Luka Api Terbalut Cinta Membara

Saya tidak tahu apa saja pengalaman Anda sebagai abang, kakak, ataupun adik dalam keluarga. Ada peristiwa menyakitkan dan menyenang terjadi saat kita menjalani peran sebagai anggota keluarga. Sebagai seorang abang, saya menjadi panutan dan percontohan bagi adik-adik di rumah. Apa yang saya lakukan ternyata berbekas bagi mereka. Ini lagi-lagi kejujuran saya untuk Anda semua.

Saya penguasa di rumah. Itu yang ada dalam pikiran saya. Semasa SMA, orang tua saya tinggal di rumah dinas, kami berlima di rumah pribadi bersama pembantu. Hanya Sabtu dan Minggu kami bertemu ayah dan ibu. Artinya, Senin hingga Jumat sayalah penguasanya. Adik-adik saya tidak akan berani melawan apa pun yang saya lakukan.

Saat itu, saya sudah tidak malu-malu merokok di rumah. Kalau adik-adik saya menasehati, saya langsung marah, “Tahu apa kamu! Masih kecil jangan sok nasehatin!” Itu pembenaran saya pada mereka.

Suatu kali, saya mendapat kabar adik saya yang nomer tiga merokok. Tak buang waktu, saya langsung memanggilnya ke kamar. Saya bertanya, “Kamu merokok yah, dek?”  Tanya saya. “Nggak bang, nggak ada,” jawabnya. Mukanya kelihatan pucat, tangannya gemetar, pertanda ia ketakutan! “Benar kau nggak merokok! Ayooo ngaku!” Bentak saya. “Ampunn, bang… iya bang,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu, saya emosi lalu menyalakan sebatang rokok dan menyundut kedua kakinya dengan rokok itu. “Ampun bang… ampun bang…” Ia menangis! Menahan perihnya kaki karena api rokok. “Diam! Kau sudah kurang ajar!” Bentak saya. Saya pun semakin marah, beberapa kali saya sundut lagi kakinya. Setelah itu, “Masuk! Masuk! Masuk ke kamar mandi!” Paksa saya.  “Ampun… jangan bang, ampun…” Pintanya. “Bug! Bug!” Kaki saya mendarat di punggungnya. “Masuk!”

“Ampunnnnnn….ampun….. jangan kurung aku bang…” Ia memohon! Tapi saya tidak menghiraukannya. Saya mengurungnya kurang lebih dua jam. Selama itu dia menangis di kamar mandi. Setelah dua jam, saya buka pintu. “Jangan sesekali merokok lagi!” Bentak saya.  Sambil menangis dan menahan perihnya kaki akibat banyaknya sundutan rokok ia menjawab, “Ampun bang…. Iya bang…”

Kejadian itu tidak diketahui orang tua dan saya berhasil menyimpan rahasia itu sampai kuliah di Bandung. Setiap tahun saya pulang saat Natal dan Tahun Baru tiba. Setiap pulang saya selalu tidur di kamar adik saya itu dan kami tidak pernah menyinggung peristiwa tersebut.

Sampai pada tahun 2010, di suatu malam, saat ia sedang tidur, saya menatap wajahnya lalu mengingat apa yang sudah pernah saya lakukan padanya. Entah kenapa, hati saya hancur! Air mata saya berjatuhan!  Ternyata selama ini saya monster baginya.

ImageMenyadari hal itu, saya bangunkan dia. “Kenapa, bang? Tidurlah, sudah malam…” Tanyanya. “Dek, kau ingat nggak kejadian dulu aku sundut kau pakai api rokok?” Tanya saya. “Iya, bang. Aku selalu ingat itu setiap kali melihat abang,” jawabnya. “Dek, aku mau minta maaf sebesar-besarnya untuk kejadian itu,” balas saya. “Udahlah bang, aku kan udah maafin abang. Lagi pula aku tahu itu karena abang sayang dan kecewa sama aku,” katanya. “Nggak dek, itu cara yang salah, maafkan aku, terimalah maafku ini. Terima maafku ini yah,” pinta saya.  Kemudian kami pun bersalaman.

Setelah kejadian itu, kami semakin akrab. Bagaikan kekasih yang enggan dipisahkan. Setiap pulang ke Jambi, saya selalu menyediakan waktu khusus untuknya. Beribadah, berdoa, bercanda, juga bertukar pikiran berbagai pengalaman spiritual, kebangsaan, perkuliahan, serta asmara bersamanya. Apa saja kebutuhannya saya penuhi, walaupun ia tidak pernah memintanya. Bahkan saya rela memberikan hidup saya padanya!

Saya suka bilang sama Tuhan, “Yesus yang terbaik. Saya tahu, Engkau yang akan menjadikan adik saya itu pemenang, yang akan menginspirasi banyak orang dan ia pasti bisa hadapi tantangannya bersamaMu…”

Belakangan, setiap kali mengirimkan pesan, ia selalu tanya, “Apa kabar abang disana? Sehat-sehat kan? Bang, jangan lupa cari pacar yah! Supaya kita bisa pesta!” Itu pintanya. Saya berjanji dalam hati akan memenuhinya!

Setiap hari, dari Kota Kembang ini saya selalu merindukannya. Saya percaya, dengan kerja keras dan ketekunannya kuliah, sebentar lagi dia akan wisuda. Tidak seperti abangnya yang kuliah delapan tahun.

Menjadi abang dan adik bukanlah kebetulan. Ada kisah, cinta, dan pesan bagi dunia yang Tuhan titipkan supaya kita sampaikan pada banyak orang. Terpujilah Tuhan! Hajar, dek! Gas!

* Lewat tulisan ini, saya juga meminta maaf kepada ketiga adik saya yang lainnya. Saya percaya, kita akan terbang tinggi, mengalahkan dunia ini dengan cinta.

One thought on “Luka Api Terbalut Cinta Membara

  1. Terima kasih buat temen-temen yang udah baca juga share ke rekan-rekan yang lainnya. Mari! Sama-sama kita kalahkan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s