Perjalanan Panjang Bersama Sang Mentor

Pagi sekali, pemuda itu memberanikan diri mengikuti acara hiking yang diadakan salah satu gereja di Kota Bandung. Ia pergi berkat ajakan seorang wanita. Sebelum sampai di gereja, pemuda ini lebih dulu menelan obat supaya tidak minder dengan dirinya sendiri. Ia malu, sudah 5 tahun kuliah namun belum lulus, sering menipu orang tua, gemar mabuk-mabukan, ditinggal kekasih dan tidak dihargai oleh adiknya sebagai abang.

Satu harian penuh ia berjalan menapaki hutan dago pakar bersama puluhan anak muda lainnya. Hari itu ia mendapatkan banyak kenalan baru. Sepulangnya, ia berniat pindah kost ke dekat gereja tersebut dan memulai pelayanan disana. Menata hidup baru serta menyelesaikan perkuliahannya, juga memperbaiki hubungan dengan orang tua serta adik-adiknya.

Singkat cerita, pemuda ini mulai aktif melayani di paduan suara, lalu merambah sekolah minggu. Ketika ia sedang asyik dan merasakan tumbuhnya cinta di sekolah minggu. Ia mesti menerima kenyataan tidak lulus sebagai guru sekolah minggu lewat pembinaan dan hasil percakapan. Karena masih suka mengkonsumsi minuman keras dan bergaya preman. Hatinya hancur berkeping!

Ia jatuh, marah, dan berontak! Merasa bahwa gereja dipenuhi manusia munafik dan menolak orang berdosa! Dalam masa kelam itu, ada dua penatua yang dengan tulus hati mendampinginya. Mereka menerima semua keluh kesah pemuda ini serta mendoakannya. Sampai akhirnya pemuda itu mengurungkan niat pergi dari gereja tersebut dan mereka bertiga menjadi sangat dekat.

Tak lama setelah kejadian itu, ia didorong untuk mengikuti leadership training oleh kedua orang yang akhirnya dipanggil dan dianggapnya sebagai ‘abang’ itu. Setelah menyelesaikan kelas kepemimpinan, saat acara penutupan ia menerima sertifikat lalu membuangnya di depan salah satu majelis itu. Ia masih merasa rendah diri dan dizhalimi oleh beberapa oknum sekolah minggu yang sering dijumpainya kala sedang di gereja.

Saat ia mencampakkan sertifikat itu, penatua tersebut tidak memarahinya, malahan ia tersenyum lalu meminta pemuda itu mengambilnya. Kemudian pemuda itu (bersama beberapa rekannya) diajaknya berbicara hati ke hati di salah satu cafe. Kejadian itu sampai hari ini diingat oleh pemuda itu. Sekarang, pemuda itu sudah lulus kuliah, bekerja, menjadi pendeta keluarga, dan aktif mengembangkan potensi generasi muda.

Pemuda itu adalah saya, Basar Daniel Jevri Tampubolon. Sedangkan kedua majelis itu adalah Kornel M. Sihombing dan Jeffrey Samosir. Mereka bahu-membahu mendukung saya secara konkret untuk menyelesaikan kuliah, mencari kerja, dan utamanya menemukan panggilan hidup.

Anda perlu tahu, waktu saya membuang sertifikat itu, Kornel M. Sihombing lah yang menyaksikannya. Ia tahu bahwa saya masih terluka dan mengalami kepahitan yang ‘sangat’ karena merasa ditolak oleh beberapa oknum yang mengatasnamakan komunitas sekolah minggu.

Lewat kejadian itu, saya semakin dekat dengan beliau juga Jeffrey Samosir, yang kebetulan pada masa peristiwa itu bersedia menjadi pembimbing saya dalam percakapan sekolah minggu, dikala yang lainnya tidak ada yang mau mewawancarai saya, demi memenuhi persyaratan menjadi guru sekolah minggu.

Saya tidak membayangkan sebelumnya. Setelah kejadian itu, kami bertiga bersama kawan-kawan yang lain menjadi tim dalam berbagai kegiatan gereja, lintas agama, juga youth development. Saya selalu ingat, setiap kali menyelenggarakan leadership training, persiapan sesi Kornel M. Sihombing lah yang paling rinci dan memakan waktu yang lama ketimbang narasumber lainnya.

