Transformasi Diri Demi Keluarga, Gereja, dan Bangsa

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  – I Timotius 4: 12

Setiap orang tua berharap anaknya menjadi pemimpin. Mandiri secara spiritualitas, intelektualitas, dan ekonomi. Dengan demikian, menjadi kebanggaan bagi keluarga. Seorang anak berkeinginan meraih cita-cita dan menyenangkan keluarganya. Tidak mudah mewujudkan kedua harapan ideal tersebut. Terkadang hubungan anak dengan orang tua menjadi tidak harmonis karena ‘saling menuntut’.

Dulu, orang tua saya kaku dalam mendidik serta berelasi dengan anak-anaknya. Dalam pikiran mereka, “Penuhi kebutuhan hidup anak. Mulai dari biaya studi, fasilitas seperti motor, mobil dan yang lainnya. Semuanya akan berjalan seperti yang diharapkan.”  Pola yang seperti itu membuat kehidupan saya statis.

Tahun 2000 silam, orang tua meminta saya kuliah. Saya memilih Bandung, walaupun saya tidak tahu apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup ini.

Saya memilih jurusan yang tidak saya sukai, tidak serius kuliah, berpindah-pindah kampus, meladeni pergaulan yang tidak sehat, sering menipu orang tua dan hubungan kami menjadi sangat buruk, hingga akhirnya keluarga saya menderita.

“Bangkit atau jatuh itu pilihan.” Saya memutuskan bangkit tahun 2006, melalui perjumpaan dengan orang-orang hebat. Salah satunya, Alm. Ir. Kornel Mandagi Sihombing M.Sc, yang Tuhan utus untuk mengingatkan bahwa saya pemuda yang sangat bernilai dan dikasihi Tuhan juga keluarga.

Bagi Tuhan, saya dan dunia ini berharga. Sampai-sampai Ia rela menderita! Terlentang, terpaku, diolok-olok, berduri perih berdarah, tersalib! Sejak menyadari itu, saya mulai mencari, untuk apa saya ada di dunia ini dan apa panggilan hidup saya.

Saya menata kembali kehidupan saya. Menempatkan apa yang menjadi prioritas. Bagaimana agar menjadi kebanggaan keluarga, juga menjadi pemuda yang berdampak baik bagi kemajuan gereja dan negara.

Tahun 2008 saya lulus kuliah. Hubungan saya dengan keluarga mulai membaik, bahkan saya bisa seperti teman saat berbicara dengan kedua orang tua juga adik-adik saya. Relasi kami kembali hidup!

Dalam masa pergumulan profesi, saya semakin rajin menulis dan giat di berbagai komunitas pengembangan potensi anak muda. Saya senang menjalaninya, dan itu tidak bisa digantikan dengan penghargaan sebesar apa pun.

Akhirnya, saya mendapatkan pekerjaan dengan upah pas-pasan. Waktu itu takut dan malu mengatakan kepada orang tua. Tetapi saya sampaikan juga, ayah saya merespon, “Sar, berapapun gaji seseorang, itu bergantung cara kita memandang dan menggunakannya.” Saya takjub! Maklum saja, bapak pegawai BUMN ternama. Saya tahu betul cara pandang beliau sebelumnya tentang penghasilan.

Dua tahun bekerja, ibu saya sering meminta pulang ke Jambi, supaya bisa mendapatkan gaji yang lebih besar di perusahaan ayah saya bekerja. Saya mengatakan, “Mak, aku di Bandung aja. Selain bekerja, aku juga pelayanan, menjadi sahabat bagi anak-anak muda.” Awalnya ibu saya tidak mengerti, namun perlahan mulai memahami panggilan hidup anaknya.

Setiap keluarga memiliki tantangan. Sejak saya lulus dan bekerja, kedua orang tua dan adik-adik saya selalu meminta pendapat setiap kali berhadapan dengan persoalan. Bersyukur mereka selalu mempertimbangkan apa yang saya usulkan.

Menyaksikan dan merasakan pertumbuhan dalam diri saya. Keluarga yang tadinya kaku, belakangan menjadi lebih luwes dalam memaknai dan menjalani hidup. Tidak lagi mengacu pada trend ekonomi maupun sosial.

Semisal, pemuda seusia saya, 30 tahun, rata-rata sudah diminta menikah oleh orang tuanya. Tak jarang ditakuti-takuti, “Bapak dan ibu sudah tua. Selagi masih sehat, cepatlah menikah, nak…” Berbeda dengan orang tua saya, “Bapak tidak memaksamu menikah secepatnya. Saat kamu merasa siap, saat itulah kamu menikah.”

Tuhan telah mentransformasi saya juga keluarga. Meski proses itu tidak mudah untuk dilewati. Ada airmata, kekecewaan, dan sukacita bercampur jadi satu – dan kita akan terus berhadapan dengan berbagai tantangan. Saya bersyukur bisa menjadi salah satu penentu keputusan di dalam keluarga, juga sebagai abang bagi puluhan adik didik yang Tuhan titipkan.

Kegemaran saya menulis terus berkembang, begitu pula dengan kesukaan mengajar. Tahun 2009, saya mendirikan media online, sampai sekarang terus berkembang, di dalamnya bergabung puluhan pemuda-pemudi cerdas dari berbagai kampus dan daerah. Sering pula saya diberi kesempatan mengisi seminar, diskusi, pelatihan-pelatihan jurnalistik dan leadership.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya. Tuhan telah mengubahkan pondasi saya. Dengan sabar dan setia Ia merangkul. menghajar, dan mengutus saya demi mewujudkan KasihNya bagi banyak orang.

Dalam kemudaan, Tuhan mentransformasi diri saya lebih dulu, lalu keluarga, gereja, dan akhirnya bangsa ini. Sama seperti Anda, dipakai Tuhan untuk mewujudkan damai sejahtera bagi sekeliling.

Saya tidak tahu persis apa yang Anda hadapi saat ini. Kita generasi muda dan anggota keluarga yang berharga di mata Tuhan. Berguna bagi keluarga, gereja, juga bangsa ini.

Waktunya kita terbang lebih tinggi. Berusaha tidak jatuh lagi, dan menjelajah lebih luas, demi menikmati dan menyatakan kebesaran serta kebaikan Tuhan. Bangunlah generasi! Grace and Serve!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s