Meja Warteg, Bara Tionghoa, dan Servant Leadership

“Seseorang yang memiliki visi besar akrab dengan keberhasilan dan kekuatiran kalau-kalau mimpinya gagal. Pilihan kujatuhkan, mengambil resiko sebesar-besarnya. Seperti prinsip kawan Tionghoa, tanpa menantang diri sendiri hidup akan biasa-biasa saja.”

Sumber: Creative and Innovative Leadership

Sumber: Creative and Innovative Leadership

Di kantor saya, meja makannya seperti di warteg-warteg. Kalau jam makan siang kami duduk sejajar dan makan berhadap-hadapan. Saya suka suasana itu. Makan sambil membicarakan hal-hal konyol yang selalu membuat tertawa. Sesekali kami bercanda soal politik negeri ini.

Suatu kali, waktu makan siang, saya duduk di kursi paling pinggir, melihat rekan-rekan yang sedang asyik santap siang. Saat seksama memperhatikan mereka makan, terlintas dalam pikiran, “Oh, jadi pengusaha-pengusaha itu ditunjuk Tuhan untuk menyalurkan kasih dan menyatakan pemeliharaan Tuhan atas hidup para pekerja. Apa jadinya mereka kalau tidak bekerja. Saya mau jadi pengusaha, Tuhan!”

“Pengangguran lebih berbahaya dari teroris,” kata seorang pengusaha pada saya. Sederhananya, waktu kuliah, kita tahu besok pagi kuliah jam berapa dan kemana. Kalau menganggur, tidur takut, bangun pun takut! Karena tidak tahu apa yang akan dilakukan esok harinya. Cenderung minder serta memikirkan hal-hal yang tidak patut dibahas.

Sekarang saya profesional muda, sudah bekerja selama 3 tahun. Tentu masih “hijau”. Saya bersyukur untuk pencapaian ini. Saya punya mimpi; memfasilitasi pengembangan potensi generasi muda sejak kuliah bahkan sekolah supaya siap bersaing dan menjadi salah satu penentu kebijakan di republik ini.

Saya bersyukur, 5 tahun belakangan dipertemukan Tuhan dengan pengusaha-pengusaha berhati mulia. Tidak sekedar mencari keuntungan, tetapi juga mendidik karyawannya untuk mandiri. Saya sangat bahagia menjadi salah satu murid bisnis mereka. Saya mengatakan ini sebagai ucapan terima kasih, dan antisipasi kalau-kalau mereka menuntut bayaran atas ilmu yang sudah dibagikan pada saya. Hahaha…

Mengingat kembali kerinduan saya. Satu-satunya cara yang saya pikirkan, “Aku mesti jadi pengusaha, seperti abang-abang itu. Daya dorong akan lebih terasa dengan berbisnis, dan aku bisa memastikan generasi muda akan maju. Karena itulah tujuanku.”

Sangat sering saya merasa, “Sampai kapan jadi karyawan?” Saya pun kadang melawannya, “Ah, kan udah ada gaji tetap. Pekerjaannya pun aku suka dan membuat berkembang.”

Senin (1/4) malam, saya bertemu seorang pengusaha. Beliau bercerita tentang fenomena “menantang diri sendiri”:

“Sar, temen-temen Tionghoa itu, tahu nggak, walaupun mereka pas-pasan, mereka itu berani makan di tempat mahal. Kenapa? Itulah cara mereka memompa potensi diri. Kalau pengeluaran besar, pendapatan pun harus besar. Kebanyakannya kan gini, takut makan di tempat mahal karena nggak cukup uang. Cobalah sesekali, dengan begitu kita akan berpikir, “Udah keluar uang banyak, mesti kerja keras untuk mendapatkan lebih,” Iya kan?”

Ada budaya “Bangga Posisi” yang sering kita jumpai. Kebanggaan atas jabatan  direktur, manager, atau staff di perusahaan ternama. Wajar dan itu bagian dari keberhasilan hidup.

Saya bisa berdiri tegak berhadapan dengan keluarga, teman, dan masyarakat karena status bekerja. Tapi saya sadar, tidak cukup dengan menjadi karyawan saya bisa mencapai apa yang Tuhan sudah titipkan.

Kalau pun visi saya tidak saya nikmati nantinya, paling tidak saya sudah membangunnya, dan saya tahu rekan-rekan seperjuangan yang sudah Tuhan siapakan akan membuatnya berhasil di masa mendatang.

Sekali lagi, saya masih kencur. Saya sering takut “makan enak” kalau tidak bersama Alm. Kornel M. Sihombing. Nampaknya kali ini mesti berani makan di tempat yang bergengsi, supaya terpacu bekerja lebih keras lagi. Menangkap cepat kesempatan-kesempatan yang diberikan Tuhan.

Selasa (2/4) siang, saat jam makan siang, saya ngobrol ringan dengan salah satu mentor saya, pengusaha juga. Saya bercerita kalau bisnis itu kan butuh modal dan lain sebagainya. Saya tidak punya itu, dan tanpa itu bisnis tidak akan pernah dimulai.

Setelah mendengar cerita saya panjang lebar, seseorang yang saya panggil abang itu berkata:

“Prinsipnya, memulai bisnis, kita jangan sampai pinjam modal ke orang lain. Kita jalankan bisnis dengan modal yang ada di kita dulu. Nanti kalau sudah jalan dan ada kebutuhan pengembangan, baru cari investor atau pinjam. Kalau dari awal pinjam, yah ngaco. Soal modal, kita bisa sesuaikan dulu dengan kebutuhan awal, coret yang tidak dibutuhkan. Dan kalau pun gagal, yang jelas kita sudah dalam satu prestasi baru.”

Selama mendengar penjelasan itu, dalam hati saya mengingat berapa modal yang saya miliki. Setelah usai berkisah, saya katakan padanya, “Mak! Uang awak aja cuman 2 juta di ATM, bang!” Lalu ia berkata, “Kan ada sumber dana yang tadi, pemodal dan peminjam. Kalau bisnis sudah berjalan, investor akan lebih mudah datang.”

Kata-kata terakhirnya itu saya tangkap begini, “Aku memang tidak punya uang yang cukup untuk usaha. Tapi ada Tuhan, ilmu, dan jaringan yang selama ini sudah tersedia.”

“Kepemimpinan sejati muncul dari mereka yang motivasi utamanya adalah keinginan untuk membantu orang lain.” – Robert K. Greenleaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s