Menangisi dan Menikmati Pilihan

Apa rasanya kalau anda dan saya mesti menjalani pilihan yang bukan keinginan hati demi membahagiakan keluarga, sahabat, atau orang lain? Apa jadinya ketika anda tahu apa yang diinginkan tidak akan tercapai, padahal sudah mempertaruhkan segalanya demi impian itu? Ah! Terlalu berat! Hidup tidak indah ketika kita gagal dalam pencapaian, apalagi kalau sampai menikmati apa yang tidak disukai. Untuk apa Tuhan mengijinkan itu terjadi?

Akhir pekan lalu saya dikejutkan cerita seorang teman. Sudah lima tahun ia kuliah dan sekarang sedang mengerjakan skripsi. Dua semester berjalan, tugas ilmiahnya itu tak kunjung selesai. Dua kali pula dosen pembimbing memvonisnya mesti ganti topik. Sang pengajar mengganggap isu yang dibahas terlalu umum. Padahal pemuda ini sudah berusaha sekuat tenaga bahkan sengaja mengurangi kegiatan-kegiatan ekstrakurikulernya, demi lulus cepat!

Saya sempat bercerita semasa kuliah dulu. Bertahun-tahun berusaha menyukai jurusan yang bukan pilihan hati. Uang habis, hati ini perih! Semangat lebih banyak padam, penghakiman silih berganti! Kenapa dulu mengambil jurusan itu hanya demi status mahasiswa! Ketakutannya, kerja apa nanti dengan jurusan yang tidak disukai? Saya nggak punya keahlian mumpuni karena di kelas hanya melamun, tidur, dan lebih banyak bolos. Kalau mengingat masa-masa itu sakit sekali! Curhat saya padanya.

Tiba-tiba, ia tertunduk sambil menutup kedua matanya. Terdengar tangisan kecil yang lama-kelamaan menguasai ruangan rapat. Melihat wajah dan mendengar tangisannya itu saya terdiam, larut dalam ingatan masa lalu. “Sakit! Sakit! Sakit, bang!” Tuturnya sambil terisak-isak.

Ia pun mengumbar masa-masa sulitnya. Mesti menahan perasaan sembari menghadapi berbagai tekanan dari keluarga, kampus, pergaulan sehari-hari, dan sebagainya. Kalau ia menolak keinginan ayah dan ibunya waktu penerimaan mahasiswa baru, itu menjadi teladan yang tidak baik bagi adik-adiknya. Selama ini seolah-olah tidak ada masalah dengan jurusan kuliah yang ditekuni. Semua itu demi keharmonisan keluarga dan tanggung jawabnya sebagai abang yang baik. Bertahun-tahun ia meredam kepedihannya itu.

Dia bisa memilih berhenti kuliah dan tidak mengerjakan skripsinya, beruntung tidak dilakukannya. Biaya dan waktu sudah terbuang, pengorbanan makin menumpuk! Semua itu dia ceritakan bersama air mata yang akan membawanya menjadi anak yang menginspirasi kedua orang tuanya kelak tidak berlaku demikian terhadap saudara-saudaranya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia? Tetapi bukan berarti orang tua sepenuhnya berkuasa menentukan jurusan kuliah, profesi, pasangan hidup, dan sebagainya.

Sebenarnya saya ingin sekali menangis mendengar semua ceritanya itu. Tetapi air mata saya tertahan karena mengingat dan mengalami secara nyata apa yang sudah Tuhan lakukan dalam kehidupan saya. Dia membentuk saya sedemikian rupa, tidak kelaparan dan kalah bersaing dengan orang lain karena salah jurusan.

“Dalam hidup kita punya perencanaan. Kalau rencana itu tidak sesuai dan kita sedang menjalani pilihan yang tidak kita sukai, di dalam itu Tuhan sedang membentuk kita menjadi berkat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.” (JS).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s