Nonton Sherlock Holmes 2 Bersamamu

Kejahatan dan ketidakadilan tampaknya semakin merajalela di negeri ini. Siapa yang tidak muak melihat korupsi yang sistematis? Sampai kapan kita mesti menyaksikan perampasan hak rakyat oleh mereka yang berkuasa? Kemana para penegak hukum yang mahir menganalisis dan mampu menghentikan tindak-tindak kejahatan? Siapa lagi yang diharapkan?

Senin (9/1/12) malam, saya menonton film Sherlock Holmes 2. Dikisahkan detektif Sherlock Holmes yang ahli menganalisis serta mencegah pola-pola kriminal bekerjasama dengan Dr. Watson menghentikan kejahatan komplotan Prof. Moriarty yang tak segan-segan membunuh siapa pun demi ambisinya. Sherlock juga dibantu saudara laki-lakinya Mycroff dan seorang wanita gipsi, Madam Sinza Hero.

Sherlock dan Moriarty menjadi tokoh yang sangat dominan dalam film ini. Setiap kali bertemu berdialog secara implisit. Keduanya mengadu kecerdasan dan kekuatan tim di meja catur. Siapa yang kalah akan diberi gambar atau disebut ikan.

Apa yang tersaji dalam film “A Game of Shadow” itu persis sedang terjadi di Indonesia. Skala nasional; Para politisi semakin hapal dengan pola korupsi, tetapi tetap saja meneruskannya demi bekal di surga. Para penegak hukum tak mau kalah. Kesalahan memberi hukuman menjadi hal yang lumrah. Sepertinya mereka tidak lagi mampu menetapkan kepada siapa dan kapan mesti memberikan sanksi. Hukum di negara ini lebih tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Selain itu, oknum pemerintah semakin gemar menindas rakyat dengan alasan demi kesejahteraan daerah. Memuluskan bahkan terang-terangan melegalkan berbagai eksploitasi.

Ranah anda dan saya; Kita semakin suka menelatarkan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Padahal kita tahu, ketika bantuan tidak secepatnya diberikan orang lain akan menderita. Bukankah itu bagian dari kejahatan? Selain itu, kita semakin senang menjadi pemenang tanpa berusaha membangun orang-orang yang merasa kalah dalam persaingan. Pada lain kesempatan, melakukan pelanggaran kecil (terobos lampu merah, telat ngantor dan kuliah, bohong ini dan itu) menjadi kenikmatan pula. Kita menjadi lebih kejam dari Moriarty serta-merta membunuh niatan mulia Sherlock Holmes yang terkadung dalam diri kita secara cepat dan pasti.

Telisik lebih dalam, dalam diri para pelaku kejahatan itu, termasuk anda dan saya tertanam nurani yang mendambakan terwujudnya keadilan dan perdamaian. Baik itu dalam lingkup kecil maupun besar. Tinggal siapa yang bersedia memulai menghentikan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Saya pernah ditegur, “Heh! Katanya lu nasionalis! Nggak boleh belok kanan!” kata seorang sahabat. Sejak kejadian itu saya tidak sering lewat jalan itu lagi. Kalau lewat daerah itu godaan akan muncul. Dengan begitu saya sudah mencegah kejahatan seperti yang Holmes lakukan.

Saya berusaha merubah diri sendiri. Dengan cara itu sudah pasti ada perubahan bagi negara ini, ketimbang menunggu semua orang sama-sama berobat (bertobat). Manusia lebih suka hal pasti ketimbang harapan palsu. Ini bukan soal pesimistis namun tentang kesadaran perubahan nasional dimulai dari individu.

Film Sherlock Holmes 2 yang saya tonton dihadiri banyak orang. Bahkan sejak akhir 2011 sampai hari ini masih banyak yang mengantri di bioskop-bioskop. Apa arti dari keramaian itu? Film tersebut memang sangat menghibur dengan efek visual yang aduhai. Dibalik semua itu, nurani sedang bicara sekaligus menyadarkan kembali kerinduan kita agar dihentikannya perilaku-perilaku kejahatan, kekerasan, kecurangan, diskriminasi, dan sebagainya. Kita terlalu lama menantikan hadirnya pelaku perdamaian dan keadilan. Kita bosan berlaku serta menyaksikan kejahatan.

Sampai kapan anda dan saya hanya akan menjadi penonton? Aku berharap tidak menyaksikan Sherlock Holmes 3 denganmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s