Curhatan Politik Si Kaleng-Kaleng Kerupuk

Dua bulan yang aneh. Aku tak seperti sebelum-sebelumnya, yang selalu gatal membicarakan apa yang terjadi. Aku masih ingat, sejak SMP, karena bapak, aku terbiasa membaca Kompas atau Majalah Tempo. Aku jadi rindu kebiasaan kami, bercerita tentang politik.

Sumber: gawker.com

Sumber: gawker.com

Seperti biasa, setiap bangun pagi saya langsung berdoa lalu mengecek telepon genggam. Rabu pagi, 6 Maret 2013 yang lalu, menjadi pagi yang “lain” setelah saya membaca status seseorang, “Selamat jalan Kamerad Hugo Chavez!” Kepergian Chavez telah melukakan hati ini. Sepertinya mustahil ada lagi pemimpin seperti beliau. Pribadi yang mempertaruhkan pikiran, tenaga, materi, dan nyawanya demi memastikan kesejahteraan rakyat. Ia sangat dicintai rakyat Venezuela.

Ingat Chavez, ingat buku Confession of an economic hit man. Berisi pengakuan seorang mantan penjahat ekonomi, John Perkins. Menjelaskan bagaimana AS merampas kekayaan sebuah negara dengan modus kerjasama. Negara-negara Amerika Latin pernah merasakan getirnya kerjasama tak berimbang tersebut. Sampai sekarang beberapa diantaranya masih dipaksa “bermitra”.

Sedikit yang berani melawan. Diantaranya, Bolivia dan Venezuela. Kepemimpinan Evo Morales dan Hugo Chavez telah membawa angin segar bagi kedua negara sekaligus teladan bagi penguasa negara-negara “terjajah” lainnya. Mereka mengusir asing dari tanah kelahirannya. Untuk Indonesia, kita punya opini masing-masing.

Kita pernah punya presiden semodel Chavez, Bung Karno! Prinsip kepemimpinan Bung Karno sama dengan kedua pemimpin Amerika Latin itu. Sama-sama memiliki keinginan yang kuat memuliakan bangsanya, tanpa perlu mengeksploitasi rakyatnya sendiri bahkan warga dunia lainnya.

Politik. Lewat jalan itu mereka menjabarkan kemurahan hatiNya. Kalau saja sebagian besar pemimpin di negara ini semodel Hugo, saya percaya Indonesia terbebas dari praktek korupsi bahkan hutang! Hugo berhasil memakmurkan rakyatnya. Setiap tahun, rakyatnya antri membeli tiket kapal pesiar.

Terjun ke politik tidak cukup dengan keberanian. Keyakinan seseorang terpanggil menjadi pelayan rakyat, mestinya menjadi alasan utama. Lalu cara pandang dan realisasi pelaksanaannya. Politik salah satu wadah, yang kalau dimanfaatkan secara optimal dan bijak akan menghadirkan kebaikan-kebaikan Tuhan. Seperti yang Bung Karno atau Chavez pernah lakukan. Memang tak seutuhnya politik bersih. Kadang berdarah. Ada cara selain politik.

Subjektifnya saya, Jokowi dan Ahok satu platform dengan Chavez. Saya masih percaya Indonesia baru akan terwujud, dan itu sedang berjalan. Tapi tentu tidak cukup hanya mereka. Diperlukan sosok-sosok baru yang idealis memanusiakan manusia.

Menjelang Pemilu 2009 silam, siang sepulang beribadah, seorang bapak tua menghampiri saya. Memperkenalkan diri, dan menurut pengakuannya, sudah lama mencari tahu siapa saya. Singkatnya, beliau mengajak bergabung ke salah satu partai. Kebetulan beliau pembina partai tersebut. Walau begitu senang mendapat kesempatan, tapi saya merasa belum mampu kala itu.

Tahun 2012 lalu, saya diajak bertemu pembina salah satu partai ternama. Karena terlalu senang, saya sampai ijin dari kantor. Saya bertemu beliau bersama beberapa sahabat juga politikus-politikus tua yang masih bersemangat menjadi wakil rakyat. Semangat mereka tak setua umurnya. Saya kagum.

Pertemuan waktu itu mengubahkan pemahaman saya tentang konsep membangun bangsa. Ternyata, masih banyak orang bernurani yang setia dan gigih merawat NKRI. Meskipun harus mengorbankan harta dan kenyamanan pribadi. Perjumpaan itu semakin meyakinkan saya, pribadi-pribadi yang satu visi akan dipertemukan Tuhan dengan cara-cara yang “aneh”.

Sepulangnya, saya seperti tawanan politik. Menimbang tawaran bergabung dan memikirkan banyak hal terkait negara ini. Padahal saya hanyalah seorang yang kecil. No money. No power. Belum pantas rasanya. Tapi entahlah, setelah peristiwa itu saya semakin semangat berkarya.

Akhirnya saya memilih tidak bergabung dengan partai yang sebenarnya saya sukai caranya berjuang juga ideologinya. Saya cukup menyesal beberapa bulan setelah menolak.

Kehidupan saya memang sangat dipengaruhi kedua abang saya. Yang satu sudah dipanggil Tuhan. Mereka berdua, tekun memajukan bangsa ini lewat profesinya masing-masing. Bukan alergi politik. Tapi itulah jalan yang diyakini bisa mengoptimalkan “persembahan dirinya” pada negara. Di tengah kesibukan bekerja, mereka juga aktif mendorong pengembangan potensi anak-anak muda. Jalan itu yang sedang saya ambil.

Tahun ini, 2013, katanya tahun politik. Ada abang dan sahabat-sahabat pergerakan, yang dengan ketulusan, mendaftarkan diri sebagai calon wakil rakyat. Semoga mereka terpilih. Itu doa saya.

Beberapa partner pernah bertanya dan mendorong supaya saya ikut. Tapi saya mengatakan tidak. Karena tidak hanya politik jalannya. Dari profesi saya bisa berkarya juga terkait bagaimana mengukur diri. Inilah kelemahan mendasar saya. Kerap saya lupa siapa diri saya. Bukan rendah diri, tetapi bagaimana berhikmat menangkap peluang.

Saya tidak memilih jalur politik. Tapi saya meyakini, dari politik tercipta kebaikan bersama. Saya tidak bisa hidup tanpa politik. Begitu juga dengan Anda. Apa yang kita makan, apa yang kita pelajari, dan apa yang kita imani, didalamnya ada unsur politik.

Meskipun politik di negara ini sedang “hot”, saya tetap memiliki keyakinan. Masih ada, bahkan akan hadir politikus-politikus muda yang punya prinsip juga semangat seperti Bung Karno dan Hugo Chavez.  Asalkan sejak awal memastikan itu sebagai panggilan dan piawai mengukur diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s