Cinta, Nafsu dan Bukti

Setelah Daud mengintip Betsyeba mandi, hatinya galau. Ia ingin segera memiliki wanita cantik itu. Dan akhirnya impian itu terwujud, Betsyeba jatuh dalam rayuan Daud. Tanpa mengingat kalau Uria sedang maju di medan perang.

Salomo tak mau kalah. Seorang wanita cantik yang sedang menunggu kekasihnya pulang dari ladang dirayu dengan segala pesona. Kekayaan dan kehormatan ditawarkan. Namun, mimpi raja yang memiliki 300 selir itu tak terwujud. Wanita itu setia menanti kekasihnya, walaupun hanya seorang petani. Kontras dengan sang raja.

Itulah cinta, siapapun berpotensi menjadi buta karenanya. Tetapi, cinta pula yang mampu menghadirkan sejuta rasa, semua benda seperti bunga, semua suara menjadi nada. Indahnya cinta, dahsyatnya kekuatan cinta, tak ada yang mampu mengalahkannya. Hanya saja cinta menjadi malapetaka ketika ia tidak diperlakukan dengan bijak. Perlu perjuangan dan ada proses didalamnya. Cinta membutuhkan bukti, bukan sekadar nafsu dan rayuan semata. Siapa yang sudah melakukannya maka dialah pemilik cinta.


Jatuh cinta? Aduh…aduh, ia datang bagaikan hujan di siang bolong, tak seorangpun mampu menentukan kapan cinta itu akan datang. Ia bisa berupa pandangan pertama, juga hadir lewat kebersamaan. Siapa yang tak ingin menikmati keindahan cinta. Bandung Bondowoso pernah membuktikannya pada Roro Jonggrang. Ken Arok pun demikian pada Ken Dedes. Wanita mana yang tak ingin diperlakukan bak tuan putri? Laki-laki mana yang tak terpana melihat keanggunan putri salju? Ah! Engkau pasti memimpikannya.

Kembali pada wanita yang dirayu Salomo. Secara materi jelas sekali wanita itu kelihatan bodoh, memilih laki-laki miskin dan tak memiliki kharisma. Dari segi psikologis, ia seakan menaruh harapan dan merasa yakin betul pada pujaan hatinya, hingga ia menanti kekasihnya pulang. Padahal, bisa saja laki-laki itu “parkir” sejenak di persimpangan. Tapi apa mau dikata, lebih baik memilih daripada dipilih, itulah prinsip wanita itu. Sungguh ia petarung sejati, tak perduli seberapa tampan dan hebatnya rayuan Salomo. Kisah itu jelas tertulis di kitab kesukaan para Kristen, Kidung Agung.

Cinta? Tidak berbentuk, berupa perasaan dan sentuhan-sentuhan misteri juga kemungkinan. Saat ia menatapmu dengan tajam, bisa saja itu cinta. Mungkin pula menipu, hanya berusaha untuk membuatmu penasaran. Atau mungkin saat ia mengajakmu nonton film Korea di akhir pekan, disertai senyum manis dan kedipan genit matanya. Semuanya tidak akan mampu ditebak, mesti dibuktikan.

Daud sudah membuktikan dan menikmati cinta (dengan nafsu), sementara Salomo sudah jelas menyatakan cintanya tetapi ditolak wanita itu dengan tegas, “Tidak! Aku tak membutuhkan harta dan kekuasaan, yang aku tunggu hanyalah dia, si tukang cangkul dari bukit.” Terkadang cinta mampu dijawab oleh waktu, namun perlu usaha dan prilaku konkret. Kalau sampai tidak, jangan berharap hasilnya menggembirakan. Waktu pula yang mampu membuat sebagian pecinta menjadi mengerti.

Cinta membutuhkan ijin dari si pemiliknya. Bak tamu yang datang berkunjung, bila si empunya rumah mengisyaratkan masuk, cepatlah masuk, jangan menunda lagi. Kalau pintu ditutup sembari ia mengintip dari jendela, buatlah janji di blitz atau taman kanak-kanak. Kalau pintu benar-benar ditutup, dan kedengarannya seperti menutup bagasi mobil, pergilah, jangan lagi coba merayunya. Tapi semua itu hanya kemungkinan, pecinta sejati tak menyukai kemungkinan, ia lebih tertantang untuk membuktikannya bersama rangkaian kata indah dan sentuhan nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s