Siapa Penerus Kornel Mandagi Sihombing?

Di mata saya, dia bukan hanya sekedar fasilitator. Dia melebihi motivator yang sering tampil di televisi nasional. Kesungguhan, kecerdasan, dan kharismanya, membuat saya selalu terpesona. Saya tahu, tidak mudah untuk memulai kelas tahun ini, tanpa dia.

Tahun ini, kali ketujuh kelas Leadership Development Program (LDP) akan dimulai. Tepatnya, 3 sampai 24 November 2012 nanti. Biasanya, tim sudah memulai persiapan sejak satu bulan sebelumnya. Kesempatan kali ini, saya memilih, memberikan ruang kepada teman-teman co-fasilitator untuk menjadi manager tim, dan saya sudah berpikir, hanya akan terlibat sedikit saja.

Kali ini, saya bertugas mengawali persiapan dengan membuat poster dan mengirimkannya kepada tim. Pikir saya, tim ini banyak sekali, saya ambil saja data tim tahun lalu, toh tidak banyak berubah. Saya pun meng-copy semua alamat email tim tahun lalu, dan saat hendak mengirim, saya membaca alamat-alamat email itu sebelum menekan tombol send. Ada satu nama yang seketika membuat saya tergetar! Ingin menangis! Ingin berteriak! Alamat itu, km.sihombing@gmail.com.

Saya jadi ingat bagaimana tahun-tahun sebelumnya, kami selalu bersama mempersiapkan materi, model kelas, kebutuhan peralatan, analisis kebutuhan peserta, dan yang lainnya. Dia, Kornel Mandagi Sihombing, yang selalu rinci dalam mempersiapkan apa pun yang akan dibagikannya kepada setiap orang.

Dia tidak pernah asal-asalan membagikan, meskipun dia sudah ahli dalam banyak hal, terutama terkait leadership, manajemen, dan mentoring. Kalau Anda memintanya untuk bicara di acara pertemuan besar maupun kecil, dia bersedia asalkan tidak bentrok dengan pekerjaan juga tidak mepet, sehingga dia punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan materi.

Dalam kelas LDP, Bang Onye, panggilan akrabnya, kebagian Sesi Seni Memimpin. Sesi tersebut masuk dalam agenda pertemuan minggu pertama, setelah Seminar Tantangan Kepemimpinan Masa Kini. Minggu berikutnya sesi; Komunikasi Efektif, Kerjasama Tim, Pengembangan Diri, Motivasi, Visi Misi, dan Perencanaan Pelayanan.

Kalau dia gagal meyakinkan bahwa kepemimpinan itu adalah kebutuhan kepada peserta, maka pertemuan-pertemuan berikutnya terancam sepi bahkan tidak diselenggarakan. Dia memang pembuka jalan. “Hebat kau, bang!”

Setiap kali bertemu untuk mempersiapkan kelas. Bang Onye yang paling antusias namun soft dalam memberikan usulan. Misalnya, saat kami membicarakan pembagian co-fasilitator, dia lebih memilih memperbaharui materinya juga model mengajarnya. Hanya satu yang sering dia katakan kepada para co-fasilitator, “Jangan lupa yah, di list semua peralatan yang dibutuhkan, supaya tidak lupa untuk disiapkan, sehingga kelas berjalan dengan baik dan tepat waktu.”

Saya masih ingat persiapan LDP dua tahun lalu, bersama saudara ideologis saya, Richard Sharon, pulang larut malam, hanya karena kami mesti menggunting kerta ukuran 10x30cm, dan memastikan peralatan untuk kelas besoknya sudah siap.

Kalau Bang Onye sudah masuk dan memulai kelas, orang-orang seisi ruangan akan terpesona, mendapati dengan kesadaran, bahwa Vice President Marketing PTDI itu memang lain. Kharismanya menggetarkan hati! Gaya bicaranya terstruktur, tegas meyakinkan, kelihatan orang sekolahan, senyumnya khas, dan dia mampu menghidupkan kelas dengan pemikiran maupun pertanyaan-pertanyaan baru.

Tahun ini, dia tidak lagi ada di kelas LDP. Abang yang sering berkata, “Udah paten itu! Maenkan!” sudah pergi menghadap Sang Pemimpin Sejati, Yesus Kristus. Itulah tujuan terakhirnya, yang sangat dia impikan. Bagi saya, sangat berkesan, dia ujung tombak kesuksesan kelas-kelas leadership sebelumnya, tanpa mengesampingkan fasilitator yang lainnya.

Tidak mudah untuk mengakui dan menjalani, selama empat minggu, setiap Sabtu, di bulan November nanti tim tanpa Bang Onye. Kalau mesti menjujurkan hati, saya masih merasa ia ada bersama saya. Dia hanya pergi dinas ke luar negeri, dan seperti biasa, dia akan membawakan saya cerutu atau buku.

Saya rindu dia meneriakkan, “Grace! Grace! Grace! Serve! Serve! Serve!” Itu yel-yel yang kami sepakati sebagai spirit leader. Hidup di dunia adalah anugerah dan melayani sebagai panggilan hidup. Ah, saya tidak pandai menjelaskan maknanya. Bang Onye lebih piawai memaparkannya. Ia selalu melakukannya di kelas.

Di kepala saya terpikir, siapa penerus abang yang menjadi pemilik kesederhaan hidup itu? Pribadi-pribadi yang menyadari hidupnya sebagai anugerah dan melayani merupakan panggilan, yang selalu mempersiapkan diri dalam menjalani tanggung jawab juga tidak kaku terhadap perubahan, dan yang mempraktekkan kesederhanaan sebagai visi, itulah orang-orang yang menjadi penerusnya.

Kepenuhan hidup telah diraihnya. Sebagai ayah, leader, mentor, abang, teman berbagi dan berantem. Dia sudah menyelesaikan pertandingannya demi kemuliaan Allah.

Dengan dasar itu, kita yang pernah bersamanya, meneruskan apa yang selalu dia katakan di kelas, “Pemimpin itu adalah orang yang berhasil mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.” Apa tujuan itu? Tentu untuk mewujudkan damai sejahtera Allah di dunia ini. Dengan apa pun resikoNya. Selamat datang LDP 2012! Onye! Grace and Serve!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s