Pacarku Tukang Parkir!

Tukang parkir pacaran sama anak bos! Nggak percaya? Saya sendiri yang menyaksikan kisahnya. Semuanya karena cinta! Kalau sudah kena, nggak kenal status kaya-miskin, cantik-jelek, dan sebagainya. Dua insan itu meyakini kalau cinta sejati masih berlaku di zaman sekarang. Walau ditentang orang tua, lekaki tampan bergaya gedongan itu tetap memilih wanita pemilik peluit tersebut. Semua itu memang tidak nyata, hanya sebuah stripping di televisi swasta. Tapi bukankah cerita seperti itu masih sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata masa kini?

Sebentar, saya bukanlah orang yang tidak mengamini kalau jatuh cinta itu juga mesti mempertimbangkan banyak hal. Memang, tidak ada orang yang bisa hidup hanya bermodalkan cinta. Semuanya butuh materi, yang utamanya berlabuh pada persoalan status. Seperti cerita sinetron di atas, semuanya berawal sewaktu laki-laki itu memarkirkan mobilnya, dan melihat wanita cantik berdiri di sebelah mobil mewah. Ia mengira kalau wanita itu pemiliknya, lalu berusaha menggoda. Semuanya bermula karena wanita itu cantik juga kaya. Namun, bukan cinta namanya kalau semuanya lancar-lancar saja. Mereka melewati beragam proses yang kian menguji dan mendewasakan perasaannya.

Saya teringat kisah cinta orang tua saya dulu. Papa saya tergolong keluarga berada pada masanya, sedangkan mama saya miskin dan sekolahnya tidak setinggi anda dan saya. Di waktu itu papa saya mencintainya karena perasaannya yakin, nyaman, juga seperti lelaki yang istimewa jika sedang bersama ibu saya. Begitu pula sebaliknya. Sampai hari ini, mereka terus mengalami banyak proses yang berniatan mempertajam dan mengkokohkan cintanya. Mungkin anda juga pernah mendengar nostalgia seperti itu dari orang tua atau para sahabat. Semua itu pernah terjadi!

Masa sekarang, ampun deh! Jangan kata ganteng, gengsi almamater pun bukanlah modal yang menjanjikan. Ada berbagai syarat dibelakangnya yang mesti dipenuhi dengan seksama. Semisal, mobil, blackberry, rumah dan pekerjaan. “Kalau pegawai, okeh juga! Lebih mending daripada yang serabutan.” Akibatnya, makna cinta itu bergeser dan ditempatkan sebagai pemenuhan kesenangan semata. Takut hidup susah! “Emang lu mau melarat gituh, Sar? Hehehe…”

Semua prilaku dan kegelisahan seperti itu seringkali saya dengar belakangan ini. Apakah orang yang ingin jatuh cinta itu mesti kaya dulu supaya nantinya tidak kecewa? Seberapa mulia dan kokohnya pribadi-pribadi yang memahami bahwa cinta itu lebih dari materi? Selebihnya, di masa kini masih perlukah menghargai cinta itu sebagai anugerah? Sementara di banyak kesempatan ada ribuan pembenaran untuk menikmatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s