Someday with You (Dia Bilang Aku Cupu)

“Saya tidak sedang sendirian. Saya sedang membiarkannya jatuh dan terbang. Sampai Anda menyaksikan kami bersama menjelajah angkasa dan menikmati kebesaran Tuhan…”

2011 yang lalu, kali pertama nama saya disebut di panggung resepsi, pernikahan salah satu sahabat pergerakan yang saya kasihi. Panggilan itu seperti lelucon! Membuat saya tergoda untuk lari dari kenyataan. “Basar, ayooo! Kapan nih menyusul?” – Saya hanya berusaha memahaminya karena saya kesayangan.

Lelaki dan wanita mana yang tak bermimpi membahagiakan alam semesta bersama kekasihnya. Membagikan cinta yang cuma-cuma bagi siapapun yang membutuhkan – Membuat dunia ini jauh lebih baik.

“Terima apa pun yang yang sanggup kaukerjakan dan apa pun yang tak sangggup kaukerjakan.” – Tuesdays with Morrie

Minggu kedua, juli 2012 lalu. Saya menjadi sangat bersuka! Turut hadir berbagi dan menikmati keceriaan dalam dua acara padu kasih, kakak dan sahabat baru saya. Tidak perlu memang merasa, bahwa kehadiran itu paksaan bahkan kekonyolan. Karena mendapati kenyataan sedang berdiri sendiri, dalam pikiran dan usia yang dewasa.

Kembali nama saya disebut-sebut. Tujuannya masih sama. Menginginkan saya benar-benar menunjukkan dengan keberanian, secepatnya menentukan siapa yang akan menemani kehidupan saya, tidak hanya di dunia ini. Sampai terpisahkan – dalam cinta yang kuat namun sederhana.

Saya sangat menikmati kedua acara itu. Tidak lagi dengan kecemasan yang menggebu-gebu, setelah beberapa kehadiran saya dalam acara yang serupa. Saya bergirang! Kenyataannya, saya telah menjalin relasi dengan beberapa wanita yang tidak sampai saya sakiti – hanya karena semuanya dianggap tidak dari hati.

“Jangan pernah menyentuh hidup seseorang jika itu hanya akan menghancurkan perasaannya.” – StatusBooks.com

Lebih lagi. Dengan logis bercampur dugaan. Saya dibawa dalam kesadaran yang tidak terlambat. Saya membutuhkan wanita yang tidak sekedar mampu menghangatkan terus-menerus gairah saya. Saya menjadi sedikit lebih mengenal siapa diri saya. Dalam berbagai reputasi yang positif maupun negatif, saya membutuhkan kekasih! Tidak disebabkan lazimnya – berkembang biak demi status sosial – penghargaan terhadap budaya yang tidak manusiawi.

Saya tidak bisa membayangkan, betapa hidupnya dunia ini. Ketika saya benar-benar mendapatinya di samping saya, tidak mesti selalu ada di mana pun saya. Dia tidak perlu membuat saya jauh lebih manja. Ia hanya berhak tetap memelihara serta menumbuhkan semangat-semangat baru bagi saya dan semesta ini.

Saya terlalu jujur, sekian kali saya hadir dalam kehidupan wanita. Sebabnya, saya mengira, “Ah! Kayaknya yang ini!” Kenyataannya, tidak semuanya dengan mudah untuk dipastikan – tidak ada yang pasti di dunia ini – hanya satu yang pasti, bahwa Tuhan telah mengalahkan dunia ini dengan cinta – menjadikan Anda dan saya sebagai ciptaan berharga.

Saya menjadi berbeda belakangan ini. Entah apa yang membuat saya menjadi seperti seorang yang dengan tinggi hati menyetujui, “Dunia semakin tua! Aku memerlukan semangat lain! Yang baru! Yang mampu membuat dunia ini kembali muda.”

“Kesempatan terbaik sedang bersepakat dengan dugaan. Sebentar lagi dia datang…”

Saat ia datang, saya tidak akan menghadiahinya pesta kembang api. Saya hanya akan berdiri teguh sembari mempertahankan kesadaran saya. Tentang ‘keberartian’ bersama teman hidup selamanya. Sama seperti kesetiaan saya selama ini – tidak mempermainkan cinta yang melukakan hati.

“Do not dare. Not to dare.” – C.S. Lewis

Ketakutan. Kalau-kalau tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan bersama malam. Tentang kekasih impian. Ibarat putri salju – memesona, kokoh, berlembut rasa.

Manusiawi. Kekuatiran yang dimiliki sebagian besar penghuni dunia. Tidak berani memulainya bahkan menjalaninya. Untuk waktu yang lama, saya telah tergolong dalam kelompok itu. Kini, saya lebih tertarik berlaku di luar batas. Cinta telah membuat saya menghapuskan semua yang tidak diharapkan.

Jadi Anda perlu memahami. Saya tidak akan menyerah demi kebahagiaan yang menyukakan hidup, tidak untuk seorang saya saja. Bersama kesadaran, saya masih mencari dan menantinya. Sesuai dengan yang Anda inginkan terhadap saya.

“Sejauh ini, aku masih mampu. Apakah aku akan terus mampu? Aku tidak tahu. Tapi aku berani bertaruh bahwa aku mampu.” – Tuesdays with Morrie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s