Pengakuan Anak Pembohong dan Ibu Terbaik

Senin (12/03) yang lalu, saya menonton film Safe House bersama seorang wanita. Film tersebut mengisahkan seseorang yang sebelumnya tidak mahir berbuat jahat menjadi piawai karena sudah terbiasa. Sepulang nonton saya diingatkan banyak hal, termasuk bagian masa lalu saya. Ini pengakuan lanjutan saya untuk Anda semua.

Semasa SMP saya anak yang polos, merokok pun takut! Padahal teman-teman saya waktu itu sudah mengkonsumsi ganja. Sejak SMA, saya memberanikan diri merokok. Nikmat! Merasa diri keren! Gaul! Macho!  Hingga saya menjadi penggemar ganja. Uang jajan saya tentu tidak cukup untuk membeli ganja. Karena mama saya hanya memberikan uang jajan dan solar mobil Chevrolet yang setia menemani saya.

Karena suka, saya berpikir apa pun caranya, saya mesti bisa membeli barang haram tersebut. Akhirnya, saya mulai berbohong. Beli bukulah, les inilah, les itulah, dan sebagainya. Kebiasaan itu berlanjut sampai saya kuliah di Bandung. Sebagian besar teman-teman saya menyukai ganja, minuman keras, juga obat-obatan. Ada pula yang gemar judi bola. Semua itu akhirnya saya lakonin. Karena sudah terbiasa, berbohong jadi keahlian saya.

Setiap bulan saya menghabiskan uang kurang lebih 3 juta. Saya tidak tahu bagaimana mama dan papa saya mencari uang. Setiap kali saya minta, uang selalu tersedia. Padahal, adik-adik saya pun perlu dibiayai. Saya tidak merasa orang tua saya keberatan mengirimkan uang ketika saya memintanya. Karena mereka selalu berpikir, “Anakku di rantau, jangan sampai dia kelaparan dan sengsara.” Itulah alasan kenapa setiap saya meminta diberi. Kalau saya telepon pagi, siangnya sudah dikirim. Setiap bulan mama saya mesti bolak-balik ke bank.

Sampai akhirnya, memasuki tingkat tiga saya kuliah (dengan status sisa 60 sks dan cuti). Di tengah-tengah saya semakin keranjingan berbohong, ternyata mama saya tidak kuat lagi. Beliau mengirimkan surat tulisan tangannya sendiri:

Jambi, 13-8-2003
Buat: Anakku berdua di Bandung

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan karena kita diberi kesehatan, amin.
Basar dan Kiki di Bandung, ini sebelum membaca surat ini kamu berdua jangan marah sama mama, karena inilah yang ada dipikiran dan terpendam di hati mama selama kamu di Bandung ini.

Mama minta tolong sama kamu berdua. Kalau menurut perhitungan mama selama ini, tolonglah dulu kamu perhitungkan, memang kamulah yang tahu berapa aja yang mama kirim uang sama kamu perbulan dan tidak pernah kamu mengucapkan yang sebenarnya dan itulah yang terpendam di hati mama dan tidak bisa mama ngomongkan sama bapak…

Mama minta tolong jangan marah sama mama, ini untuk kebaikan kamu dan untuk masa depan kamu. Sekian surat mama ini.

Surat itu menandakan kalau mama saya sudah tidak kuat lagi jika terus-terusan mengirimkan uang di luar batas normal. Ia tahu kalau saya selalu berbohong, tetapi beliau selalu mengirim karena takut kalau terjadi apa-apa dengan kami berdua di Bandung. Adik saya ikut-ikutan boros karena teladan saya.

Sejak membaca surat itu, pelan-pelan saya sadar dan mulai menata kehidupan yang baru. Saya belajar sekeras-kerasnya untuk tidak berbohong, mengakuinya pada Tuhan dan ibu, mengurangi serta menjauhi pergaulan yang sarat narkoba dan hanya berdasarkan kepentingan. Jatuh bangun saya memperbaharui gaya hidup serta menyelesaikan studi. Selama itu, Tuhan tidak diam! Ia mempertemukan saya dengan pribadi-pribadi yang baik, peduli, dan tulus membantu. Sehingga saya bisa bangkit dan menyadari betapa berharganya hidup ini.

Sampai hari ini surat itu ada di dompet saya. Kalau Anda ingin membacanya secara utuh, saya tidak akan keberatan membagikannya. Saya bersyukur punya ibu seperti beliau. Sebandel-bandelnya saya, beliau mengampuni. Waktu saya wisuda ia berkata, “Bang, nggak usah merasa bersalah lagi yah. Mama sudah lupakan soal masa lalumu itu. Semangat baru yah, nak!” Mendengar itu, air mata saya keluar lalu memeluk beliau.

Setelah lulus, saya mencari kerja dan semakin dekat dengan ibu. Setiap kali ada persoalan, termasuk tentang wanita, saya ceritakan lengkap padanya. Sejak bekerja saya sering mengirimkan sebagian gaji buat ibu walaupun tidak diminta.

Saya berharap, kalau Anda sedang dalam keadaan suka berbohong, merasa diri tidak berharga, kuliah tidak serius, atau sedang dalam pergaulan yang kurang berkenan. Sejak hari ini, mari kita tinggalkan itu. Tentu dengan lebih dulu jujur pada Tuhan lalu keluarga dan jalannya tidak gampang!

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan. Tiga tahun belakangan, dalam acara-acara keluarga besar kami, saya selalu menjadi pendoa dan dimintai saran tentang ini dan itu. Saya mengerti, Anda juga berharap bisa menjadi pribadi yang diakui, dibanggakan, dan menjadi berkat dalam keluarga. Karena itu, mari kita mulai dari hari ini. Berhenti coba-coba berbuat jahat sebelum itu menjadi profesi.

*Bangkit atau jatuh itu pilihan hidup. Terima kasih Tuhan!

2 thoughts on “Pengakuan Anak Pembohong dan Ibu Terbaik

    • Iya ‘Sor. Eh lu mule aktif ngeblog dong. Gue tunggu yah. Kalo nggak, traktir gue. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s