Bang Onye, panggilan akrabnya. Sering saya kesal, karena setiap kali membantu mempersiapkan peralatan sesinya selalu saja sampai larut malam. “Oh iya, jangan lupa kertas 30×10 cm yah, Sar…” Itu pesannya selalu. Kemanapun ia dipanggil mengisi sesi-sesi terkait kepemimpinan, selalu saja kertas ukuran itu mesti tersedia.

Walaupun demikian, entah kenapa, setiap kali punya masalah, saya selalu datang padanya. Padahal, saat ia bersedia memberikan waktunya pada saya, itu berarti mengurangi waktunya bersama keluarga. Maklum saja, ia sangat sibuk mengingat posisinya sebagai Vice President Business Integration Aerostructure PT DI, majelis, abang PA, dan kepala rumah tangga bagi kak Indri, Korin, dan Luhut.

Hampir setiap hari abang pulang malam. Pernah, ketika sudah larut malam, ia mesti mendengarkan cerita saya di warung kopi pinggiran jalan. Menelepon saya dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, membalas email-email saya terkait beberapa acara dan sebagainya.

Pernah pula, sewaktu saya diminta mendadak untuk mengisi Talkshow Kebangkitan Nasional, dengan sukacita, abang memperlengkapi saya satu hari sebelumnya. Ia menyempatkan membantu saya mempersiapkan materi sebelum pulang ke rumah. Saat kami sedang asyik berbincang, tiba-tiba ia menerima telepon kalau Korin terkena demam berdarah. Setelah mendengar berita itu, ia tetap tenang dan fokus menyelesaikan materi. Setelah itu baru mengantarkan Korin ke rumah sakit bersama kak Indri, sementara saya menemani Luhut di rumah.

Saya selalu bersyukur setiap kali diajak abang makan di café, karena itulah kesempatan saya menyantap makanan enak. Oh iya, ia tidak alergi dengan saya yang masih suka merokok dan minum Vodka. Saya jadi ingat, pernah membohongi beliau saat PA bersama seorang sahabat. Kala itu, abang bertanya, “Masih menjalani kebiasaan yang lama, Sar?” Tanyanya. “Oh, nggak, bang! Paling maen game aja.” Jawab saya mantap. Sementara, temen saya itu mengakui dan kenyataannya kami berdua baru minum tiga hari sebelumnya.

Apa yang saya mesti katakan lagi tentang abang? Banyak sekali hal yang saya alami bersamanya. Tiga hari sebelum tragedi Sukhoi, ia berpesan, “Kayaknya Basar mesti banyak belajar lagi dalam mempersiapkan suatu pelatihan,” katanya pada bang Jeffrey dihadapan saya.

Begitu banyak yang dia berikan pada saya. Ia membekali saya dengan ilmu manajemen, kepemimpinan, dan terutama dalam mengenali panggilan sebagai seorang Kristen. Dari cerutu, buku, dasi, baju, hingga pointer ia berikan. “Ini pointer buat fokal, suatu saat nanti pasti perlu,” katanya. Tak lama setelah itu, saya memakainya untuk pelatihan menulis dan mengenakan baju pemberiannya dalam berbagai seminar, diskusi, dan acara  lainnya.

Oh iya, jadi ingat, dalam salah satu pose foto saya, saat sedang berbicara di depan anak-anak muda, ia berkomentar, “That’s my boy! Keep doing the good work with passion …” Saya juga ingat, pada hari saya sidang akhir, sorenya kami berjumpa di depan pos satpam gereja. Ia memeluk saya erat dan merasa bangga walaupun lulusnya 8 tahun. Pelukan itu seperti dekapan seorang ayah pada anaknya.

Sejujurnya, saya tidak rela ia pergi. Meninggalkan kakak, adik-adik yang masih kecil, dan membiarkan saya juga teman-teman yang lain meneruskan cita-cita bersama membangun generasi muda. Mungkin saat ini Tuhan ingin melihat saya menari bersama badai. Saya bangga, senang, dan merasa puas selama ini sering bercerita juga berantem sama abang. Tuhan telah mendidik dan memperlengkapi saya lewat Kornel M. Sihombing. Demi Tuhan dan Merah Putih, kulanjutkan visimu, bang!

*Mohon maaf jika tulisan ini terlalu panjang dan melanggar etika jurnalistik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s