Senasib Anak Pertama

“Bang, doain yah! Supaya aku jadi kakak yang baik dan jadi teladan buat adik-adikku…” kata-kata itu mengakhiri obrolan saya dengan seorang gadis manis di salah satu layanan chatting beberapa minggu lalu. Setelah itu saya turn off laptop. Sebelum tidur, saya mendoakan keluarga juga teman saya itu. Saat berbaring di kasur pikirin mulai melayang, apakah keberhasilan keluarga ditentukan anak pertama? Memangnya anak kedua atau ketiga akan gagal kalau si sulung tidak mampu jadi teladan? Apa yang sebenarnya dirasakan saya dan mereka yang terlahir sebagai anak pertama?

Saya dibiasakan sendiri sejak mendaftar ke sekolah menengah pertama hingga sekarang bekerja. Orang tua saya meyakini kalau anak pertama mandiri dan berhasil, adik-adiknya akan mengikuti. Keistimewaan lainnya, saya berkuasa, bisa memerintah adik-adik. Kejujurannya, saya pernah gagal menjadi abang bagi mereka berempat. Saya tidak tahu apa yang anda alami sebagai anak paling besar.

Anak pertama dianggap ujung tombak, memikul masa depan keluarga. Memiliki tanggung jawab yang tidak sama dengan saudaranya yang lain. Mulai dari track record pergaulannya sehari-hari, pendidikan, asmara, dan masa depannya (pekerjaan). Itu semua mempengaruhi pola apa yang akan menurun pada adik-adiknya. Kalau abangnya lama kuliah, bisa jadi adiknya pun demikian. “Ah! Abang, kan, kuliahnya delapan tahun!” Sepertinya pembenaran, sayangnya itu fakta. “Yah! Kan, aku jadi pemarah karena kakak juga suka marah-marah!” Ini sedang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada anak sulung yang ingin mendengar bahkan bermimpi mendidik adik kesayangannya menjadi gelandangan.

Kita semua punya tantangan keseharian, mengalami berbagai pembentukan. Mulai dari yang tidak berkenan sampai hal baik-baik. Kita juga menyadari posisi sebagai anak pertama waktu memutuskan kuliah di kota besar, bergaul, memilih kekasih, juga pekerjaan. Di dalam semua proses dan pilihan itu kita mengalami up and down. “Lu kate gue Tuhan bisa lurus-lurus ajeh, huh!” Saya suka bercerita apa yang jadi tantangan terkini kepada keluarga. Mereka merekamnya dan benar-benar mengasihi saya. Tentu kita gembira waktu mereka mengatakan, “Aku dukung dan doakan abang cepat lulus, bekerja, trus menikah!”

Pepatah China, “Jika anda ingin anak anda memiliki kehidupan yang damai, biarkan mereka menderita sedikit kelaparan dan kedinginan”. Tidak sedikit orang tua yang mendidik anaknya, terutama si sulung dengan keras. Tujuannya jelaslah baik, kelak si anak mampu berdiri menghadapi persoalan hidupnya. Ada pula yang terkesan memanjakan, tidak ingin anaknya mengalami penderitaan hidup. Dampaknya beragam, tujuannya demi si buah hati.

Ada pula prasangka lain, kalau keluarganya broken home, anaknya kemungkinan begitu. Ini tidak berlaku mutlak. Beberapa sahabat saya, ayah dan ibunya tidak akur, mereka tetap mampu menjadi jawaban bagi adik-adiknya. Ada yang frustrasi lalu mencari pelarian-pelarian, berujung pada kekecewaan keluarga.

Bersama sunyinya malam, kita pernah menggelisahkan sisa-sisa mata kuliah, menangis karena mengecewakan orang tua, menyesal sehabis memarahi adik, menahan rindu demi cita-cita, mendoakan ayah, ibu, juga adik-adik agar semakin bersemangat menghadapi pendewasaan hidup. Kita juga pernah terjebak sebagai tertuduh, kakak yang berantakan, abang yang menyebalkan serta penyebab berbagai persoalan keluarga.

Seorang kakak akan tertawa haru ketika menyaksikan pesta pernikahan adiknya. Seorang abang tidak akan sungkan melompat-lompat di kursi undangan karena adiknya wisuda. Seorang adik masih setia menanti paket kiriman kado ulang tahun dari abangnya. Ia pun turut berdoa dan bersedih ketika mengetahui kakaknya ditinggalkan kekasih. Anak sulung, anak tengah, ataupun anak bungsu memiliki kepedulian yang saling menguatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s