Kertas-Kertas Harapan (Cinta)

“Bang, kalau mau tidur pakai selimut yah. Selamat ulang tahun!” – Sorta Lidia Caroline

Tiga tahu terakhir, setiap kali berulang tahun, saya selalu menerima kado terbaik dari orang-orang terkasih. Tahun 2010 lalu, novel Perahu Kertas, dengan semena-mena, diletakkannya di bawa selimut lusuh, di atas kasur yang sudah hampir busuk.

 “Heh! Terima kasih Perahu Kertasmu! Aku akan menceritakan kelanjutannya.”

Minggu (7/10) lalu, saya menyaksikan film Perahu Kertas 2. Sebelum membeli tiket, Anya mengirimkan pesan dan kami berbalasan.

“Perahu Kertas, yukk…”

“Jam brapa maunya?”

“Boleh liatin jadwalnya? Nggak full service aku.”

“Ok, gue liat dulu yah. Eh, abang belum nonton yang part 1 yah?”

“Belum. Gpp, ntn aja, santai…”

“Yeay! 14.40 atau 16.50. Kayaknya sih 16.50 aja yah, biar nggak buru-buru.”

Saya memang belum menonton film Perahu Kertas bagian pertama, tapi saya tidak keberatan menemani Anya menyaksikan bagian kedua. Saya mengingat, beruntung tahun 2010 lalu Sorta menghadiahi novel Perahu Kertas. Saya sempat membacanya walaupun tidak sampai selesai, tetapi saya jadi tahu apa latar film tersebut di bagian pertama.

Persahabatan empat anak muda. Saling membangun, berantem, berasmara, dan selalu berupaya mewujudkan apa yang menjadi mimpi mereka. Ah, saya tidak akan berpanjang lebar, saya hanya ingin menceritakan apa yang saya terima selama menyaksikan film tersebut.

Saat masuk ke bioskop, ramai sekali! Film tersebut diperuntukkan bagi remaja. Kebanyakan yang menonton sudah tidak remaja. Apa yang mereka cari dari film ini?

Flm ini tentang cinta dua sejoli yang sudah lama bersahabat. Sebelumnya mereka berpikir bahwa mereka hanyalah sahabat yang akan saling mendukung. Kenyataannya, mereka menyimpan perasaan yang sama dan kuat. Mereka dibawa oleh terpisah jauh sekian lama, hingga akhirnya berjumpa kembali dalam suasana yang berbeda. Namun mereka tahu, dengan ketulusan, mereka akan memenangkan hidup. Kugy dan Keenan mengajarkannya.

Kugy punya kekasih, keenan memiliki pacar. Keduanya sama-sama merasa bahwa cinta mereka tidak akan bertemu karena sudah sama-sama berpasangan. Tetapi apa yang terjadi, mereka tidak bisa membiarkan hati mereka terus menderita. Sampai suatu ketika, Remi, kekasih Kugy, dengan kedewasaan mendorong Kugy untuk menjemput cintanya, Keenan. Begitu juga dengan Luh Deh, meminta dengan elegan, supaya Keenan mengambil kembali hatinya yang sudah lama digadaikannya.

Lain lagi dengan perasaan Payan, kerabat Lu Deh. Awalnya ia sangat kecewa dengan seorang wanita yang dia kasihi, sampai-sampai untuk waktu yang lama, ia menyendirikan hatinya, membuat patung tanpa kepala. Ia sempat berkata pada Luh Deh, “Berikan cintamu pelan-pelan, jangan sekaligus.”

Di kemudian hari hidup Payan berubah jauh lebih baik karena ia menemukan cara menumpahkan cintanya yang sudah lama tersimpan. Selama Luh Deh berpacaran dengan Keenan, Payan mencurahkan semua cintanya pada Keenan, anak dari wanita yang dikasihi Payan.

Lain pula papanya Keenan. Bertahun-tahun ia memaksakan Keenan untuk meneruskan usahanya, padahal Keenan tak menyukainya. Passionnya bukan disitu! Sampai akhirnya beliau meminta Keenan untuk tidak hidup dalam dua dunia. Ia merasa Keenan akan merasakan keutuhan hidup saat ia melukis. Akhirnya Keenan melanjutkan gairahnya, melukis!

Soal Kugy, ada yang kurang saya pahami. Kugy seolah-olah superstar yang memaksakan khayalannya mesti menjadi kenyataan sekaligus memanipulasi orang-orang didekatnya supaya menerima apa yang dia mau. Misalnya, ada banyak hal yang sama antara Remi dan Keenan. Mulai dari mobil, jam tangan, dan khayalan Neptunus. Kita tidak bisa mencintai seseorang lalu menyamakannya dengan khayalan bahkan kisah cinta kita terdahulu. Ini hanyalah perspektif saya, tidak adil rasanya.

Saya setuju dengan ucapan abangnya Kugy, “Cinta itu bukan memilih…” Mencintai itu bukan memilih siapa yang akan dicintai. Tetapi kesadaran bahwa cinta itu akan membawa kita menemukannya. Kalau saya memilih cinta saya, itu artinya ada lebih dari satu di dalam hati ini, sampai harus memilihnya. Cinta itu hanya satu, tidak dua bahkan satu juta.

Satu hal lagi yang saya dapat, mimpi harus didoakan sekaligus diperjuangkan supaya terwujud. Seperti Kugy yang selalu mengirimkan doa serta isi hatinya lewat Perahu Kertas di sungai atau laut. Rahasia selanjutnya, mengakui dengan jujur apa isi hati lalu mengupayakan cara-cara yang bisa dipahami serta diterima oleh semua orang, dan itu tidak mudah. Dimulai dari keluarga, sahabat, dan akhirnya dunia ini.

Langit sedang melukis hidup saya dan Anda. Kalau pemilik langit menyatukan, kita akan bersatu. Sebab, sepiawai apa pun kita menulis, berpuisi, bergombal riang, dan berjuang, penentunya Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s