Mencari Pemimpin Altruistik

Maraknya demonstrasi mahasiswa dan buruh yang memprotes rencana pemerintah untuk menaikkan BBM menunjukkan bahwa para pemimpin bangsa ini sedang diuji hati nurani dan kepemimpinannya. Pihak yang menguji mereka bukan para mahasiswa, buruh, atau rakyat.

Mereka sedang diuji oleh berondongan janji yang pernah mereka ucapkan di depan rakyat pada masa kampanye dulu. Demonstrasi para mahasiswa, buruh, dan rakyat jelata hanya mengingatkan kembali kata-kata manis yang pernah para pemimpin bangsa ini ucapkan.

Anda tentu masih ingat, semasa kampanye, figur-figur pemimpin bangsa dan calon-calon wakil rakyat menebar ribuan janji bahwa mereka akan membawa bangsa ini menuju masa depan lebih baik, yang lebih ceria.

Gemah ripah loh jinawi! Ketika itu sebagian menonjolkan kemampuan mereka untuk menuntun bangsa ini keluar dari bayang-bayang gelap perjalanan bangsa. Mereka mengampanyekan diri sebagai penyelamat bangsa, mampu membuat rakyat lebih sejahtera, dan membuat kondisi lebih aman. Rakyat pun terbuai.

Memang, janji dan komitmen itu menyegarkan dan menarik simpati. Para pemimpin melontarkan benih-benih optimisme bahwa mereka mampu membereskan problem-problem sosial-ekonomi bangsa yang menggunung.

Mereka mampu memecahkan kebuntuan. Dalam situasi masih terpuruk dan dibayang-bayangi krisis baru, bangsa ini membutuhkan pemimpin bangsa yang mampu menyalakan kembali semangat rakyat yang hampir padam.

Sayangnya, belakangan ini rakyat justru disuguhi cerita yang berbeda tentang para pemimpinnya. Alih-alih melakukan apa yang pernah mereka katakan, para pemimpin bangsa ini semakin hebat dan makin “wah” saja penampilannya. Ironisnya, sebagian dari mereka terjerat kasus korupsi.

Dalam jejeran panjang, satu demi satu pemimpin bangsa ini bergiliran masuk dan mendekam di balik jeruji besi. Sebagian lain menjadi schizophrenia, lalu kehilangan integritasnya: apa yang diomongi berbeda dengan apa yang dilakukan! Akibat ulah mereka, para pemimpin agama menjadi gemas, lalu bersama-sama memekik “Hentikan kebohongan!”

Berbeda dengan ketika masa kampanye dulu, sebagian lain justru lebih sering mengeluh soal besarnya pendapatan, jeleknya fasilitas, hebatnya ancaman, dan sebagainya. Motifnya narsistik, tetapi ujungnya butuh diperhatikan! Padahal, mestinya rakyatlah yang butuh mengeluh, bukan para pemimpinnya.

Mereka dipilih untuk bekerja sekeras-kerasnya dengan jiwa pengabdian. Akibat keluh kesah mereka, ratusan juta mulut rakyat yang sudah tak memiliki kekuatan untuk bersuara makin terbungkam.

Hak rakyat untuk mengeluh pun sudah diambil alih oleh para pemimpin bangsa. Kondisi masa kini menunjukkan bahwa kita memang membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, yaitu pemimpin yang altruistic.

Pemimpin Altruistik
Ketika Yesus memasuki Kota Jerusalem dengan mengendarai seekor keledai, Alkitab menceritakan, Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.

Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru:” Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan…(Markus 11:9). Hosana adalah suatu seruan sukacita dalam menyambut arak-arakan seseorang pemimpin yang dipuja dan disukai.

Kedatangan Yesus sebagai seorang pemimpin disambut dalam kegembiraaan oleh seluruh rakyat Jerusalem. Rakyat merasa dekat dengan-Nya karena Yesus dekat dengan siapa pun.

Rakyat menyambut-Nya karena Yesus selalu merangkul mereka. Sambutan meriah ini hanya terjadi terhadap sang pemimpin yang membela, mendengar, dan menindaklanjuti suara rakyat. Pemimpin seperti ini disebut pemimpin altruistik.

Pemimpin altruistik adalah pemimpin yang berani mengambil risiko apa pun demi kebahagiaan dan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin seperti ini tidak akan mengeluh karena fasilitas yang kurang atau gaji yang minim. Dia sadar bahwa menjadi pemimpin adalah suatu titipan Tuhan.

Menjadi pemimpin adalah pengabdian yang dipercayakan rakyat kepadanya. Ia akan melakukan pengabdiannya dengan sukarela dan sukacita! Pemimpin seperti ini tidak akan mengeluh karena adanya ancaman karena dia tahu sebagai pemimpin yang dicintai, rakyat akan memihak dan membelanya.

Hanya pemimpin yang tidak percaya diri yang mengisi hidupnya dengan keluh-kesah! Fokus sang pemimpin adalah bekerja untuk dan bersama rakyat guna menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Masih ada lagi.

Alih-alih melontarkan keluh-kesah, kata-kata yang keluar dari mulut sang pemimpin selalu membangkitkan semangat, optimisme, kekuatan, dan pengharapan bagi siapa pun. Pemimpin altruistik adalah pemimpin berintegritas: satunya kata dan tindakan! Pemimpin seperti ini akan disambut pekikan rakyat: ” Hosana…Hosana…”

Bangsa ini butuh pemimpin altruistik yang memiliki mental-spiritual yang kokoh. Pemimpin seperti ini tidak akan membungkam para demonstran dengan kekerasan karena ketika para mahasiswa dan buruh ini dibungkam sebenarnya hati nuraninya sendirilah yang sedang dibungkam.

Pemimpin bangsa yang altruistik tidak akan menunggangi misi suci para mahasiswa karena ketika misi suci ini ditunggangi untuk kesekian kalinya rakyat dikelabui oleh para pemimpinnya. Kita butuh pemimpin altruistik yang mampu memotivasi dan merangkul rakyat untuk bersama-sama dan bekerja sama mengatasi krisis bangsa ini. Tuhan memberkati!

Penulis: Pdt. Albertus Patty
Judul Asli: Rakyat Pun Memekik: “Hosana…Hosana…!”
Dimuat di Sinar Harapan (Link: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/rakyat-pun-memetik-hosanahosana/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s