Memerdekakan, Apapun Resikonya!

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung; berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.” (Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi 1956).

Sebentar lagi kita akan memperingati HUT RI yang ke-66. Pekik merdeka akan membahana di seantero Nusantara. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Peristiwa yang mengingatkan keberanian dan kegigihan para pahlawan membebaskan Indonesia dari penjajahan. Tugas kita, melanjutkan semangat kebangsaan itu dengan memerdekakan orang lain. Apa dan bagaimana caranya?

Dengan motto “Apapun Resikonya” bermodalkan bambu runcing, golok dan taktik gerilya, hingga kelaparan, kehilangan harta, sanak saudara, bahkan nyawanya, para pejuang berhasil menghalau Belanda. Buahnya, Indonesia memproklamasikan diri 17 Agustus 1945, tapi penjajah masih belum mau mengakui dan mencoba kembali menjajah, lagi-lagi para pejuang tidak diam! Dengan slogan yang sama mereka serentak merapatkan barisan. Gerakan 10 Nopember 1945 dan Serangan Umum 1 Maret 1949 akhirnya menuntaskan semua kesemena-menaan Belanda itu. Indonesia berdaulat dan berhak menentukan nasibnya sendiri juga diakui dunia internasional.

Nah, tentu berbeda arti kemerdekaan dalam konteks masa perjuangan dengan sekarang. Dulu kita mengalami penjajahan fisik, sekarang hadir dalam bentuk lain. Menurut Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan, “Arti kemerdekaan suatu misi untuk membangun negara karena merdeka dari penjajahan itu berarti kita juga harus memerdekakan dari kemiskinan, dari berbagai hal yang masih mengancam dan mengurangi kesejahteraan rakyat, keselamatan rakyat.” (Kompas.com). Lain lagi menurut salah satu adik kebanggaan saya, Lydia Utami, “Merdeka dari ketakutan dan kebodohan.” Kita punya definisi yang beragam. Baiknya kita bersepakat bahwa merdeka dalam konteks saat ini ialah “Terbebas dari rasa takut akan masa depan, penindasan hak, tekanan sosial, ekonomi dan lain-lain.” Dengan pemahaman ini kita bisa semakin kontekstual menjalani panggilan mengisi kemerdekaan ini.

Tidak adil ketika kita hanya meneriakkan “Merdeka! Merdeka!” tanpa mewujudkannya secara konkret. Para pahlawan sudah meneladankannya, terlebih lagi Yesus di masa lalu. Dengan prinsip “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” (Segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan harus disingkirkan), Yesus melawan semua ketakutanNya demi membebaskan anda dan saya. Sampai tiga kali Ia berdoa di Taman Getsemani (Lukas 22:44), Ia tidak ingin perasaanNya menentukan jalan hidupNya tetapi membiarkan Allah yang mengaturNya. Ia tahu betul Allah menyertai! Dengan ‘sengaja’ Ia menghadapi musuh-musuhNya; tidak melawan di persidangan, bersedia ‘mengajukan’ diri mengalami penyaliban yang memalukan sekaligus memilukan itu. Apa motivasi Yesus melakukan itu semua? Karena Kasih! Inilah perbuatan nyata Yesus, memperjuangkan kemerdekaan manusia yang dikasihiNya supaya merdeka serta mampu membebaskan orang lain; yang ketakutan, putus asa, tertindas, terkucilkan, teraniaya, termiskinkan dan terbodohkan.

Kita yang sudah merdeka, dengan anugerah itu diharapkan senantiasa mengalami pembaharuan hidup dan mendorong sikap-sikap yang membangun dan memajukan diri juga orang lain dengan Kasih (Galatia 5:13). Kalau kita gemar melakukan kebaikan bagi orang lain, tidak akan ada lagi yang terjajah. Yesus akan dimuliakan dan bangsa ini semakin maju.

Lewat status merdeka itu kita juga didorong untuk tidak takut terhadap pencapaian saat ini, termasuk resiko (takut tidak berhasil, rugi waktu, materi, tenaga saat menolong, membimbing dan memajukan orang lain). Kita tidak perlu memelihara ketakutan, rasa minder, apalagi mental terjajah. Kalau anda dan saya dikuasai rasa malu maka kita hanya akan terombang-ambing dalam kegelisahan dan menjadi tidak produktif sebagai manusia merdeka. Bung Karno pernah berkata, “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.”

Konkretnya; peran orang tua, diharapkan semakin mendorong kemajuan anak lewat teladan sehari-hari dan memberikan kebebasan, misalnya; dalam memilih jurusan kuliah, kegiatan ekstrakurikuler, menentukan profesi, bahkan termasuk soal pasangan hidup dan lain sebagainya, tentu dengan acuan demi kebaikan bersama dan mengingatkan si anak bahwa ada konsekuensi dalam setiap pengambilan keputusan. Buat teman-teman muda, kita mesti mempunyai perencanaan hidup yang ‘membebaskan diri sendiri’ namun bertanggungjawab. Kalau mau jadi politikus, hakim, desainer atau wartawan, dari sekarang mesti memperlengkapi diri dengan ilmu dan kegiatan yang berhubungan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar. Selain itu, kita mesti semakin terbuka terhadap persaingan, senantiasa mengembangkan diri serta berusaha sekeras-kerasnya mendorong kemajuan di keluarga, kampus, gereja, dan masyarakat dengan talenta yang Tuhan berikan. Secara umum, mari bersama-sama meningkatkan kepedulian kepada mereka yang putus asa, merasa sendirian, dimiskinan, kelaparan, atau yang tidak memiliki peluang sekolah.

Tuhan sudah membebaskan kita, para pejuang sudah menumpahkan darahnya, itu karena kita berharga. Ada jutaan anak bangsa lainnya yang berharga di sekitar anda dan saya. Mari merangkul, menolong, memajukan, dan membimbing mereka demi Merah Putih, apapun resikonya! Terima kasih Yesus! Terima kasih para pejuang! Kita merdeka! Jayalah Indonesia! Wis merdeka, lho, rek!

*Tulisan menyambut Dirgahayu RI ke-66

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s