Tulisan Rindu di Pinggiran Langit

Saya tidak akan pernah merindukan seseorang atau siapapun yang tidak berharga bagi kehidupan saya. Karena saya tahu, rindu saya hanyalah milik mereka yang benar-benar merasa beruntung pernah atau sedang bersama saya.

Sama halnya begini, saya tidak akan memberikan hadiah untuk Anda yang tidak saya sayangi apalagi yang tidak saya kenal. Saya memang sangat egois, konyol, dan terlalu angkuh bahkan keterlaluan mengatakan kejujuran ini.

Saya sangat menghargai perasaan rindu. Saya rela di anggap kurang bermurah hati. Padahal, kalaulah saya membagikannya kepada pribadi-pribadi yang sedang kesepian, itu akan menghibur dan membuatnya bersemangat kembali. Tapi saya tidak mau melakukannya, karena saya setia.

“Abang tahu kenapa Anjing gue milihnya? Karena Anjing itu binatang favorit gue. Binatang yang paling pinter dan setia sama tuannya.”

Saya kukuh dengan rasa rindu saya. Tidak sembarangan berbagi, walaupun itu murah harganya menurut Anda. Saya merasakan, menahan rindu sangatlah menyakitkan sekaligus menyenangkan. Sejak seseorang berkata, “Aku kangeeenn!” Saya menyadari apa yang saya nikmati. Saat sedang merindukan dan mengatakannya pada seseorang – juga waktu mendengarkan orang lain menyatakannya dengan ketulusan hati.

Kalau merasa rindu. Saya tidak sungkan untuk mendengarkan lagu-lagu rindu di depan kantor, menggunakan earphone, sembari bernyanyi kecil dengan tatapan tak berisi namun jelas di hati. Pernah juga, saya menikmatinya dengan mengunci pintu kamar, mematikan lampu, lalu memandangi atau menikmati apa yang pernah saya terima dari orang yang saya sayangi itu. Sering pula saya memilih, berdiri di halaman terbuka, menatap bintang-bintang sambil mendoakannya dalam hati.

Kadang, saya terlalu menggebu-gebu ingin mengatakan, “Kau mesti tau sebabnya aku mengasihimu lebih dari apa pun yang ada dalam diriku. Itu karena ketulusanmu, itu saja, tidak lebih.” Sayangnya, saya terlalu sering keberatan untuk mengutarakan sembari memeluknya. Gengsi yang sulit ditaklukkan.

Itulah mimpi dan ekspresi kerinduan saya, yang tidak pernah Anda tahu sebelumnya. Sangat mudah mengucapkan “Aku rindu padamu.” melalui ponsel, jejaring sosial, ataupun surat. Tapi saya tahu, itu tidak akan membuat saya jauh lebih baik ketimbang saya menatapnya langsung.

Sayang, saya merasa pertemuan hari-hari tidak terlalu baik untuk dipaksakan. Namun, saya juga bersedih dan sedikit marah kepada situasi, yang lebih suka dan sering memaksa saya menjadi perindu yang setia.

Saya menerima, kesetiaan saya merindukan menjadi bagian paling kecil dari pengorbanan. Saya tidak tahu apa harga yang paling mahal. Saya hanya belajar bersiap untuk itu. Saya tahu, mustahil menitipkan tulisan rindu di pinggiran langit, apalagi pada terang bulan malam. Saya pernah berkhayal, kalau saya berhasil, ia akan tersenyum mengejanya dari kamar tidur, berbatas jendela penghalang, yang melindunginya dari angin malam dan rasa dingin.

Jadi, saya tetap tidak akan sembarang menaruh rindu. Menetapkan serta menjadikannya kesetiaan, itulah salah satu cara saya meyakinkan, dengan segala resiko yang menanti.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya saya tanpa rasa rindu. Sekali lagi, rindu itu menyakitkan sekaligus menyenangkan. Katanya, “Kalau kangen bisa apa…”

Menikmatinya, itu pilihan terbaik saat ini. Sebentar lagi, meskipun terasa lama, saya akan berdiri di hadapannya sambil berusaha berkata, “Aku, laki-laki, yang tidak berharap kehilangan rasa rindu padamu…”

Setia menjaganya sebagai tanda sayang. Sampai semuanya benar-benar memihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s