Untukmu, Wanita Kesayanganku (Hari Ini Dia Bersuka)

Entah kenapa, pagi tadi, sejak terbangun dari tidur. Saya ingin sekali menghubungi wanita yang sangat saya kasihi itu. Waktu saya menelepon, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif…”  Beberapa kali begitu respon yang saya terima. Membuat saya semakin kuatir dan bertanya-tanya dalam hati.

Setelah mencoba untuk yang kesekian kali, barulah saya berhasil. Ia pun mengangkat teleponnya…

“Apa kabar? Sehat?”

“Sehatlah. Apa kabar?”

“Sehat juga. Lagi ngapain?”

“Oh ini, baru pulang belanja. Nanti sore ada persekutuan doa di rumah. Jadi masak…”

“Oh gitu. Mau masak apa aja?”

“Masak ayam sama ikan aja…”

“Itu persekutuan doa apa?”

“Oh, persekutuan doa wilayah. Kan aku jarang ikut persekutuan, karena aku selalu takut kalau diminta untuk doa syafaat. Jadi kali ini, aku terima persekutuan di rumah…”

“Wah, mantaplah itu…”

“Eh, hari ini aku ulang tahun lho… Aku udah liat di surat sidiku. Ternyata tanggal lahirku itu 31 Juli, bukan 31 Agustus seperti yang dulu dibilang sama mamakku…”

“Bah! Iyanya? Itulah yang bikin aku suka bingung. Tanggal berapanya jelasnya mamakku ini ulang tahun. Selamat ulang tahun yah, mamakku! Tuhan memberkati, memberikan kesehatan, dan senanglah hidupmu yah. Jangan mikir yang berat-berat. Tuhan begitu baik sama mamak…”

“Iyalah, nak. Terima kasih yaaa!”

“Oh iya, yang keberapa ini?”

“Yang keberapa yaaa, 49…”

“Ok lah mak, selamat yah! Hari ini persekutuan doa sekaligus ucapan syukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup mamak dan kita semua. “

“Iya, tadi aku sudah berdoa supaya banyak yang datang untuk menikmati persekutuan serta sukacita kita.”

Itulah percakapan singkat saya dengan wanita yang begitu saya sayangi itu. Dia salah satu kebanggaan dalam hidup saya. Memang, hanya ada empat wanita kesayangan, yang sangat mempengaruhi kehidupan saya. Selain ibu, ada opung boru dari keluarga bapak juga ibu, dan satu lagi si kecil, Ida Ulina.  Kalaupun akan bertambah satu lagi, kesayangan saya itu hanya akan menjadi milik istri saya nanti.

Ratna Uli br. Hutagaol. Berkat kerja keras, nasehat, dan doa-doanyalah saya bisa menjadi seperti yang sekarang. Menjadi seorang laki-laki yang bertuhan dan berpengetahuan. Dia yang membuat saya menjadi pemilik kebahagiaan hidup. Bapak, pastilah sangat beruntung mendapatkan wanita sehebat dia. Kadang saya suka iri.

Ibu saya bukanlah seorang terpelajar. Sejak belia, dia telah kehilangan ayahnya. Sehingga mesti berjuang hidup bersama ketiga adiknya, dan tentu ibunya yang juga tidak gampang menyerah pada tantangan hidup, namanya Asnat br. Manurung. Dia yang mengajari saya tentang siapa itu Yesus, doa sekaligus nyanyian ini saya dapatkan darinya, “Metmet au on, bahen ias rohakon. Sasada Ho Jesus donganhu tongtong.”

Selama perjalanan ke kantor, saya jadi teringat masa nakal-nakalnya saya dulu. Saya suka sekali mencuri uang ibu dari lemari, dengan mencongkel bagian belakangnya. Semasa kuliah, saya sering menipunya. Selain itu, saya pernah beberapa kali kedapatan pulang mabuk, tetapi dia tidak memarahi saya. Dia bahkan bertanya, “Abang kenapa? Ada masalah apa?” Dia memang memperlakukan saya seperti laki-laki.

Setiap kali pulang ke Jambi, dia selalu menyiapkan masakan yang paling enak. Dia selalu menyambut saya sebagai pemenang hidup. Cintanya yang membuat saya menyadari, bahwa saya diciptakan ke dunia tidak hanya untuk mengurusi diri sendiri, tetapi juga memperdulikan orang lain.

Saya sangat membenci kemiskinan. Sebabnya, itu yang ibu saya alami semasa kecil. Pernah ia sampai tidak makan nasi selama beberapa hari, kadang juga hanya nasi dicampur air dan garam. Pedihnya hidup! Tetapi dia tidak mau kalah, begitu pula dengan ibu dan adik-adiknya.

Dengan dasar, pengalaman, dan kenyataan yang saya terima darinya. Saya telah memutuskan, bahwa wanita kelima yang akan menjadi kesayangan saya. Dia mesti memiliki semangat juang, yang seperti ibu saya miliki.

Anda juga perlu tahu. Setiap kali saya dekat dengan wanita, saya selalu menceritakan padanya. Dia selalu berpesan, “Bang, kalau dekatin perempuan, yang sederhana yah. Kalau cinta, kejar! Jangan takut kalau niatnya memang baik…” Pesan itu tidak akan pernah saya lupakan.

Ini doa dan harapanku, untukmu…

Tuhan, terima kasih sekali! Sampai hari ini Engkau tetap memberikan kesehatan, kekuatan, pendewasaan, dan penyertaan kepada mamakku tercinta, Ratna Uli br. Hutagaol.

Aku percaya, Engkau akan membuat hidupnya semakin utuh untuk masa-masa selanjutnya. Aku juga sangat bersyukur, Tuhan telah mendidikku lewat wanita hebat seperti dia.

Senanglah hatimu, mamakku! Terpujilah Tuhan yang begitu mengasihimu. Selamat merayakan tambah usiamu, inong hasian!

One thought on “Untukmu, Wanita Kesayanganku (Hari Ini Dia Bersuka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s