Menjemputmu dari Dasar Hati

Setiap detik aku memikirkanmu. Tak lelah aku memandangi setiap sudut. Kalau-kalau kau ada di sana. Kekonyolan yang aku pelihara. Memikirkan yang aku sendiri tidak tahu. Sampai aku beranikan menjemputmu dari dasar hatiku. Terlalu lama kau menantiku di sana bersama Kekasih Sejatiku itu.

Rabu siang, minggu terakhir Februari 2013 lalu, saya menerima undangan persekutuan kelompok profesional. Sudah lama memang saya tidak datang. Sepulang bekerja saya pun menuju gereja.

Sesampainya di sana, saya makan malam bersama rekan-rekan lainnya diselingi obrolan ringan. Acara langsung dimulai setelah makan malam. Sementara, saya masih berbincang-bincang dengan dua orang teman di luar ruangan. Saat mendengar lagu pembuka dinyanyikan, barulah saya sadar acara sudah berjalan. Bergegas saya masuk.

Saya berdiri di sebelah wanita cantik. Bertegur sapa lalu ikut bernyanyi. Setelah lagu pembuka selesai dinyanyikan, kami pun duduk. Mata saya langsung tertuju pada layar proyektor mencari tahu topik yang akan di bahas.

Begitu muncul kalimat di layar itu, seketika saya berkata, “Mak, temanya “Membangun Cinta”. Salah masuk ruangan awak…” Seisi ruangan langsung tertawa. Kemudian dilanjutkan sesi sharing. Saya sempat bercerita apa yang saya alami seminggu belakangan.

Usai sesi sharing, narasumber pun memulai aksinya, tentu dengan terlebih dahulu berdoa, memohon hikmat supaya “Pesan Tuhan” benar-benar sampai dan yang mendengar melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa point yang saya ingat dari paparan yang disampaikan; Cinta sejati hanya bisa ditemukan dan terwujud ketika kita memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, lalu menerima dan mengembangkan sikap “mencintai diri sendiri”, setelah itu barulah seseorang benar-benar bisa mengasihi orang lain dan dipertemukan.

Saya suka dengan pembicaranya. Menyampaikan konsep cinta sejati perspektif Alkitab dengan fun dan sesekali menyelipkan kisah cintanya. Mendengarnya berbicara, saya teringat bagaimana relasi saya selama ini dengan Tuhan, keluarga, mantan pacar, gebetan, teman-teman, dan lingkungan sekitar.

Setelah acara persekutuan selesai, saya  bersama beberapa teman singgah di salah satu warung kopi pinggir jalan. Sekitar pukul 23 saya pulang.

Tiba di kost, saya membersihkan muka dan kaki. Sebelum tidur, saya berdiam sejenak. Merenungkan apa yang sudah saya jalani selama ini. Menyadari apa panggilan dan tantangan yang mesti saya tuntaskan secepatnya. Supaya saya merasakan keutuhan hidup.

Saya bertanya dalam hati, “Di mana dia yang selama ini saya cari?” Berbagai model relasi sudah saya jalani. Mulai dari cinta monyet, ala kuliahan, sampai selingkuhan. Pernah pula sampai tahap berkenalan dengan keluarga seseorang. Tapi entah kenapa, saya tidak pernah berhasil membaringkannya di dasar hati ini dengan keyakinan yang sepenuhnya.

Saya sudah membaca berbagai buku, termasuk Lady in Waiting dan Passion and Purity. Itu karena saya begitu rindu untuk bersamanya, secepatnya! Belum lagi kisah dan saran-saran dari abang, kakak, juga sahabat-sahabat terdekat. Saya sudah mendengar dan melakukannya berulang, sampai-sampai kesulitan membedakan mana yang opportunity dan harapan palsu.

Malam itu, saya teringat kisah bapak. Anak petani miskin yang mesti berjuang hidup. Semasa muda, ia dikenal sebagai anak yang taat pada orang tua, terlebih pada Tuhan. Malam tahun baru 2012 yang lalu ia berkata, “Waktu saya muda, saya rajin berdoa dan tidak aneh-aneh. Saya diberkati, bisa punya keluarga seperti sekarang dan menyekolahkan kalian.”

Lebih lanjut ia bercerita perjalanan asmaranya. Tahun-tahun awal bekerja mesti terpisah jauh dari istrinya, “Dulu bapak, apa-apa sendiri, di hutan. Ke kantor jalan kaki berkilo-kilo. Bayangkan, saya sudah menikah tapi tidak bisa bersama istri saya karena pekerjaan. Waktu itu, sambil bekerja dan menanti kedatangan mamak, saya membuatkan tempat tidur dari kayu untuknya, supaya waktu mamak datang ada tempat tidurnya.”

Cinta Sejati YesusMendengar cerita itu, dalam hati, “Tuhan, aku kepengen merasakan apa yang bapak alami. Menuntaskan perjumpaan inspiratif dengan seseorang yang sudah Tuhan persiapkan. Pertemukanlah aku dengannya…”

Malam itu, saya meyakini Tuhan sedang berbicara. Apa yang saya inginkan sebenarnya ada dalam hati saya. Hati yang kalau dipakai sebenar-benarnya, akan menghasilkan kejutan-kejutan yang menggugah dunia ini. Di hati saya, Tuhan telah berdiam lama bersama kekasih saya, menunggu saya menjemputnya.

Tenanglah hatimu, aku sedang mengikuti hatiNya. Aku pasti menjemput dan membuatkanmu tempat tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s