Greget-Greget Skripsong!

“Agatahe! Judul skripsi belum juga dapet! Sementara teman seangkatan udah banyak yang lulus, sisanya bandit semua. Kalaulah boleh pencobaan ini berlalu secepatnya. Tuhan, tolonglah anakMu yang baik hati ini…”

Mendadak mules, malas, dan kehilangan kebahagiaan saat ditanya atau teringat skripsi. Padahal, wisuda nanti sudah membayangkan senyum kebanggaan orang tua juga sang pendamping.

Belakangan, saya sering bertemu temen-temen mahasiswa tingkat akhir. Saya sangat bersyukur mengenal dan menjadi salah satu saksi perkembangan mereka sejak semester awal kuliah. Selain rajin belajar, kebanyakan mereka juga aktif di berbagai organisasi.

Saya mulai kehilangan keceriaan pada diri mereka sejak ‘masa tugas akhir’. Setiap kali bertemu, terkesan menghindari pertanyaan seputar skripsi. Mereka lebih baik diajak jalan lalu ditraktir ketimbang disinggung progress bab per babnya.

Saya jadi ingat kisah tahun 2006 lalu. “Bang, gimana skripsimu?”  Tanya ibu saya. “Oh, lancar, mak! Jangan lupa kirim duit buat print dan tambahannya yah!” Jawab saya. “Iya nak, nanti mamak langsung kirim,”  balasnya. Padahal waktu itu saya belum bisa kontrak skripsi, karena masih banyak mata kuliah yang mesti diulang. Selama dua tahun itu, di setiap akhir semester, saya selalu bilang sudah sidang akhir dan tidak lulus. Seingat saya, empat kali saya membohongi mereka.

Menginjak tahun 2008, saya tidak lagi dapat menawarkan kerjasama untuk menunda, baik itu kepada orang tua maupun pihak kampus. Pada waktu itu kebetulan mata kuliah dan kerja praktek saya sudah selesai, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk benar-benar menyelesaikannya.

Pada masa itu seorang junior pernah bertanya, “Bang, gimana skripsimu?” “Heh! Diam kau yah! Itu bukan urusanmu!” Jawab saya. Memangnya dia nggak tahu, setiap bangun pagi saya selalu berdoa setulus hati untuk membereskannya, apalagi saat ibadah Minggu. Saya menderita! Hampir setiap hari orang tua dan adik-adik menanyakannya.

Selama satu bulan setengah saya memutuskan untuk fokus, mondar-mandir kampus-kost juga ke rumah beberapa teman yang bersedia membantu penyelesaian skripsi saya. Saya juga menolak ajakan nongkrong karena akan membuang waktu. Setiap hari pergi pagi pulang malam, letih, dan mesti menahan kekesalan terhadap dosen pembimbing setiap kali selesai bimbingan.

Di suatu pagi, Mei 2008, saat saya memandangi monitor sambil membaca kata pengantar, air mata saya berjatuhan. Saya menyadari bahwa Tuhan telah membentuk saya melalui pengerjaan skripsi. Siangnya saya mesti sidang akhir, berhadapan dengan penguji-punguji yang akan memicu kemenangan saya sebagai mahasiswa, juga memulihkan hubungan saya dengan keluarga.

Siang itu benarlah menjadi ‘hari saya’. Semua pertanyaan saya lahap dalam Kasih dan kesadaran bahwa Tuhan sedang mendidik untuk tugas yang lebih besar nantinya. Setelah sidang, beberapa jam kemudian, “Pak! Abang sudah lulus, lunas hutangku yah, pak!” Kata saya pada bapak melalui HP. “Puji Tuhan!” Balas ayah saya.

Mama saya, saat itu sedang dalam perjalanan ke Balige, “Mak, Nga sae be perjuangankhi. Monang do hita oma…” Kata saya. “Puji Tuhan, mauliate ma ate anakhu…” Katanya dengan nada haru bercampur takjub akan kebesaran dan penyertaan Tuhan kepada putranya yang selama kuliah juga berprofesi sebagai bandit malam.

Waktu wisuda, kami sekeluarga merasa bahagia, walaupun saya tidak didampingi wanita idaman saya. Maklumlah, ayah dan ibu saya bukan sarjana, saya berhasil disarjanakan oleh mereka. Terlepas itu bagian dari gengsi atau tidak, orang tua saya bangga dan merasakan adanya perubahan, baik itu dari pola pikir maupun sikap saya.

Sekarang, saya bebas terbang kesana kemari mewujudkan mimpi-mimpi. Apa yang saya rencanakan selalu didukung orang tua, tentu dengan alasan yang kuat. Terutama dalam pekerjaan dan pelayanan yang saya geluti saat ini.

Saya merasa lebih beruntung dari para milyuner ketika saya memenangkan satu demi satu prioritas yang Tuhan titipkan. Proses skripsi saya menjadi awal nyanyian indah yang membakar hari-hari saya sampai sekarang.

Oh iya, setelah wisuda, saya menghampiri teman yang pernah bertanya tentang skripsi itu dan berterima kasih padanya. Kalau ditanya, apa yang dipelajari dan didapat selama kuliah? Saya belajar tentang siapa itu Yesus dan ternyata saya mendapatkan cintaNya.

#Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s