Aku Muda, Berdiri dan Berkarya

“Aku tidak dibentuk dengan suatu kesalahan, aku tidak diberi nafas untuk menjadi biasa, aku diciptakan dan direncanakan untuk mengerjakan pekerjaan mulia yang direncanakan-Nya sejak semula. Ia mau supaya aku hidup di dalamnya…” [Priska Apriani]

Semasa SMA, saya suka ngeband, maen basket dan sepakbola, les Bahasa Inggris, Matematika, serta beragam ekstrakurikuler lainnya. Oh, iya, saya juga suka nongkrong bareng rekan sejawat. Kami menjadi anak geng yang tak terpisahkan, solidaritas yang mengundang rasa haru, canda dan tawa, hingga tak perlu memikirkan bobrok dan kejamnya dunia ini. Ketika menginjakkan kaki di perguruan tinggi, idealisme lama saya seperti ditantang, perlahan luntur. Menandakan tiap level kehidupan memiliki warna tersendiri.

Andai boleh memilih, saya ingin ada di tingkatan SMA selamanya. Karena itu jauh lebih indah dengan kisah-kisah lucu; hati berbunga-bunga karena cinta monyet, bolos sekolah, baca komik ini dan itu. Ah, indah sekali! Di perkuliahan, saya menjadi pribadi yang sendiri, dipaksa mandiri juga belajar cerdas akibat kompetisi; semakin dihadapkan pada idealisme serta kenyataan. Tantangan datang silih berganti, namun keadaan seperti tidak mendukung. Kadang didorong mandiri oleh orang tua, namun dalam keadaan lain diperkosa oleh oknum yang tak sungkan berkata “Heh! Tau apa kamu soal kedewasaan! Dasar! Anak kencur!”

Di akhir masa kuliah, hati berdebar-debar. “Mau kerja apa nanti?” itu ucapan bisu di angkutan umum. Dunia seperti bicara kebohongan besar! Pengangguran menyerak, kriminalitas berjubel, moralitas saling tindih, politik kian berdarah, birokrasi silang sengkarut, hah! Dunia ini seperti neraka. Saya dipaksa berlomba dengan ribuan bahkan jutaan pelamar. Sementara, saya bukanlah mantan juara umum di SMA atau lulusan cumlaude di kampus gaul nan elit. “Anda sudah memaksa saya berpikir dan berkata jorok hari ini,” keluh saya di simpang gereja.

Itulah bagian kemudaan. Ada penyesalan “Kenapa dulu aku selalu mengeluh dan beralibi”, melihat diri tidak berkembang sesuai cita-cita. Setiap kali naik tingkat baik usia dan pola pikir lebih sering mengutamakan idealisme. Pertama; apa yang saya dengar/anggap itu benar, mesti seperti itulah adanya. Kedua; kalau melihat penderitaan, terutama bagi saya dan keluarga, secepatnya mesti berlalu. Saya seperti tidak ingin merasakan kesusahan dengan sedikit kerja keras.

Tanpa sadar, dalam semua kekesalan dan proses pendewasaan itu, Tuhan menyusup bak agen CIA. Faktanya, sampai hari ini mengalami pemeliharaanNya dalam keluarga, utamanya saya pribadi. Ia memperlengkapi langkah-langkah dan pola pikir saya dengan kesempatan sekolah, kuliah, dan bekerja. Semua ini tidak saya sadari dengan baik karena terlalu sering mengutamakan kehendak pribadi serta merasa persoalan sayalah yang paling berat di dunia ini.

Tuhan itu Yesus, punya masa kecil, mengalami berbagai proses pendewasaan. Ia belajar, bermain, juga berhadapan dengan kerasnya monopoli kehidupan. Ia tersalib! Kepala, kaki, dan tanganNya berdarah-darah. HatiNya tersayat-sayat oleh penghianatan dunia.

Malam sebelum disalib, Yesus berdoa di Taman Getsemani (Lukas 22:41-46; Matius 26:39; Markus 14:34-36), tubuhnya mengeluarkan peluh yang menjadi seperti titik-titik darah yang menetes ke tanah, tanda Ia memiliki kekecewaan pada dunia serta kekuatiran akan kayu salib. Namun, sekali lagi, Ia tidak gentar! Maju terus! Demi anda dan saya. CintaNya menyelamatkan seisi dunia. Salib itu berani dipilih karena Ia bersedia melepaskan kepentingan pribadi, senantiasa bergaul dengan Allah dan lingkungan sekitar, hingga mendorongNya semakin mengerti bahwa cinta, kesabaran, rendah hati, dan ketekunan akan berbuah kebaikan.

Kita punya idealisme demi pribadi. Namun tidak boleh lupa, Tuhan juga titipkan cinta supaya diwujudkan bagi siapapun. Semua itu bisa kita nyatakan dengan senantiasa bersedia diajar dan belajar dari kehidupan. Kalau hari ini kakimu tak berhentak, biarkan orang lain yang menuntun. Kalau hari ini airmatamu terkuras, relakan orang lain menghapusnya, agar di lain waktu, engkau bisa menghapus air mata mereka yang butuh cinta. Yuk! Penuhi dunia ini dengan cinta Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s