Sayang, Aku Merindukanmu!

Pernahkah anda memiliki seorang kekasih yang begitu baik, perhatian, dan kadang selalu mengalah kala ada cekcok antara anda dengannya? Ah, siapapun sungguh tidak akan rela melepaskan tipe kekasih yang demikian. Apalagi kalau ia selalu mengerti soal keadaan kita, terutama isi dompet, sehingga ia tidak terlalu merisaukan diri kalau tidak diajak nonton di akhir pekan. Saya pernah punya pacar yang demikian (biarlah sedikit narsis), hehehehe. Indah dan bahagianya hidup kala bersamanya, semua benda terlihat seperti bunga, semua suara seakan bernilai nada indah. Namun, kalau ia sudah pergi, apa jadinya hidup ini? Anda pasti merindukannya bukan? “Aku pasti merindukannya, jangan ragu-ragu, sar!”

Kangen, yah! Sungguh terasa sesak di dada kala merindukan belaian, melihat senyuman, bahkan candaannya yang kadang membuat serasa kembali pada masa kecil yang penuh tawa. Masihkah anda ingat saat ia berusaha membuat anda berarti dengan menceritakan satu perumpaan yang menyiratkan kalau anda itu hebat dan sungguh ganteng atau cantik? Atau soal bakso yang dia beli satu mangkok dibagi berdua? Bahkan sms dan suaranya menelpon yang seperti anak usia sembilan tahun, tapi anda menyukainya. “Ayang dimana? Udah makan belum, mau aku bawain naci goreng Simpang Dago? Tunggu aku di kost yah.”

Ada beragam cara untuk mengungkapkan rasa rindu pada seseorang yang dicintai. Kalau buat orang tua biasanya cukup dengan sms atau telepon (tanpa mau mengatakannnya, hanya menanyakan kabar saja). Kalau untuk kekasih atau mantan, beuh! “Jangan kate di Inggris, ane samperin die ke ujung Baramuda.” Masih terlalu beruntung bagi mereka yang sedang berpacaran, bisa bersayang-sayangan, berindu-rinduan dengan nyata (nggak sampe making love yah). Nah, kalau buat mereka yang sudah berstatus mantan, gimana donk? Hmmmm…susahnya minta ampun. Ungkapan rasa kangen seakan tidak berguna lagi, “Buat apa? Dia kan udah ada pacar! Lagian, gue udah nggak dianggep!” Padahal ngarep.

Kalau anda bersalah pada seseorang, bagaimana caranya meminta maaf? Kalau anda hanya berdoa supaya dimaafkan, maka yang mengetahui permintaan maaf itu hanyalah Tuhan. Begitu pula dengan orang yang anda sakiti, kalaupun ia sudah memaafkan anda di dalam hati, maka anda tidak akan mengetahui kalau anda sudah termaafkan. Keduanya mesti bicara, “Paling nggak, sms lah cuy!”, begitu pula dengan rasa rindu, anda dan saya harus mengatakannya. Lebih gentle kalau berbicara langsung. Bisa saja gayung bersambut. Minimal anda dapat mengingat ataupun menanyakan kabarnya, “Apa kabar kamu? Gimana kuliahnya?”

Bahkan kalau berkenan dan suasana hatinya juga merindukan anda, cobalah katakan, “Jalan yuk!” Sekedar melintasi jalan kenangan yang dulu pernah terlewati, memandang parasnya yang dulu selalu menjadi bayang dan mengantarkan tidurmu, kejar-kejaran di antara rentetan mobil sambil sesekali melemparkan senyuman yang menggoda supaya anda menyerah lalu memeluknya? “Ahah! Sekali ini kasihlah aku kesempatan dek! Aku terlalu merindukanmu.”

Dugaan saya, dalam satu tahun ini anda sudah berdoa dan menanyakan kabarnya lebih dari sepuluh kali pada kerabat/sahabatnya, bukan? Nggak ngaku nggak papa kok, say. Ada sebagian kalangan yang berusaha menahan rasa rindunya mati-matian, tapi nggak sampai mati lho yah, mas. Mereka hanya menikmatinya dalam kesendirian, membuka lembaran hatinya dengan memutar lagu kesayangan pacarnya, melihat kembali arsip foto Kodak 4R, merapikan hadiah yang dulu pernah diterimanya, mungkin juga membaca kembali kartu ucapan Valentine kala masih bersama.

Ada pula yang tetap berhubungan, lewat sms atau mungkin kebetulan satu kampus. “Gue biasa aja kok kalo ketemu, kan dia udah jadi kakak/adik buat gue.” Hanya saja, dengan keseharian yang demikian, ia akan merasa rindu kala matanya melihat sang mantan bergandengan dengan orang lain. “Ah, aku masih ingat waktu dulu ia menarik tanganku di belakang kelas sambil ia katakan “aku sayang kamu”, kenapa semua terlalu cepat berlalu.” Orang dengan tipe ini mungkin keliatan sedang cemburu, padahal kenyataannya ia sedang merindukan masa-masa indahnya dulu. Ia sedang membutuhkan sentuhan nyata lewat kontak mata dan dialog.

Dan masih banyak model “perindu” yang tidak kita ketahui bahkan terduga, misalnya; ada yang sampai autis, memilih dunia rindu sendiri. Sampai-sampai, saat bermain games, ia menorehkan nama mantannya di username atau password ID-nya. Jangan buru-buru menuduhnya mengalami kelainan, itu semua bentuk pelampiasan rasa rindu. Kalau seseorang merindukan, itu pertanda ia berharap akan kebahagiaan dan keindahan hidup yang dulu pernah ada dan sekarang tidak ia rasakan, namun menginginkannya,

Kalau anda sedang dirindukan oleh orang lain, itu merupakan nilai yang tak terbayar oleh apapun. Karena anda sedang dianggap sebagai pembawa kebahagiaan baginya, kalau anda merindukan orang lain juga begitu adanya. Nah, kalau kebahagiaan itu tidak diketahui oleh yang bersangkutan, bukankah itu sebuah kerugian yang nantinya belum tentu terulang? “Aku merindukanmu, sayang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s