30 Menit Bersama Oneng

RiekeSemasa kuliah tingkat tiga, sekitar tahun 2002, saya paling suka menyaksikan sitkom Bajaj Bajuri. Begitu juga dengan kedua orang tua dan adik-adik saya. Mereka selalu terbahak-bahak menikmati akting Mat Solar, Rieke Diah Pitaloka, juga pemeran lainnya. Selalu saja saya puas tertawa menyaksikannya, beragam kekonyolan membuat beban-beban hidup menjadi ringan.

Saya masih ingat betul, adegan Oneng dengan tangannya yang sambil menggaruk-garuk kepala. Hahaha… itu membuat saya sangat terhibur. Memang sitkom tersebut tidak hanya menyajikan komedi, tetapi juga menggambarkan kondisi masyarakat perkampungan di Jakarta. Kesederhanaan juga sangat kental, sedikit banyak mempengaruhi cara pandang kita. Sejujurnya, saya sangat ingin bertemu dengan Oneng sejak menonton Bajaj Bajuri.

Tahun 2012 lalu, saya lupa tepatnya. Waktu itu, saya menjadi bagian dari panitia diskusi tentang “Kekerasan Negara”. Kebetulan Oneng menjadi salah satu narasumber. Sebagai panitia, saya pun datang lebih awal. Biasanya pembicara datangnya agak sedikit molor. Tapi lain kali ini, ternyata Oneng sudah lebih dulu hadir dari waktu yang dijadwalkan.

Karena start diskusinya masih lama, Oneng meminta ditemani minum kopi di seberang gedung. Nah, karena hanya ada saya disana, maka saya memberanikan diri menemaninya. Kami pun pergi ke warung kopi tersebut.

Saat duduk, saya grogi. Karena saya tidak membayangkan akan bertemu bintang film yang dulu sering saya saksikan di televisi. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan itu dan tidak akan saya sia-siakan.

Setelah memesan kopi, saya bertanya-tanya tentang kegiatan Oneng sebagai anggota DPR RI. Yang saya ingat, kami membicarakan tentang UU BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Oneng sangat kekeuh memperjuangkan UU tersebut dieksekusi supaya masyarakat Indonesia mendapatkan jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan yang lainnya. Karena itu memang hak rakyat.

Lebih lanjut, kami juga membicarakan bagaimana praktek-praktek korupsi. Waktu itu saya keceplosan:

“Mbak, selama menjalankan kegiatan sebagai anggota dewan, berkunjung kesana-kemari, dananya dari mana selain dari gaji?”

“Iya dengan jualan buku, makanya aku datang kesini diskusi. Selain ikut mencerdaskan anak-anak muda yah sambil jualan bukuku, dari situ aku bisa terbantu membiayai operasional untuk mengabdi pada rakyat.”

“Memangnya mbak nggak ikutan ambil proyek-proyek gitu?”

“Oh nggak, hanya bekerja sebagai wakil rakyat, mencari biaya operasional mandiri. Itu tuh lihat, dua orang yang membantu aku. Mereka itu yah aku ajakin jualan bukuku itu.”

Saya juga menanyakan tentang aktivitasnya terkait buruh. Ia menjelaskan, kebetulan waktu itu berdekatan dengan Hari Buruh. Ia menceritakan apa-apa saja yang perlu diperjuangkan untuk kesejahteraan buruh dan bagaimana persiapan di daerah-daerah jelang May Day.

Saya tidak lama menemani Oneng, kurang lebih 30 menit. Tetapi itu mengubah pikiran saya. Dulu Oneng hanyalah seorang artis yang mahir menghibur, tidak mengerti apa itu politik. Sekarang ia sangat getol memperjuangkan hak-hak buruh, berani bersuara untuk jaminan kesehatan dan hari tua masyarakat Indonesia. Kenyataan lainnya, Oneng sangat terdidik. Gaya bicaranya terstruktur dan tegas. Oneng  keliatan sekali “berisi”.

Setelah itu kami pun menuju ruang pertemuan, berdiskusi dengan puluhan peserta. Saat acara diskusi berlangsung, saya meminta seorang teman untuk mewawancarainya setelah diskusi usai. Teman saya itu gugup setengah mati karena Rieke itu idolanya. Apa yang terjadi?

Setelah saya sampaikan kepada Oneng, Ia langsung merangkul teman saya itu dan mereka pergi ke warung kopi tempat kami sebelumnya bercerita. Sepulang dari wawancara, saya tanya, “Dek, gimana? Asik nggak?” Dia menjawab, “Bang, keren banget! Oneng itu nggak sombong. Asik banget buat diwawancara. Aku udah minta nomer hpnya…”

Oneng. Saya ingat betul. Ia menepati janji untuk terus mengawal UU BPJS dan membantu memperjuangkan hak-hak buruh. Sekarang ia maju sebagai calon gubernur Jawa Barat bersama Teten Masduki.

Oneng sudah berkarya nyata selama ini lewat kapasitasnya sebagai anggota dewan. Begitu pula Teten Masduki sebagai aktivis anti korupsi. Rekam jejak mereka bersih, nyata, dan dirasakan banyak orang.

Mereka mampu memperbaiki Jawa Barat dan Indonesia. Seperti yang sedang dilakukan Jokowi-Ahok! Semoga jadi yah, mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s