Pejuang Cinta yang Konyol

Apalah sebutan untuk seorang pejuang cinta, yang sebenarnya berpeluang besar memiliki kekasih, tetapi lebih memilih etika? Apa maksudnya selama ini dia sering antar jemput, menelepon dan mengirimkan pesan supaya jangan lupa berdoa atau telat makan siang, dan sebagainya. Giliran dikasih sinyal, malah mundur! Ah! Laki-laki cupu macam itu!

Dua tahun lalu, saya dekat dengan seorang wanita. Parasnya 8,5 (baca: bisa dibawa ke pesta), cerdas, mandiri, sederhana, santun, dan sering membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Pokoknya bahagia kalau menikah dengannya! Oh iya, dia bukan wanita yang gengsian. Beberapa kali dia mesti membayar tagihan kencan kami.

Saya sering menjemput dan mengantarnya berpergian, sehingga sering tampil berdua di depan umum. Beberapa tempat romantis sudah kami kunjungi. Bagi saya, gereja dan warung pinggir jalan arena yang romantis.

Suatu hari, saya bercerita kisah asmara saya pada seorang abang.

“Bang, aku lagi dekat sama si Tiur. Udah sekitar dua bulan ini.”
“Ya… Ya… Aku sudah perhatikan itu.”
“Nah, gimana yah, bang? Kalo kutembak, terlalu cepat pulak, bang! Bingung aku…”
“Iya, betul, memang laki-laki perlu perhitungan. Tapi, sebaiknya, secepatnya tembak aja dia. Kalian sudah terlalu sering tampil berdua.”
“Iya, bang. Hampir tiap hari aku ketemu sama dia. Tapi kalo nanti ditolak kekmana?”
“Gini yah, kau dan dia sudah sering tampil berdua. Kalau kalian jadi, bagus! Tapi kalau nggak jadi, itu kan membuang waktu kalian berdua. Opportunity kalian juga jadi tertutup dengan yang lain. Cowok yang suka sama dia jadi nggak mau deketin, cewek yang kagum samamu pun nggak berani.”
“Oh gitu yaa, bang, baiklah. Thanks yah, bang.”

Setelah mendapatkan pencerahan, saya pun mengatakannya. “Dek, aku cinta samamu… Gini… Gitu… Gini…Gitu..” Saya jelaskan semua padanya. Dia menolak! Akibatnya, sebulan lebih saya patah hati. Walaupun selanjutnya ternyata dia mencintai saya. Karena ia hanya menguji kesungguhan saya saat memberikan jawaban itu. Maklumlah, dia wanita yang selektif dan tidak gampangan.

Setengah tahun kemudian, saya sering berkomunikasi dengan seorang teman dekat yang sudah berpacar. Kami sering berpergian, menonton bioskop, makan malam, sambil bercerita perihal pribadi. Dia lebih sering bercerita tentang kekasihnya, sementara saya tentang kecengan. Dia pernah berkata, “Kita aman kan yah? Aku ada pacar, kamu punya kecengan.” Saya hanya diam dan mengangguk.

Sampai akhirnya, setelah sekian bulan, dalam beberapa peristiwa yang dialaminya, saya menjadi begitu takut kehilangan. Sadar menyayanginya, saya memberanikan diri mengungkapkan isi hati. Waktu itu dia menolak! “Nggak ada itu cinta-cintaan, nggak penting! Yang lebih penting adalah persahabatan kita,” jawabnya.

Setelah kejadian itu hubungan kami renggang, Beberapa minggu kemudian dia mengajak saya berjumpa secepatnya. Saat dia meminta untuk bertemu, saya sedang bersama seorang abang. Saya pun bercerita padanya.

 “Bang, aku lagi dekat sama si Lasma. Kekmana ini, bang?”
 “Oh, anak mana dia?”
“Temen deket, bang. Sudah berpacar dan sudah kutembak. T’rus nolak, tapi s’karang ngajak jumpa.”
 “Waduh, berat itu, kawan! Tinggalin aja, jangan diterusin. Nggak bener itu prosesnya.”
“Oh gitu yah, bang? Baiklah…”

Dasar bandel! Sudah diperingatkan pun saya tetap menjumpai perempuan manis itu. “Ah, bodoh amatlah! Aku kan cinta dia,” itu pikiran saya kala itu. Sepertinya dia memang lebih membutuhkan pria seperti saya, yang kadang-kadang berkharisma, tegas, lucu, dan bisa mengerti perasaannya.

Kami pun selingkuh. Tapi itu tidak lama, karena saya gelisah! “Masa aku ngerebut pacar orang! Nggak betul ini!” Jerit hati kecil saya. Dia pun pasti merasakan hal yang sama. Menyadari itu, saya pun memintanya untuk menghubungi kekasihnya. Awalnya dia menganggap saya laki-laki yang plin-plan. Tapi akhirnya dia kembali pada kekasihnya. Saya sempat uring-uringan beberapa minggu. Dia wanita yang sangat berarti bagi saya.

Dua peristiwa ini telah mempengaruhi masa depan saya. Mengajari saya bagaimana menjadi laki-laki yang beretika. Ketika saya mencintai seseorang, bukan berarti mesti egois bahkan tidak memperdulikan prinsip, proses, kebaikan juga perasaan orang lain. Saya memang telah mengambil keputusan ‘konyol’. Tidak menghargai pengorbanan waktu, tenaga, dan perasaan saya sendiri hanya demi etika.

Oh iya, sampai hari ini, saya masih berhubungan baik dengan kedua wanita itu. Mereka perempuan yang istimewa dan luar biasa bagi saya. Akan sangat beruntung pria yang menjadi pendamping hidupnya.

Note:
Tulisan ini sebagai utang dan rasa syukur saya. Tuhan telah mengajari saya menjadi laki-laki yang beretika lewat Kornel M. Sihombing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s