Leadership sebagai Ilusi Satu Masa

Aku sangat berharap kita sama-sama merasa ada hal-hal yang perlu kita perbaharui bersama. Kita mesti mengingat ada cita-cita besar yang harus kita capai bersama.

Aku mengakui, keilmuan dan pengalamanku terlalu cetek, dibandingkan mereka yang sering tampil di televisi sebagai motivator atau pemimpin yang diteladani banyak insan.

Saya punya pengalaman, sebenarnya ini aib. Tapi saya merasa perlu membagikannya, supaya mendorong pembaharuan saya sendiri juga bagi yang sedang atau pernah mengalami perihal yang sama.

Sudah empat tahun lamanya, saya dan teman-teman mengelolah salah satu media online nirlaba. Ada rekan-rekan yang sejak awal bergabung, bertahan sampai hari ini. Ada pula yang bergabung di tahun kedua, ketiga, dan keempat. Ada pula yang sudah tidak aktif dikarenakan tuntutan mimpi pribadi.

Kebetulan, saya dipercaya menjadi pimpinan di media tersebut. Tentu saya akan berhubungan dengan semua divisi. Baik itu produksi, marketing, HR, keuangan, dan yang lainnya. Artinya, saya tahu semua tantangan dan terlibat proses-proses kerja didalamnya.

Tugas utama saya, memastikan media berjalan dengan baik. Edisi terbit setiap bulan juga bertanggung jawab menjalin dan mengembangkan jaringan. Merangkul komunitas atau pribadi yang memiliki visi yang sama dengan media kami.

Saya menyadari, tidak gampang menjadi pimpinan. Saya harus menjaga visi dan spirit media sekaligus menjadi contoh bagi anggota redaksi lainnya. Apa yang menjadi ide dan sikap saya, ikut mempengaruhi masa depan media ini.

Seperti kejadian umum, yang mungkin pernah Anda alami. Atasan sebaiknya tidak dibilang keliru atau disalahkan. Beberapa kali saya mendengarkan cerita seperti itu dari teman-teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan terkenal.

Saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan mengalaminya. Saya mesti menjadi pemimpin yang bersedia menerima kesalahan, kalau saya melakukannya.

Kenyataannya, sulit untuk mengaplikasikan hal tersebut.

Suatu kali saya meminta hasil evaluasi kerja tim dan perencanaan tahunan pada seseorang yang memang bertanggung jawab atas tugas tersebut. Setelah saya hubungi, kami sepakat tiga hari waktu pengerjaannya.

Setelah menunggu, saya tidak menerima hasil tersebut, malahan saya mesti menanyakan lebih dulu, dan sayangnya lagi, rekan saya itu membela diri. Ia merasa tidak menjanjikan, tapi mengusahakan menyelesaikannya selama tiga hari. Akhirnya, saya kesal.

Seperti yang Anda rasa, marah itu tidak enak. Baik yang kita marahi maupun sebagai pelaku.

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya menerima email dari rekan saya itu. Ia menjelaskan opininya dan mengajak saya untuk melihat kembali apa yang sebenarnya yang perlu saya dan ia perbaiki.

Membaca surel itu, saya semakin kecewa! Saya berpikir, “Lho, ini kok jadi gini. Kan sudah disepakati akan dikerjakan, lagi pula kan saya bosnya, saya sudah berbaik hati menanyakannya lebih dulu. Mestinya dia yang langsung lapor!” Saya pun membalasnya dengan menjelaskan ulang apa tugas dan tanggung jawabnya juga mengenai perihal etika bekerja.

Sebulan setelah itu saya mengingat kembali kejadian itu. Saya bertanya dalam hati, “Kenapa saya menjadikannya seorang yang bersalah dan kenapa saya sulit untuk melihat kesalahan saya.  Meskipun saya “bos” dan ia seperti itu, mestinya tidak dengan menyalahkan.”

Rekan itu sangat berarti dan saya kasihi. Saya telah keliru menerapkan spirit dan konsep-konsep leadership – kepemimpinan itu merupakan anugerah (Grace) dan panggilannya melayani (Serve).

Kalau saya seorang pemimpin yang baik, mestinya berpikir, “Apa yang belum optimal saya lakukan? Sudah tepatkah cara saya selama ini? Bagaimana seharusnya saya berlaku?”

Saya merasa tidak layak menjadi pimpinan, karena sulit mengakui kesalahan diri sendiri. Berbahaya kalau saya memelihara budaya “menyalahkan”. Saya tidak akan sampai pada tujuan akhir hidup saya kalau tidak berubah.

Alm. Bang Onye, abang sekaligus sahabat bagi saya, pernah berkata, “Kalau kita punya problem, dalam hal apa pun, sebaiknya kita intropeksi diri lebih dulu, tidak langsung menyalahkan orang lain. Lalu berani meminta maaf.” Dan ia menerapkannya pada saya di suatu kesempatan kala itu.

Semoga dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya, saya mampu melihat dan bersedia mengakui kekurangan serta kesalahan pribadi. Tidak membiasakan diri menyalahkan orang lain hanya karena saya gengsi telah memiliki pengalaman dan cara berpikir yang lebih dari rekan-rekan saya.

Semoga spirit leadership (Grace and Serve) tidak menjadi ilusi dalam hidup saya.

2 thoughts on “Leadership sebagai Ilusi Satu Masa

  1. “Kalau saya seorang pemimpin yang baik, mestinya berpikir, “Apa yang belum optimal saya lakukan? Sudah tepatkah cara saya selama ini? Bagaimana seharusnya saya berlaku?”
    Mengoreksi diri sendiri sebelum mengkritik orang lain. Makasih atas pembelajarannya bang Basar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s