Menjaga dan Memajukan Indonesia dari Dapur

Kemajuan zaman telah memaksa manusia bersaing dan terbiasa hidup sendiri. Siapa yang cepat dan cerdas melihat peluang menguntungkan, dialah pemenangnya! Itulah prinsip yang sedang digemari saat ini. Apa jadinya kalau budaya baru itu terus berkembang? Bukankah menolong atau memedulikan orang lain merupakan budaya Indonesia, yang membuat bangsa lain kagum?

Ibu saya adalah wanita yang punya jadwal padat. Maklum saja, ia seringkali disibukkan dengan bisnis jualan bunga dan dekorasi pernikahan yang sudah ditekuninya 5 tahun belakangan. Temannya banyak serta aktif mengikuti arisan ini dan itu, ia suka bersosialiasi! Tentu, di dalam proses itu, ada peristiwa tolong-menolong antara mereka. Kadang ibu saya meminta bantuan rekannya supaya dibuatkan kue. Begitu pula sebaliknya, dan beragam kegiatan lainnya, yang tentu membuat saya bangga serta kagum atas pelayanannya sebagai ibu sekaligus warga Indonesia.

Senin (26/12/2011) lalu, sekitar jam 5 subuh ibu sudah bangun dan beraktivitas. Suara-suara peralatan dapur, dari gilingan sampai kompor gas mulai mengganggu tidur saya. Kira-kira pukul 6 saya bangun dan keluar kamar. Ternyata ibu sedang membuat bumbu masakan bersama seorang temannya. Sejam setelah itu koleganya yang lain datang membantu.

Waktu saya sarapan, mereka masih asyik mengiris bawang, memasak daging, membersihkan ikan, dan yang lainnya. “Mak, masak buat apa?” Tanya saya sambil mengunyah. “Ini, mamak bantuin masak buat tulang. Anaknya kan di baptis hari ini,” katanya lembut. “Oh gitu yaa…” Sahut saya sambil mencoba menahan nafsu untuk menghabiskan semua makanan yang ada di meja.

Sekitar pukul 11 siang masakannya sudah beres. Dua teman ibu pun pulang ke rumah masing-masing. Saat itu saya, bapak, dan kedua adik saya ngobrol di ruang tamu. Dalam percakapan kami, adik saya yang nomor tiga sempat nyeletuk, “Mamak itu kenapalah mesti bantuin masak. Emang nggak bisa masak di rumah nantulang itu?” Katanya protes. “Kan dapur nantulang itu kecil, lagi pula mereka sedang di gereja, dan ini kan namanya membantu orang lain,” jawab bapak. “Iya sih, tapi kan jadi repot,” balasnya. “Inilah namanya bersosialisasi. Kita kan mahluk sosial, saling menolong,” ujar bapak.

Jam 1, bapak dan ibu bersiap-siap menuju rumah tulang. Adik saya yang nomor tiga itu diminta memindahkan makanan ke mobil, saya pun ikut membantunya. Sore jam 5 kedua orang tua saya pulang, “Bang, tolong keluarin yang di bagasi. Ada dikasih nantulang itu lho..” Pinta ibu saya. “Ok mak, siap!” Balas saya. Setelah itu saya pindahkan makanan yang ada di mobil ke meja makan. Sekitar jam 6 saya mandi lalu menyantap makanan yang ada di meja, disusul adik saya itu.

Setelah makan saya berpikir ‘menjaga dan memajukan Indonesia bisa dari dapur’. Apa yang ibu saya lakukan adalah bagian dari menjaga budaya bangsa ini. Sebagai warga negara saling membantu, bergotong-royong untuk kebaikan bersama. Ibu saya tidak pernah kuliah seperti anda dan saya, ia mantan gadis desa yang tidak lulus SMP. Tetapi ia punya ketulusan hati, bertindak nyata, mengajari saya dan adik-adik bagaimana berkarya untuk Indonesia dengan cara yang sederhana namun konkret.

Saya masih ingat betul bagaimana senangnya ibu sepulang dari acara syukuran baptis itu. Ia tersenyum, seolah ingin berkata, “Inilah yang bisa mamak kasih untuk membantu saudara kita…” Saya membayangkan kehidupan sosial di kota besar. Saya percaya masih ada orang-orang yang peduli terhadap sesama. Apa pun bentuknya, tentu mesti kita lestarikan dan berikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Kita tidak boleh berhenti menjaga serta memajukan bangsa ini hanya karena hadirnya budaya baru yang kadang membuat kita melupakan siapa dan apa panggilan kita sebagai makhluk sosial.

Saya suka sekali berpikir memajukan bangsa ini dengan aksi-aksi besar. Kenyataannya, ibu mengingatkan, saya dapat berkarya bagi bangsa ini dari hal-hal kecil. Saya terlalu kecil di hadapan ibu, terlebih lagi di mata Tuhan.

2 thoughts on “Menjaga dan Memajukan Indonesia dari Dapur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s