Rahasia Sukses Mentoring

Kalau Tuhan menitipkan seseorang atau lebih padamu, itu bagian dari tugasmu untuk mendorong dan membantunya memahami apa itu hidup dan bagaimana cara dia memajukan bangsa ini. Dengan segala resiko, terimalah anugerah ini.”

Anda semua perlu tahu. Kenapa saya begitu mencintai Indonesia dan generasi mudanya. Semua itu berawal dari perjumpaan saya dengan tiga orang hebat, yang secara elegan telah mendoktrin serta memperlengkapi saya dalam mengembangkan potensi diri. Sampai hari ini, silih berganti pun tantangan. Kenyataannya, spirit saya tidak luntur.

Sabtu (28/7) malam yang lalu, saya bertemu dengan seorang aktivis muda yang punya hati untuk memajukan bangsa ini. Aktif di organisasi kemahasiswaan dan menjadi mentor bagi para juniornya.

Awalnya, kami bercakap-cakap tentang apa itu panggilan hidup. Kalau Anda tanya soal itu, jawaban saya, “Kalau suka dan sudah beberapa kali experience, lalu dampaknya terasa bagi diri sendiri dan sekitar, nah udah itulah panggilan hidupnya.” Sahabat saya itu sempat bercerita tentang hal-hal yang sedang dia gumulkan. Terkait studi, program mentoring, dan profesi impiannya kelak.

Setelah selesai soal panggilan hidup, kami membahas apa itu mentoring. Apa model yang efektif dan bagaimana menentukan target atau parameter sukses tidaknya model bimbingan tersebut.

Kita perlu sadar. Ketika ada seseorang yang Tuhan titipkan pada Anda atau saya, itu artinya kita dipercaya untuk mendorong serta membantu supaya sama-sama bertumbuh, dan kita pantas menjadi temannya. Seperti itulah pemahaman saya tentang mentoring. Mentoring bukan soal senior-junior, pintar-lemot, dewasa-kekanakan, mampu-tidak mampu, dan semacamnya. Mentoring itu tentang relasi yang saling membangun.

Sahabat saya itu bercerita bagaimana ia selama ini berupaya mendorong adik-adik bimbingannya untuk lebih inisiatif dalam mengembangkan diri. Selama ini, ia merasa koalisi pemuridannya kurang bergairah. Ia merasa adik-adiknya kurang proaktif untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat menambah wawasan dan pengenalan mereka akan tantangan hidup.

Merespons ceritanya, saya berkisah apa yang membuat saya proaktif dalam pengembangan diri. Saya bersedia tidak tidur dua hari dua malam jika diberi kesempatan mengikuti pelatihan public speaking atau menulis. Ini soal kesadaran bahwa kegiatan yang saya ikuti akan membantu saya mencapai apa yang saya impikan dalam hidup ini. Kalau saya merasa itu bermanfaat maka saya datang.

Sadar akan manfaatnya, itu alasan utama. Alasan lainnya, mentor-mentor saya, selama ini berjuang keras mendorong pembentukan karakter, pola pikir, gaya hidup, dan yang terpenting spiritualitas saya. Mereka berkomunikasi dengan cara yang unik dan saya tidak menyadari bahwa mereka sedang memaksa saya untuk berkembang. “Sar, lagi di mana? Kita ngopi yuk!” Itu salah satu cara mereka mendatangkan saya. Pernah juga begini, “Lagi sibuk ‘Sar? Bisa datang ke acara diskusi buku? Kita udah pesen kursi buat kamu.”

Dalam proses mentoring, yang terutama, pemahaman bahwa kita akan bertumbuh bersama. Untuk itu, kita perlu mengkreasikan cara berkomunikasi, berdiskusi, dan sebagainya. Saya tidak bisa membayangkan, kalau saja dulu abang-abang saya itu mengajak saya bertemu hanya untuk menghakimi dan mengatakan bahwa “saya masih kecil”. Mereka cerdik, tidak memakai cara-cara yang kaku dalam mendidik saya. Mereka mengasah serta mendewasakan pemikiran saya dengan pengalaman-pengalaman nyata mereka di keluarga, kantor, gereja, masyarakat, juga nasional.

Selain itu, mereka tidak segan-segan memberikan ruang maupun kesempatan yang sangat beresiko pada saya. “Sar, ada program katekisasi dialogis. Bisa bantu jadi fasilitator?”  Waktu itu saya masih hijau dan merasa belum mampu. Tetapi karena merasa terhormat diberi kesempatan, saya pun mengambil tanggung jawab tersebut. Tanpa disadari, setelah itu, saya berkembang di luar yang saya bayangkan sebelumnya.

Selanjutnya, saya diberikan ruang bermain yang lebih besar. Didorong mengikuti diskusi-diskusi di luar Bandung, terjun ke kelompok-kelompok massa, dan sebagainya. Mereka berhasil membuat saya “luar biasa”. Lebih lagi waktu mereka menawarkan program media online. “Ayo, kamu pasti bisa! Semangatmu, itulah modalmu!” Kata salah satu dari mereka bertiga.

Saya juga ingat, selama menjalani semua tantangan yang mereka tawarkan. Mereka tidak menghakimi saya, baik itu waktu melakukan kesalahan bahkan ketika tidak mencapai ekspektasi mereka. Justru mereka selalu mengatakan, “Ah! Udah paten itu! Mainkan!” Padahal, setiap kali hendak melaporkan progress suatu kegiatan, saya selalu takut dan minder!

Mentoring, kuncinya, menumbuhkan kesadaran bahwa kita akan berkembang bersama, mengkreasikan sesuatu supaya tidak kaku, berkomunikasi dengan cara-cara yang lebih manusiawi, memberikan kesempatan terbaik dan penghargaan, seburuk apa pun hasil yang dicapai oleh adik-adik bimbingan kita.

Itulah cara abang-abang saya itu selama mendidik saya. Kalau orang tanya, “Apa abang nggak terbeban dengan semua prestasi mentor-mentor abang itu?” Sejujurnya, saya berbeban besar. Karena secara spiritualitas, intelektualitas, jabatan, dan populeritas saya kalah! Tapi saya tahu, dengan saya tetap konsisten menjadi sahabat bagi generasi muda di kota Bandung, itu sama dengan saya melanjutkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini demi Merah Putih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s