagian besar insan masa kini. Untuk selebihnya, masih seperti Ryan dan Karen. Namun saya tidak berharap anda melihat jejak lalu menguntit saya dari belakang, karena anda akan terlibat didalamnya.

Menikah? Itu sebagian mimpi. Langkah itu akan sangat baik ketika ada ‘dasar’ yang mendorong anda dan saya mewujudkannya. Bukan semata akibat tekanan, sindiran, atau bahkan demi kebahagiaan sesaat. Memang, kekuatirannya, ketika anda hendak menjemput sang impian, mungkin ia sudah melenggang bersama pilihan hatinya. Tuhan tidak berharap anda dan saya melakukannya karena semangat tentatif. Semoga apa yang kita lakukan dalam hari-hari ini, demi masa depan, bertepi di ruang yang sejuk bersama pasangan yang bukan hasil kriteria anda dan saya, kekasih pilihan Tuhan.

Jas, gaun, mawar, makanan, alunan musik, dan prosesi (nasional/adat), itu bukan ketakutan juga persoalan terbesar. Hidup ini mengandung kebaikan setiap anda dan saya, dengan pengorbanan hati, pikiran, tenaga dan waktu, bahkan status akhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s