Pahitnya Kesedihan yang Memenangkan

Sehari sebelum pulang ke Bandung, laptop kesayangan saya tiba-tiba tidak bisa menyala. Beberapa kali saya tekan tombol power tetap tidak membaik. Seketika, hancurlah hati saya! Laptop itu adalah barang pertama yang saya beli dengan uang sendiri tahun 2009. Saya meminjam uang orang tua, menyicilnya selama setahun.

Laptop itu menemani saya kurang lebih 4 tahun. Baik dalam bekerja juga pelayanan lainnya. Kadang saya merasa laptop itu lebih berharga dari wanita. Saya tidak mau bohong, hati saya sangat sedih. Kalau pun diperbaiki, selisih biaya perbaikan dengan beli baru hanya sedikit. Memang, akhirnya saya menerima laptop baru dari kantor, membuat beban saya sedikit banyak berkurang. Tapi tetap saja, tak selamanya yang baru itu menggembirakan dan yang lama itu tak berharga.

Betapa pedihnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Masih jelas dalam ingatan saya, kepergian Kornel M. Sihombing Mei 2012 silam. Pahit! Seperti mengunyah ribuan empedu yang terus diam di dalam mulut. Bahkan sampai hari ini saya merasa beliau tidak pernah benar-benar pergi dari hati dan pikiran saya.

Saya sangat sering diperhadapkan pada keadaan antara “kehilangan atau sesuatu yang baru(misteri)”. Saya menjadi tidak suka pada sesuatu yang baru karena masih teka-teki. Sedangkan yang lama sudah jelas apa, siapa, dan bagaimana merencanakan kedepannya. Tuhan sering membuat kehidupan manusia seperti itu.

Ada sesuatu yang pergi dari hidup saya belakangan ini. Melebihi laptop yang saya kasihi! Kepergiannya mengingatkan saya akan kepedihan saat Bang Onye pergi. Saya merasa betapa lemahnya saya belakangan.

Sampai-sampai  tidak ada visi dan misi yang saya pikirkan awal tahun ini. Sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali saya kembali ke Bandung dari Jambi, selalu ada yang baru, yang membara, yang mesti saya wujudkan.

Dalam keadaan yang sangat lemah, beberapa BBM saya terima. Tentang  pelayanan juga tantangan ini dan itu. Namun, saya tidak bergairah. Tidak berapi-api seperti sebelum-sebelumnya.  Saya sempat membaca status Blackberry Pdt. Albertus Patty, “Kelemahanku KemuliaanMu!”

Saya tahu apa maksud status tersebut. Tapi saya tidak memahaminya dengan kesadaran yang sebenarnya. Saya bertanya pada Tuhan, “Kelemahan yang sampai kapan dan teruskah itu akan diberlakukan dalam hidup setiap manusia?” Saya protes, ”Oh! Tuhan! Sakit lho rasanya kalau dalam posisiku yang sekarang. Sayang, Tuhan nggak bisa ditawar dan aku tidak berniat menjadwalkan negoisasi.”

holycross“Kalau Tuhan maunya A, yah mana bisa B. Itu yang saya yakini. Mau seberapa lelah kita mesti melewati jalan yang berliku, toh kalau Tuhan tidak mengijinkan apa yang kita inginkan, yah mesti diterima. Sebabnya Tuhan itu pencipta dan penguasa dunia ini.” Itulah yang selalu saya usahakan ada di hati dan pikiran saya.

Ditengah kelemahan saya, yang kali ini memang dahsyat. Membuat saya tidak terlalu bernafsu dengan misteri yang kadang-kadang memang lebih banyak menyimpan kejutan kebahagiaan. Saya acapkali mengalaminya di tahun-tahun yang lalu. Tuhan telah berkarya luar biasa! Menempah kehidupan saya sedemikian tekunnya, sehingga saya bisa kuat dan menang atas apa yang jadi tantangan saya saat itu.

13 Januari 2013 malam, sebelum tidur, saya iseng membaca update status Blackberry teman-teman. Seseorang yang sangat dekat dengan kehidupan saya menuliskan sebuah kutipan ayat yang tidak asing bagi saya, Yesaya 41:10. Entah apa yang mendorong, lalu saya mengambil  Alkitab, pemberian mantan kekasih 8 tahun lalu.

Saat saya membuka lembar pertama, ada tulisan tangan, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” itulah isi Yesaya 41:10.

Saya ingat, ayat itu yang diberikan Pdt. Mudarta saat memberikan Alkitab pertama saya, waktu itu saya masih kelas 6 SD. Ah, saya jadi ingat masa kecil dulu.  Saya memang menghabiskan sebagian masa sekolah minggu saya di Gereja Methodist Indonesia Jambi.

Setelah membaca ayat itu, saya juga sempat membaca kisah Yesus yang dicobai setelah berpuasa 40 hari 40 malam lamanya.  Sebelum tidur, dengan kelemahan yang terus membuat saya semakin tak berdaya, saya berusaha untuk berdoa, walaupun hati ini sedang tidak ingin bercakap-cakap dengan Tuhan.

Bangun pagi, saya langsung bergegas ke kantor, dengan dugaan pekerjaan yang menumpuk dan mesti cepat diselesaikan. Sesampainya di kantor, saya mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan sambil mendengarkan beberapa lagu, salah satunya,“Kau Tetap Allah”, penyanyinya Nikita. Berikut potongan liriknya:

Selamanya Kau tetap Allah

Walau dunia semua bergoncang

Tak tergoyahkan Kau tetap Allah

“Sebuah pengharapan dan keandalan, tetap kepadaMu, Tuhan. Walaupun tidak ada yang aku mengerti belakangan ini. Terima kasih….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s