Pendidikan Politik dari Mgr. Soegija

Enak juga nonton bareng film Mgr. Soegija. Lebih enak lagi kalau acara nonton bareng dirutinkan. Dalam nonton bareng ada keakraban, informalitas, dan belajar bersama dengan cara yang sangat efektif. Mungkin ini lebih baik daripada mendengarkan khotbah yang sering bikin ngantuk.

Ada banyak film bagus dengan konten spiritulitas hebat yang patut ditonton dan didiskusikan. Nah, sayangnya, sehabis nonton bareng, tak ada diskusi. Padahal itu penting! Meski demikian, saat menikmati akting sohib saya, Nirwan Dewanto, yang berperan sebagai Mgr. Soegija, saya berusaha menduga, apa sih yang anggota gereja pikirkan tentang sosok dan sikap hidup Mgr. Soegija. Banyak orang, banyak pendapat tentangnya. Itu pasti!

Saya sendiri terkesan pada sosok rohaniawan yang berdasarkan imannya berperan aktif dalam membela masyarakat yang tertindas dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari Keindonesiaan. “Menjadi Katolik sekaligus menjadi Indonesia,” katanya. Kalimatnya mengingatkan saya pada ucapan Leimena: ”Kita adalah warga negara Indonesia, sekaligus warga negara Kerajaan Allah.” Mereka berdua berbicara tentang dwi-identitas, dwi-kewarganegaraan. Tulisan ini adalah hasil perenungan atas kalimat indah di atas, plus atas nonton bareng gratis itu!

Gereja yang Bingung

Film ini tidak berkisah tentang peran ritual Mgr. Soegija. Tidak pernah dia memimpin ibadah! Sebaliknya, peran sosial-politik Mgr. Soegija lebih diutamakan. Kata-katanya yang berisi pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas dan sikap politiknya terhadap eksistensi bangsa Indonesia sangat jelas. Bagi Mgr. Soegija, kemerdekaan bangsa adalah harga mati!

Pesan film ini menjadi sindiran bagi para rohaniawan dan gereja di saat peran sosial politiknya semakin menipis. Gereja seperti bingung menentukan perannya di tengah krisis sosial-politik bangsa. Alih-alih berperan aktif dalam membela masyarakat yang tertindas, gereja sering menempatkan dirinya sebagai ‘korban’, bagai domba di tengah serigala. Ada apatisme! Mungkin juga impotensi! Nah, apa penyebab impotensi peran gereja dalam konteks sosial-politik? Ini yang perlu dicari!

Tesis Van der Ven

Saya percaya tesis Van der Ven tentang teologi praktika gereja bisa sedikit membantu kita. Van der Ven mengatakan ada tiga posisi teologi gereja terhadap persoalan sosial-politik.

Pertama, ketika aksi para pendeta menjadi fokus utama gereja (Pendeta sentrik). Umat sangat tergantung pada pendeta dalam segala aspek. Akibatnya, gereja tidak peduli terhadap persoalan sosial-politik. Tugas pendeta lebih banyak menjaga dan merawat umat secara personal. Aktivitas rohaniawan dipenuhi dengan kegiatan di sekitar ‘kasur’ – lahir, nikah, sakit, mati, plus soal-soal ritual seperti ibadah!

Posisi kedua adalah ketika fokus gereja ditujukan untuk pengembangan dirinya (gereja sentrik). Aksi para pendeta berfungsi untuk pengembangan dan pertumbuhan gereja. Dalam posisi ini, gereja melihat masyarakat dan dunia sebagai obyek yang mesti didekati dan dieksploitasi demi pengembangan diri. Indikator keberhasilan gereja diukur dari seberapa banyak umat yang dijaring dan seberapa besar kolekte dikumpulkan. “Planting church” menjadi tujuan utama. Sikap inilah yang menjadi pemicu ‘kompetisi’ antar gereja dalam perebutan umat!

Pendekatan terakhir, gereja menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat demi perjuangan pembebasan manusia, personal maupun sosial (Johannes A. Van der Ven. Ecclesiology in Context. H. IX-X). Dalam konteks ini, pergumulan dan tantangan sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi bangsa adalah bagian dari pergumulan gereja. Identitas gereja tidak terlepas dari identitas bangsa dan kemanusiaan sedunia. Gereja dan bangsa interrelated dan interconnected!

Berdasarkan kenyataan baru ini, sikap gereja terhadap pekabaran Injil pun mengalami pergeseran. Pekabaran Injil bukan lagi dilihat sebagai keselamatan pribadi, tetapi sebagai suatu keselamatan sosial di mana gereja pun ikut terselamatkan. Metz melukiskan pergeseran paradigma gereja itu dalam satu kata yaitu: deprivatisasi! Metz menegaskan bahwa peran gereja bukan hanya berurusan dengan keselamatan personal, tetapi mulai menapaki dan menggumuli keselamatan sosial-politik dan ekonomi.

Krisis bangsa seperti kelaparan, ketidakadilan dan penindasan dianggap sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab yang harus digumuli gereja. Dengan demikian, partisipasi dan keterlibatan aktif gereja dalam pekerjaan Allah dalam upaya menegakkan keadilan, perdamaian dan cinta kasih bagi umat manusia dan dunia adalah sebuah pekabaran Injil. Nah, sosok Mgr. Soegija kira-kira ada di posisi yang terakhir ini.

Bagi saya, pesan terpenting film Mgr. Soegija adalah bahwa gereja harus menempatkan jati dirinya dalam bingkai kebangsaan dan keindonesiaan. Dengan begitu gereja mampu mendorong adanya pendidikan sosial-politik bagi umat, terutama kaum muda, agar mereka mampu memberikan kontribusi bagi kehidupan bergereja dan berbangsa. Umat seperti ini akan dapat berkata: ”Aku Kristen sejati dan Indonesia sejati!”

Oleh: Pdt. Albertus Patty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s