Fenomena Kencan Pertama

“Waktu dulu ngedeketin, semuanya murah! Sekarang, udah pacaran, semuanya mahal!” – Marissa Stella

Banyak cara memenangkan hati seseorang yang kita sukai. Selama pedekate, optimalkan semua kemampuan dan kesempatan! Mengupayakan yang terbaik, agar sang pujaan merasa dihargai dan akhirnya jatuh dalam pelukan. Yang keliru, tampil sebaik mungkin tanpa menjadi diri sendiri, apa adanya.

Tidak salah tampil sebaik mungkin di depan orang yang kita kagumi. Baik itu penampilan fisik, cara bertutur, dan yang lainnya. Seorang laki-laki, saat kencan pertama akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mulai dari pemilihan baju, celana dan sepatu, model rambut, juga isi dompet. Begitu pula dengan wanita.

Ada banyak alasan kenapa laki-laki dan wanita demikian. Umumnya, karena senang mendapatkan kesempatan mengenal pribadi dambaannya. Sayangnya, karena terlalu senang, keduanya sering salah tingkah. Salah satunya, laki-laki sering lebih insiatif menyelesaikan tagihan kencan pertama. Takut dianggap pelit. Lebih fatalnya, dinilai tidak mengerti cara memperlakukan Kaum Hawa. Ini soal gengsi.

Sementara wanita, karena kencan pertama laki-laki yang membayar tiket bioskop dan makan malam. Menjadi sungkan gantian membayar di kencan selanjutnya. Takut menyinggung perasaan laki-laki. Akhirnya, seolah menjadi kebiasaan. Padahal ia sendiri tidak terbiasa ditraktir.

Perkara merespons suatu topik. Wanita dan pria lebih sering kelihatan “solutif” semasa proses pendekatan. Akibatnya menyimpulkan dengan cepat, “Oh, dia orangnya pengertian dan dewasa kok. Cerdas dalam memberikan solusi. Udah gitu lemah lembut, bukan tipikal pemarah atau pencemburu.” Setelah pacaran, “Kok dia marah mulu yah bawaannya! Nggak dewasa ternyata!” Kita kelihatan dewasa periode pendekatan, menjadi kanak-kanak setelah berpacaran.

Kebiasaan timur mendorong wanita lebih hati-hati mengungkapkan perasaan ketimbang pria. Wanita cenderung menunggu ajakan kencan, telepon, sms, BBM, apalagi ungkapan isi hati. Apa salah kalau perempuan lebih dulu inisiatif?

Pernahkah para wanita berpikir, seorang pria yang diperlakukan berbeda dari lazimnya akan sangat bahagia? Seorang pria memiliki penilaian yang spesial terhadap wanita yang berani menuntaskan biaya kencan mereka.

Budaya dan zaman telah mendorong kita sungkan untuk lebih proaktif dan belajar menerima diri apa adanya. Kita perlu menyadari, saat menyukai seseorang, kita sedang berhadapan dengan diri sendiri. Bagaimana menaklukkan ego juga menghargai diri lebih dulu, apa adanya, kemudian berproses menemukan irisan nilai hidup calon pasangan kita.

Usulan lain, sebaiknya kita tidak terburu-buru mengatakan “yakin mencintai” atau ungkapan semacamnya. Karena keyakinan itu tidak terbentuk seketika. Sama dengan “menerima apa adanya” adalah proses.

Hari ini dia bisa menerimamu buang angin di depan umum, esok apalagi kebiasaan yang belum ia ketahui, dan apakah ada jaminan menerima apa adanya? Kalau ada seseorang yang dengan cepat mengatakan yakin atau menerima apa adanya, sangat perlu diragukan – dekat dengan bualan.

Menjadi pribadi yang berbeda; menerima diri sendiri, tidak gengsian, proaktif, serta senantiasa mengupayakan yang terbaik apa adanya, akan membantu kita menghindari penyesalan telah mengenal seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s