Pesan dari Lodaya Malam

Waktu menerima informasi libur Lebaran, saya bergirang! Saat itu, di kantor, saya ingin melompat-lompat sambil berteriak, “Horeeee! Horeee! Liburan!” Tapi saya tidak melakukannya, karena takut disangka stres. Saya begitu senang karena beban rutinitas pekerjaan dan beberapa kegiatan di luar kantor sejenak terlupakan. Belakangan, semangat saya memang menurun. Saya pun merencanakan berlibur ke Kota Gudeg bersama beberapa sahabat.

Kami berangkat Sabtu (18/8) malam, pukul 21.00, bertepatan dengan malam Takbiran, jelang Lebaran 1433 H. Sebelum itu, sorenya, saya mesti memberikan pelatihan menulis kepada puluhan anak muda. Karena sudah janji dan memang suka mengajar serta menulis, saya pun memenuhi janji tersebut. Tetapi, dasar sudah “bau-bau” liburan, di kepala saya, secepatnya mesti ke Jogja! Saya butuh suntikan semangat baru! Saya menginginkannya, supaya hidup saya tidak hanya begitu-begitu saja! Biarkan pikiran saya istirahat sebentar dan punya waktu untuk mengevaluasi pencapaian saya selama ini.

Saya sering merasa punya tanggung jawab yang besar. Baik itu di kantor, keluarga, juga pelayanan saya selama ini. Saya menjadi anak muda yang kadang merasa tidak lebih beruntung dari yang lainnya. Menganggap beban saya yang paling berat!

Malamnya, kami berdelapan pun berangkat, menumpang kereta Lodaya gerbong tambahan Lebaran. Tak apa, yang penting sampai Jogja dan yang pasti dilindungi Tuhan selama perjalanan. Satu jam perjalanan, kami saling bercanda sambil bertukar makanan. Setelah itu, memasuki jam kedua dan ketiga, beberapa teman ada yang sudah tidur. Saya pun berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa, hanya menutup mata, tidak pulas. Karena terganggu dengan suara rel kereta. Tapi itu resiko naik kereta kelas bisnis. Kalau mau nyaman mesti naik yang kelas eksekutif.

Seperti biasa, kereta sering singgah di stasiun-stasiun yang dilewatinya. Setiap kali berhenti, saya terjaga, dan biasanya ada pedagang yang hilir mudik menawarkan dagangan. Saya memperhatikan satu persatu. Ada seorang ibu, berusia sekitar 40 tahun, membawa nampan, sambil menggoda, “Nasi ayam… nasi ayam…anget…anget…” Ada pula beberapa bapak-bapak yang menawarkan jualannya, “Kopi…aqua…kopi….aqua…” Tak mau kalah, beberapa kakek pun hilir mudik, “Tahu…tahu…kacang..tahu…”

Saya hanya memperhatikan raut wajah dan mendengar suara mereka. Beberapa kali, saya mesti terjaga serta merekam perjuangan mereka untuk tetap bisa hidup di negara yang katanya kaya ini. Kalau saya mengingat cara mereka menawarkan barang dagangannya, tanda sekali mereka gigih, meskipun mesti mondar-mandir 8 sampai 10 gerbong untuk setiap kereta. Mereka juga bersedia standby, dari pagi hingga pagi, duduk di stasiun, tanpa takut masuk angin, dan merelakan waktunya bersama keluarga di malam Lebaran lewat begitu saja.

Kalau saja jualan mereka laku, tidak banyak untung yang akan mereka terima. Selain itu, mekanisme kerja mereka sangat beresiko. Saya membayangkan kalau saya menjadi mereka. Mungkin, saya hanya akan tahan berjualan satu hari saja. Mereka lain!

Mereka sadar, kalau tidak ngotot jualan, akan kehilangan kesempatan untuk membiayai dirinya sendiri, istri, dan anak-anaknya. Tidak ada yang tahu, berapa jumlah beban keluarga yang harus ditanggung, di mana mereka tinggal, kapan mereka bisa makan enak, sudah berapa anak-anaknya yang lulus SMA, atau jangan-jangan mereka hanya tamat SMP lalu dipaksa mencari nafkah karena keadaan ekonomi.

Saya, profesional muda, bekerja dengan gaya yang sedikit metropolitan. Tidak mesti susah-susah mencari duit, hanya tinggal duduk di meja kerja, buka laptop, cek email, membaca beberapa dokumen, membuat report, dan semacamnya. Saya tidak pernah seperti mereka, mencari uang dari subuh hingga subuh. Tetapi kenapa, dengan rutinitas itu, saya justru lebih sering tidak bersyukur, bahwa Tuhan telah membantu saya selama ini, sangat banyak, untuk menikmati kehidupan dengan gaya yang berbeda.

Kita sama-sama tahu. Ekonomi negara kita sedang sulit, berbagai kebutuhan cepat meningkat. Itu artinya, tantangan atau cara kita mendapatkan penghasilan akan lebih berat dari sebelumnya. Persaingan di mana-mana. Sama dengan para pedagang itu, kebutuhan serta persaingan mereka juga semakin ketat. Tetapi kenapa, para penjual itu, yang hanya berjualan pop mie, coca cola, energen, dan yang lainnya, tetap bersedia menjajakan barang-barang yang untungnya hanya sedikit. Walaupun kesempatan mereka berjualan singkat. Paling lama, dugaan saya, 15 menit saja untuk setiap kereta, dan kereta belum tentu mampir setiap satu jam.

Saya sadar, mereka itu berjualan di malam Takbiran. Malam di mana sahabat-sahabat Muslim bersama-sama menyambut kemenangan, mengumandangkan takbir dengan sukacita. Tetapi mereka, tidak! Saya tertegun dengan daya juang mereka dalam menjalani hidup. Saya berharap mereka sehat-sehat dan selalu bersemangat demi meraih kebahagiaan hidup, yang selama ini sudah dan akan terus mereka rasakan. Memang, tidak sebahagia, seberuntung, seenak, dan senyaman kehidupan Anda dan saya.

Terima kasih para pejual semangat. Sudah tidak ada waktu dan tempat bahkan alasan bagi saya lagi untuk tidak bersyukur, apalagi merasa orang yang punya persoalan paling besar di dunia ini. Kalau orang tanya, apa pesannya, yah itu! Selalu bersyukur, mengedepankan semangat kemandirian, bertumbuh dan berbagi, dengan melepaskan gengsi kenyamanan hidup.

Selamat bersemangat kawan-kawan! “Kopi…tahu…kacang…pop mie…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s