Yes We Can!

Semasa muda, Ludwig Nomensen sudah terjun ke tanah Batak demi memberitakan keselamatan. Padahal sebelumnya dua orang penginjil habis disiksa dan kepalanya digantung. Namun peristiwa itu tak sedikitpun mengusik kerinduannya supaya kekristenan dirasakan oleh masyarakat Batak.

Selama melayani disana, ada slogan yang selalu ia ucapkan, “Tole!” (baca; Maju, ikut aku, yuk!). Slogan itu memberi ‘semangat’ bagi dirinya, juga bagi orang lain. Di awal kedatangannya ke Silindung, ia berteman dengan anak-anak. Kemudian ia bersosialisasi dengan masyarakat, walaupun disertai sejuta ancaman pembunuhan. Ia tidak takut! Malahan ia gemar mengobati orang sakit serta mengajar (menulis dan Aritmatika). Sebagai misionaris, jarang terucap ayat-ayat Alkitab dari bibirnya, tetapi tindakannya nyata. Kini Tapanuli dan sekitarnya mayoritas Kristen.

Kerinduan dan semangat Nomensen juga dimiliki Martin Luther King, Jr. Ia berjuang agar dunia melihat bahwa kekristenan itu mampu membangun kehidupan bersama. Diskriminasi hitam-putih diterjangnya tanpa kompromi. Semangatnya berlandaskan cinta Yesus pada dunia. “Jangan kira aku sendiri, Allah bersamaku!” Itulah kobaran semangat Luther.

Bagaimana dengan kita? Lain zaman lain pula tantangannya. Masa Nomensen dan Luther berbeda dengan sekarang. Dulu, kekristenan itu ditawarkan dan mendorong supaya banyak orang memeluknya. Tapi kini tidak cukup sampai disitu. Dalam situasi tertentu, tak perlu lagi sampai “mengkristenkan” orang. Yang dibutuhkan adalah memotivasi agar semua orang bersama-sama memelihara bumi, menjadikannya rumah bersama di masa kini dan depan.

Rasakanlah, dunia semakin panas. Rumah dan gedung ber-AC, pemborosan energi merajalela, para pembalak makin keranjingan membabat hutan. Akibatnya, 72% hutan asli Indonesia punah (sumber: Greenpeace). Inilah potret kekinian. Meski dalam skala global, Kristen mayoritas. Ironisnya, orang Kristen menjadi penyumbang terbesar kerusakan bumi. Nah, apakah kekristenan masih bisa dikatakan memberitakan keselamatan dan membangun kehidupan bersama? Ah, kekristenan itu bisa dipalsukan bila hanya bicara kasih tapi sikapnya menghancurkan bumi dan isinya. Bukan itu yang Yesus mau, Kasih lebih dari soal Alkitab, persekutuan doa, retreat, atau seminar. Tapi harus berdampak memulihkan dan membangun.

Data FAO PBB 2006; penyumbang emisi karbon terbesar bukanlah transportasi (14%), melainkan peternakan (20%). Mulai dari kotoran, buangan sisa pakan ternak, penggunaan lahan, proses pengolahan, sampai tingkat konsumsi. Dari sisi transportasi, sudah jelas adanya kepentingan kapitalis. Mereka menciptakan puluhan produk baru yang membuat kita tergiur. Berapa mobil/motor yang dimiliki tiap keluarga di kota Bandung? Minimal dua per-keluarga. Satu untuk ke kantor, yang lain buat anak ke sekolah. Tak heran dalam lima tahun terakhir Bandung kian macet. Bahkan kota kecil seperti Jambi pun macet.

Dalam film dokumenter An Inconvenient Truth–Al Gore, dipaparkan; jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap bumi dalam 20 tahun ke depan, panas akan semakin tinggi dan mampu menamatkan seisi bumi. Dalam perjanjian Kyoto, langkah besar untuk menyelesaikan Global Warming adalah mengurangi polusi udara, produksi pabrik, hingga energi alternatif. Sebagian negara menolaknya karena merasa rugi, termasuk AS yang dihuni mayoritas Kristen.

“Tuhan mampu mengubah ratapanmu menjadi tarian.” Namun bagaimana kalau penari itu sendiri tak ingin bergoyang dan berdendang? Siapa yang ingin mati dan merasakan kiamat buatannya sendiri? Apa yang mesti kita lakukan? Tuhan membutuhkan kekuatan kita untuk merubah dunia ini agar lebih baik.

Menurut Friedman (Hot, Flat, and Crowded), “Ketika harus berhadapan dengan perubahan iklim, masyarakat manusia telah bertindak seperti katak yang ditaruh dalam panci berisi air di atas kompor, yang ketika temperaturnya dinaikkan sedikit demi sedikit setiap satu jam, sang katak tak pernah berpikir untuk melompat keluar. Yang ia perbuat hanya menyesuaikan diri sampai akhirnya air mendidih dan menjadikannya katak yang matang. Kita sungguh seperti katak itu, panci tempat kita tinggal makin panas, rata, dan penuh sesak, dan yang kita perlukan adalah sebuah rencana bertahan hidup jangka panjang – sebuah tangga untuk keluar dari panci.”

Untuk melakukan perubahan, tidak mesti bernuansa spektakuler. Cukup langkah-langkah kecil, dimulai dari bagaimana kita hidup di dalam keluarga. Mengurangi konsumsi daging (teori Supply dan Demand), menggunakan kendaraan seperlunya, menolak penggunaan plastik, mengurangi nikmatnya AC mobil, dan menghemat listrik. Langkah ini kecil namun berdampak bagi kehidupan mendatang, asalkan kita mau bersama-sama melakukannya. Kita pasti tak ingin lagi melihat dan merasakan gelombang panas, banjir, kemarau panjang, puting beliung, dan teriakan serta tangisan korban akibat kehancuran bumi.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai ancaman ataupun menakut-nakuti. Namun inilah tantangan kekristenan masa kini, hentikanlah sekat fundamentalisme dan liberalisme. Mari rangkul berbagai kalangan untuk melakukan hal yang jauh lebih cerdas dan solutif.

Mari wujudkan keselamatan dan membangun kebaikan bersama. Nomensen dan Luther sudah membuktikan bahwa mereka mampu dan berhasil, karena punya kemauan dan konsistensi. Kita pun bisa! “Tole! Aku ada, jangan gentar!”

”Platform perjuangan kristen adalah bagi semua orang, bagi seluruh bangsa. Ini berangkat dari keyakinan teologis saya, bahwa sesuatu yang baik hanya untuk orang kristen saja, itu tidak kristiani. Something which is good only for christians is un-christian. Yang kristiani adalah kalau itu baik bagi semua orang.” [Eka Darmaputera]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s