Aku, Bapak, dan Yesus

“Without You, I’m nothing!”

Saya tahu anda punya ayah juara sedunia, hebat, pemilik integritas, dan sebagainya. Karena itu, saya sepakat ayah adalah setengah dari hidup anda dan saya. Tanpa dia, mungkin saya hanya akan jadi gelandangan atau peminta-minta di pinggir jalan. Kerja kerasnya sudah terbukti, anda dan saya mampu menikmati kehidupan yang layak sampai hari ini. Tidak ada lagi alasan untuk mengedepankan gengsi laki-laki dalam hubungan yang hebat itu. Ijinkan sekali lagi saya berkisah tentang seorang pemuda hebat dari desa kecil di Tapanuli sana.

Sejak kecil saya jarang bertemu ayah. Usia tujuh sampai sembilan tahun saya tinggal bersama nenek. Ayah dan ibu merantau, lalu menjemput dan membawa saya pergi dari kampung. Menginjak SMP bahkan SMA juga jarang bertemu, bapak dan ibu tinggal di rumah dinas di daerah kabupaten, kami berlima bersekolah di kota Jambi. Kami jarang bercerita intens seperti kisah-kisah anda. Kesempatan bertemu hanya setiap Sabtu atau Minggu selama enam tahun itu dan sayangnya saya berada dalam gita kemudaan kala itu, yang kadang tidak menganggap pentingnya relasi anak dengan orangtua. Sesekali kami tampak akrab, seimbang dengan pertarungan ego yang sering menggoda saya menolak nasihatnya.

Setelah masa itu, saya kuliah di Bandung, dan itu berarti saya hanya sekali setahun bertemu. Waw! Sepertinya dunia menakdirkan saya untuk jarang bertatap muka dengan bapak. Lulus kuliah, saya memutuskan tetap di kota Kembang, ia pun menyetujui dan berkata, “Bapak yakin, kamu bisa mandiri disana…” Ucapan yang tidak menggelegar seperti pidato-pidato Soekarno, tapi bagi saya itulah nafas semangat sampai hari ini. Oh iya, kami akhirnya akrab walau saya di Pulau Jawa dan beliau di Pulau Sumatera. Saya akan ceritakan apa yang memulai kedekatan kami.

Tahun 2006, awal relasi yang efektif dan berkualitas antara kami berdua. Tahun itu, saya hadir dalam ibadah dinamis di salah satu gereja. Sebelum pendeta menyampaikan khotbah, ada pemutaran video Hillsong, judulnya Take All of Me . Berkisah relasi anak, ayah, dan Tuhan. Si anak itu awalnya dekat dengan papanya, lalu renggang karena ego kelaki-lakian keduanya. Si ayah begitu mengasihinya sampai akhirnya meninggal. Pemuda itu menyesal dan menangis di hadapan Tuhan. Lewat itu saya disadarkan, rupanya Tuhan sedang berbicara banyak pada hidup saya. Khotbah pendeta itu juga mengubah pola pikir dan meruntuhkan ego saya, kesimpulan saya sepulang dari acara itu, “Aku sayang bapak dan mesti bilang itu secepatnya!” Malamnya, saya langsung kirim sms, ungkapkan apa yang terpendam dalam hati selama ini. Ajaib, Tuhan begitu berkuasa atas hidupnya. “Iya, saya mengerti perasaanmu.” balasnya. Lalu saya mendoakannya sehabis membaca sms balasan itu.

Sejak itu kami bagai sahabat karib. Bahkan seloroh, yang dulu menakutkan saya untuk diucapkan, sejak itu menjadi rutinitas. “Oh, Tuhan! Bapakku hebat!” pujian saya. Sebelumnya, ia tidak begitu ingin saya protes, kini ia menjadi pribadi yang luwes, berpikir moderat, memahami kebutuhan saya sebagai anak laki-laki (masa yang pernah dialaminya). Saya mendoakan perubahan itu kurang lebih tujuh tahun dan Tuhan sudah menjawabnya.

Oh iya, saya yakin, anda juga punya cerita seperti yang sedang saya utarakan. Ada prinsip yang selalu dia katakan setiap malam tahun baru tiba, “Without You, I’m nothing!” Tiap tahun dia akan bercerita, bahwa tanpa kebaikan Tuhan, dia hanya akan jadi petani dan tidak bisa menyekolah kami berlima. Mama juga mengatakan hal yang sama. Saya pengagum tokoh-tokoh hebat, namun papa pribadi yang nyata dalam kehidupan saya; dilindungi, diperlengkapi, diproses, dan disayang Tuhan.

Cintanya pada ibu, saya, dan adik-adik mengalahkan kejamnya angin malam, hutan belantara, ancaman binatang buas, diskriminasi, keletihan, luka, dan sebagainya. Dengan sabar, enam tahun belakangan ia mesti menahan penyakitnya sambil bekerja, mengkonsumsi obat setiap hari, dan kemungkinannya tidak bisa sembuh walaupun di operasi. Saya yakin, dia akan senantiasa mengingat kata-kata ini, “Without You, I’m nothing!” Saya pernah bilang sama Tuhan, “Kalau boleh Tuhan, jangan biarkan dia menderita, tukarlah aku dengannya…”

Tidak ada alasan saya protes pada Tuhan. Kalau Yesus mau papi saya sembuh, itu akan terjadi, apapun cara dan resikonya. Kalaupun mesti menderita selamanya, Kristus ada dalam proses itu. Yesus, Tuhan yang tidak akan berhenti memberi kekuatan padanya. Dia pula yang akan menaruh kesabaran bagi mama dan adik-adik saya dalam menyaksikan serta merawat bapak.

Apapun tantangan itu Tuhan, i will follow You…

#Kawan-kawan mari kita tunjukkan pada dunia, kita punya ayah yang tegar, sabar, dan disertai Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s