Jesus, Nothing is Impossible for You?

Pagi itu Daniel membaca catatan kecil Shinta di salah satu situs pertemanan:

“Aku merasa sangat bahagia, karena banyak bahkan sangat banyak yang sayang dan perhatian sama aku. Aku makin tahu berapa orang yang perhatian sama aku. Dan ternyata..SANGAT BANYAK! Terima kasih Tuhan, Engkau telah kirimkan orang-orang itu untuk aku. Terima kasih juga untuk semua orang yang udah perhatian sama aku ya. GBU all…”

Seketika Daniel terdiam, karena ia tahu betul keadaan Shinta. Seorang lumpuh, dengan keterbatasan kursi roda. Sejak lama ia menjalani hidup yang demikian, mengapa ia tidak berontak pada Tuhan? Adilkah ia dilahirkan cacat? Kalau Tuhan mau, dengan sedikit mujizat Shinta akan sembuh, mampu berjalan kesana-kemari. Tetapi itu hanya angan-angan, nyatanya Tuhan tidak memberikan kesembuhan, semua hal itu melingkupi pikiran Daniel, seakan menentang dan merasa tidak puas atas “perlakuan” Tuhan.

Mungkin kisah diatas sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di mana drama “menentang Tuhan” terjadi saat kita tidak mampu menerima kenyataan hidup yang menimpa diri, keluarga dan sahabat. Sulit bersyukur disaat dokter telah memvonis sebagai penderita kanker otak, gagal ginjal dan yang lainnya, apalagi yang terlahir cacat. Di sisi lain, praktik-praktik penyembuhan terkadang membawa harapan. KKR penyembuhan, menurut sebagian orang itu nyata, tapi bagi yang lain tidak.

Yesus, Tuhan bagi orang kristen dan seharusnya siapa yang percaya bisa disembuhkan. Alkitab mencatat beberapakali mujizat terjadi, hanya dengan menyentuh jubah Yesus, seorang bisa sembuh. Pada masa kini kenyataannya berbeda, banyak orang kristen yang terlantar, tergeletak tanpa semangat di sel-sel rumah sakit. Bahkan ada pula yang kehabisan biaya, hingga terdiam menunggu ajal di rumah, mendadak religius supaya masuk sorga. Alih-alih berharap kesembuhan, kelihatannya Yesus semakin tidak memperdulikan, orang lain bisa sembuh tapi aku tidak! Mengapa? Sungguhkah Ia Tuhan?

Tidak demikian bagi Shinta, dengan keadaan cacat sejak lahir ia tetap percaya dan mengucap syukur pada Yesus. Seorang cacat yang melebihi kemampuan manusia lainnya, ia mengerti kasih Yesus itu nyata lewat perhatian keluarga, sahabat dan guru-guru sekolah minggunya. Pengelihatannya melebihi mata Elang, mampu melihat kasih Yesus yang lembut dan mesra itu.

Seringkali “kesembuhan” harus berupa bentuk nyata, yang lumpuh berjalan, buta melihat, kanker hilang seketika dan sebagainya. Bagi Shinta, kesembuhan tidak mesti berupa bentuk nyata, dengan kondisinya saat ini ia merasa sembuh oleh kasih Yesus yang hadir lewat keseharian. Ia tidak lagi memperdulikan sampai kapan harus berteman kursi roda, yang ia impikan supaya dengan kursi roda itu orang lain merasakan keindahan kasih Yesus.

Jesus, Nothing is impossible for You? Semua bergantung pada anda dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s