Eka Darmaputera dan Visi Sosialnya

Ketika persoalan sosial seolah menumpuk, saya jadi terkenang para suhu saya, Pdt Eka Darmaputera. Ia pendeta dan teolog yang unik. Eka bukan pendeta yang memfokuskan diri pada soal-soal pastoral dan institusional gereja. Meski demikian, tulisannya mengolah topik yang beragam, termasuk soal pastoral dan institusional. Seolah dia tahu semuanya. Ia mengulas persoalan individual sampai soal sosial, dari soal seksual sampai soal lintas agama dan lintas sektoral. Semua dibahasnya. Tajam! Bahasanya seksi. Memikat! Untaian kata-katanya lincah, genit, menggemaskan. Daya bujuknya dahsyat hingga susah mengeritisinya. Di situlah kelebihan Eka, tapi di situ juga kelemahannya.

Ah maaf, mungkin lebih tepat mengakui, di situlah kelemahan kita. Maksudnya kita bisa ‘lupa diri’ sehingga sulit mengeritisinya. Kita jadi malas berpikir. Diam-diam gereja pernah berpikir “Toh ada Eka yang menggumuli semuanya untuk kita!” Kita terlena. Eka bagai jeruk yang kita ‘peras’ habis-habisan. Pengalamannya itu mendorongnya mewanti-wanti penulis, ” Bertty, jaga kesehatanmu! Kamu akan seperti memikul atlas bumi ini di pundakmu sendirian!” Saya mengangguk saja meski tak mengerti maksudnya. Sekarang, saya mulai agak paham!

Sebagai pendeta, Eka bergumul dengan konteks sosialnya. “Kalau kita tidak bergumul dengan konteks sosial, kita akan jadi kerdil,” katanya. Teologi akan menjadi bahan afalan kaku. Gereja akan pun akan membeku dalam temboknya masing-masing! Eka menentang ini! Ia katakan “Teologi seharusnya tidak dilakukan sekali dan untuk selamanya, melainkan di sini dan sekarang ini.” Kesimpulannya, Eka ingin gereja berteologi secara kontekstual! Apa itu? Begini! Ia adalah pendeta yang berteologi dalam konteks membangun hubungan antar umat beragama dan masalah sosial-politik yang dihadapi, gereja dan bangsa ini. Itulah sebabnya, pemikiran dan gagasan Eka selalu orisinil dan menantang, sekaligus relevan dan signifikan karena memang persoalan sosial-politik selalu berubah dan membutuhkan jawaban teologis yang berbeda pula. Oleh sebab itu berteologi tidak pernah selesai! Berteologi membutuhkan pergulatan yang intensif dan kreatif untuk menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan bangsa.

Visi Eka dalam Hubungan antar Umat
Apa visi Eka dalam hubungan antar umat? Eka akan menjawab bahwa ia mencita-citakan suatu model kehidupan antar umat yang ia sebut pluralisme. Mengapa pluralisme? Jawabnya adalah karena Eka Darmaputera tinggal dan hidup di Indonesia yang multikultural dengan 13 ribu pulau, 250 bahasa, dan paling sedikit 30 kelompok etnis. Dengan realitas pluralisme itu, Eka ingin semua komponen bangsa itu bisa menciptakan relasi yang pro-eksistensi kreatif, yaitu semua suku bangsa , denominasi, dan umat beragama saling menghargai eksistensi yang lain. Semuanya bersedia membangun persaudaraan, bersedia bekerjasama dalam membangun kemanusiaan yang satu, setara dan adil. Umat didorong untuk bertanggungjawab dalam kebersamaan timbal balik demi meraih tujuan bersama, yaitu kesejahteraan dan keadilan bagi semua. Visi ini mirip seperti yang diungkapkan Yesaya, ”Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama…” (11:6-9).

Indah sekali bukan? Seolah merevisi tujuan agama warisan jaman kolonialisme yang menitikberatkan peningkatan kuantitas, Eka menegaskan bahwa tujuan agama bukan untuk dan demi kepentingan dirinya atau demi memperbanyak anggota kelompoknya saja. ‘Something which is good only for Christians is un-Christian,’ tegasnya. Agama, terutama gereja, harus menunjukkan bahwa keberadaaanya bermanfaat bagi seluruh komponen masyarakat. Gereja harus berani menceburkan diri di tengah masyarakat dan mengeksplorasi seluruh kapasitasnya demi kepentingan kemanusiaan. Kerjasama antar agama adalah suatu keharusan guna mewujudkan keadilan, perdamaian dan kesejahteraan bagi semua.

Eka mencurahkan seluruh energinya untuk mewujudkan cita-citanya itu. Dalam bahasa iman, Eka seperti diutus Allah untuk bergelut dengan persoalan kemajemukan. Dalam konteks inilah Eka terpanggil menggumuli Pancasila sebagai basis kultur dan ideologi bangsa yang plural ini. Eka paham bahwa di dalam keanekaragaman agama tersimpan sekaligus potensi perdamaian dan konflik. Agama, kata Eka, bersifat ambivalen: bisa menjadi berkat, bisa menjadi bencana. Oleh karena itu, pluralitas agama harus dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Syarat terpenting untuk itu adalah: setiap kelompok agama harus menempatkan dirinya sebagai unsur komplementer, sebagai pelengkap terhadap yang lain. Dalam bahasa Alkitab, setiap agama adalah anggota tubuh yang saling melengkapi dan saling memperkaya. Kerja keras Eka dalam menggumuli masalah pluralisme ini bisa dipahami mengingat akan hancurlah bila bangsa ini gagal mengelola pluralisme.

Ada dua bahaya. Pertama, bangsa ini akan terperangkap dalam dominasi mayoritas atau tirani minoritas. Kedua, bangsa ini akan terjebak pada otoritarianisme, baik sekuler atau yang dijustifikasi oleh agama, atau sebaliknya hancur berantakan menjadi serpihan kecil dengan korban jiwa yang sangat banyak. Bangsa Eropa pernah mengalami situasi ini pada abad ke-17 dengan jumlah korban hampir setengah populasinya. Uni Soviet dan Yugoslavia pecah berkeping-keping karena gagal mengelola pluralisme. Perjuangan Eka adalah untuk menghindari bangsa ini dari bahaya perpecahan yang menimbulkan malapetaka bagi kemanusiaan.

Meski Eka yakin bahwa agama adalah faktor penting dalam menciptakan keadilan dan perdamaian, Eka tidak terjebak pada utopianisme. Ia realitis! Eka tahu, agama bisa memberikan kontribusi positif bagi pluralisme dan kemajuan bangsa. Tetapi, agama bisa juga menjadi penyebab menebalnya sektarianisme yang merapuhkan kekuatan bangsa. Oleh karena itu, agama-agama, terutama gereja, harus mendorong umat membuka diri, bergaul, menciptakan persahabatan dan persaudaraan dengan siapa pun. Jadilah gereja yang kehadirannya relevan dan signifikan bagi masyarakat. Hanya itu satu-satunya cara menjadi berkat bagi semua! Semoga!

Pdt. Albertus Patty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s