Ranting Patah Jadi Kayu Bakar

“Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya, Dia kan jadikan indah sungguh berharga.”

Setelah tiga tahun kuliah, Gendut memilih berhenti, karena merasa salah jurusan dan tidak mampu mengikuti materi perkuliahan. Psikologisnya, ia minder, takut, dan gagal. Lebih dari itu mesti berhadapan dengan airmata orangtuanya. Namun pilihan itu bukan tanpa alasan, ia ingin jujur terhadap apa yang diimpikan untuk masa depannya dan itu bisa saja bernuansa pembenaran karena malas dan nakal. Sangsi sosial berlaku atasnya, dicap pengecut, sampah, tidak tahu diri dan kurang menghargai kerja keras serta mempermalukan keluarganya.

Beberapa bulan setelah putusan itu, ia jatuh dan digoda rasa bersalah yang sangat. Papanya memilih tidak berbicara selama satu tahun. Beruntung ibunya getol menghubungi, namun seringkali tidak digubris karena malu. Seiring waktu, komunikasi mulai membaik, ia minta ibunya mendoakan dan mendukung agar ia mampu bangkit. Kadang ibunya sering mendorong papanya menghubungi, tapi gagasan itu selalu gagal. Papanya sangat kecewa dan hancur, karena sudah banting tulang, menahan panas, dingin, hujan, demi memenuhi biaya hidup dan kuliahnya. Rasa kesal dan sayang bercampuraduk. Gendut pun merasakan itu, “Kenapa dulu aku ambil jurusan itu!” keluhnya sambil menahan tangis dan emosi.

Lain lagi dengan Bebet. Pemuda yang cerdas, ganteng, easy going, profesional muda, dan sedang menempuh stara dua. Pesonanya itu menonjol sejak kuliah strata satu, lewat relasinya dengan beberapa wanita. Sekilas, seperti playboy, gampang gonta-ganti pasangan. Image yang demikian terpelihara hingga kini. Hampir seluruh keluarga besarnya mengetahui kasak-kusuk itu.

Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Grace, yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Mereka saling kenal namun jarang bertemu, hanya pada acara keluarga besar. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Grace ternyata sudah mendoakan Bebet sejak lama. Bebet sendiri pun merasa Grace yang Tuhan sediakan baginya.

Saat muda-mudi ini serius menjalin hubungan ke arah pernikahan. Kedua pihak keluarga merasa keberatan. Karena stigma masa lalu Bebet, dinilai belum dewasa secara pemikiran juga penghasilan. Padahal, Bebet dan Grace saling mencintai, berkomitmen saling terbuka dan membangun. Tantangan itu membuat Bebet putus asa. Karena saat melakukan yang terbaik, keluarga besarnya sering menyerang dengan frontal, mengungkit-ungkit prilaku lamanya, “Emang kamu udah cukup dewasa untuk menikahi Grace?!” ujar seorang kerabat. “Cowo apa yang nganter pacarnya pulang tengah malam ginih!” itu penghakiman lainnya. Padahal, kepergian mereka berdua dalam rangka meminta wejangan dari seseorang yang dianggap orang tua angkat.

Dengan stigma dan perlakuan itu, Bebet merasa kalau kesalahannya dulu sangat menyiksanya kini. Ia tidak bisa menjelaskan dengan gamblang mengapa berniat menikahi wanita yang tangguh itu. Ia hanya merasa Tuhan sedang bicara banyak dengannya.

Akhir dari semuanya, Gendut kini menjadi pengusaha di bidang jasa. Walau tidak besar, yang jelas ia mengalami dan menemukan panggilannya. Mempekerjakan dan menghidupi orang lain. Hubungan dengan orang tua dan adik-adiknya dipulihkan kembali. “Ai Jesus do Tuhan,” katanya waktu itu.

Bebet, mesti terus membuktikan pada kedua keluarga kalau cintanya pada Grace tulus, jujur, dan senantiasa mencoba memberikan yang terbaik. Masa lalu membuatnya bersedia diperbaharui setiap waktu. Lewat keseharian dan tanggung jawabnya akan cinta Tuhan, belajar mendewasakan diri, bersabar, dan utamanya semakin bergaul dengan Allah. “Fokusku sekarang, bukan siapa yang diberi, tapi siapa yang memberi. Soal jadi atau nggak, itu urusan Tuhan.” selanya di warung kopi.

Hidup ada siklusnya. Ketika turun, merasa rendah diri, tidak berarti, putus asa, masa depan suram, bahkan menganggap dunia ini neraka. Kalau naik, ah! Jelas! Bersukacita! Tak henti bersyukur. Kita punya pilihan untuk berharga atau tidak. Bagi Tuhan, kita sangat bernilai. Ia takkan rela mempermalukan atau “mematikan” anda dan saya.

Ai Jesus do Tuhan=Yesulah Tuhan (Kekuatan dan pengharapan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s