Perjumpaan yang Mengubahkan

Minggu kedua, Februari 2012 yang lalu, saya pergi ke salah satu kompleks pertokoan elektronik di kota Bandung. Waktu hendak memasuki areal gedung, saya menerima tiket parkir lalu melihat ke kiri dan kanan mencari ruang kosong. Saat menemukan tempat, saya pun memajukan mobil. Sewaktu mendekat, tiba-tiba seorang berbaju preman datang, “Nggak boleh parkir disini, mas! Sini ikut saya aja!” Katanya.

Saat hendak mengikutinya, seorang berbaju seragam parkir berteriak, “Eh, diam kamu! Mas, parkir disini aja!” Perintahnya. “Lho, katanya nggak boleh disini, pak,” balas saya. “Siapa yang bilang mas?” Timpalnya. “Mas yang itu, pak,” kata saya. “Nggak mas, sini aja parkirnya..” Lalu saya memaju dan memundurkan mobil supaya ruang kosong tersebut terpakai optimal. Lelaki yang berlagak preman itu masih mencoba memandu saya. Karena merasa tugasnya, pria berseragam itu mengatakan, “Eh, sana-sana. Ini tugas saya!” Katanya dengan tegas. Akhirnya preman itu pun pergi dan saya bisa parkir.

Setelah mencari barang yang diperlukan di pertokoan itu, sambil berjalan menuju mobil, saya bertanya pada teman saya, “Wah, ntar parkir bayar lagi nggak yah?” Teman saya itu hanya senyum saja. Waktu hendak membuka pintu mobil, si tukang parkir mendekat. ”Pak, ini parkirnya bayar lagi nggak?” tanya saya. “Nggak dong mas, silahkan masuk, saya bantu memandu untuk keluar,” katanya. Lalu saya pun mundur dan mengucapkan terima kasih.

Dalam perjalanan ke kantor, saya berpikir, “Ternyata, di tengah-tengah negara yang sedang dipenuhi orang-orang pesimis, preman dan penipu, masih ada orang yang jujur dan berani melawan ketidakberesan.”

Masih Februari, di minggu ketiga. Dikarenakan kesalahan pencatatan keterangan dokumen perusahaan, saya mesti berangkat ke Baleendah. Selain lumayan jauh, yang lebih mengesalkan, ternyata kesalahan pencatatan tersebut terjadi tiga tahun yang lalu. Dalam hati, “Bakalan ribet nih urusannya, apalagi sama notaris!” Apa mau dikata, ini tugas, saya mesti pergi.

Sebelum berangkat saya berdoa, “Tuhan, semogalah urusan administrasi ini berjalan dengan lancar dan tanpa kecurangan.” Saya berdoa seperti itu karena sering mengalami keruwetan administrasi, dipaksa mengeluarkan biaya tambahan supaya urusan lancar.

Di tengah perjalanan saya menghubungi notaris tersebut, “Om, saya sudah di gedung A, di sebelah mana persisnya?” Tanya saya. “Oh, langsung belok kanan, deket ruko-ruko itu,” jawabnya. Lalu saya mengikuti petunjuknya, namun tidak menemukan alamat tersebut. Akhirnya, saya memutuskan kembali ke gedung A. Dalam perjalanan, tiba-tiba seseorang bergaya preman menghampiri, “Mas, nyari notaris yah?” tanyanya. “Iya, pak, betul,” jawab saya. “Oh, mari sini, saya notarisnya,” ajaknya. Lalu saya pun memarkirkan motor di depan kantornya.

“Silahkan masuk dek,” ajaknya. Saya pun duduk dan jelaskan adanya kekeliruan pencatatan dalam dokumen perusahaan kami. “Oh, sebentar saya cek filenya, dek,” katanya. Setelah memeriksa, beliau mengatakan, “Oh, ini saya ganti sekarang aja yah. Kalau nunggu besok kasihan kamu jauh-jauh kesini,” katanya. “Ok, om!” Jawab saya. Kemudian beliau beranjak menuju meja komputer.

Sewaktu ia sedang mempersiapkan dokumen perbaikan, saya memandangi dinding-dinding ruangannya. Ada gambar Bung Karno dan Bung Hatta. “Om, seneng sama Soekarno dan Hatta yah?” Tanya saya. “Oh iya, mereka itu negarawan. Nggak seperti kebanyakan pemimpin sekarang, tidak tegas dan cuek sama rakyat,” jawabnya. “Hmm, gitu yah? Om, punya mimpi untuk Indonesia?” Tanya saya. “Iya dong, kita pasti ingin Indonesia maju dan sejahtera,” balasnya. “Kalau gitu, selama ini apa yang sudah om lakukan?” Tanya saya. “Selama ini saya bekerja membantu orang-orang yang membutuhkan jasa notaris. Tidak memungut lebih, sesuai peraturan saja,” jawabnya.

Tak lama, dokumen perbaikan pun selesai, beliau menjelaskan beberapa perubahan dan kekuatan hukumnya. Nah, sewaktu beliau sedang menempelkan materai, “Om, ada biaya tambahan nggak? Atau materainya saya ganti yah?” Tanya saya. “Oh, nggak usah. Ini kan dulu saya yang salah. Santai aja,” balasnya. “Beneran, om?” Tanya saya. “Iya, ayoo minum kopinya, kamu kan jalannya jauh,” balasnya. “Ok!” jawab saya.

Setelah menyeruput kopi saya pun pamit. Selama perjalanan ke kantor, airmata saya mengalir tak hentinya. Saya dipertemukan Tuhan dengan notaris yang jujur, baik, dan punya hati untuk bangsa ini. Perjumpaan itu semakin menyakinkan saya, bahwa Indonesia masih punya harapan dan kita masih akan bertemu pribadi-pribadi yang jujur, baik, dan berani menyatakan keadilan serta kepedulian bagi bangsa ini.

2 thoughts on “Perjumpaan yang Mengubahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s