Nona UNPAR 2006| Ini Coklat Buatmu!

Wanita-wanita itu telah membimbing saya menjadi laki-laki dewasa. Mungkin saja mereka tidak sadar. Sebagai pria, saya telah ditempah supaya bisa menghadapi tantangan hidup dengan naluri kelaki-lakian.

Juli 2002 sampai Juli 2005 silam, saya membangun hubungan asmara dengan seseorang. Salah satu moment terbaik yang pernah saya alami. Setiap pulang kuliah saya menjemputnya. Setiap malam minggu bersama menatap bulan sambil bergantian bercerita, beribadah bersama, duet bernyanyi, dan sebagainya.

Awalnya, saya semangat kuliah. Tetapi lama-kelamaan, saya lebih memilih tidak kuliah demi menjumpainya, kuliah pun jadi terbengkalai. Sementara ia wanita pembelajar, selalu mengutamakan kuliah.

Bagi saya, dialah wanita yang akan menemani saya seumur hidup. Dengan pengorbanan saya sebagai kekasihnya, dia akan semakin mencintai saya. Sesederhana itu saja pikiran saya kala itu.

Setahun sebelum hubungan kami berakhir, saya sering marah kepadanya, karena hal-hal yang tidak penting, cemburu, juga suka menipunya. Selain itu, saya tipikal pemaksa. Belum lagi kebiasaan saya bermain judi, minum-minuman keras, dan semacamnya. Saya sangat piawai menutupinya di depan sang kekasih.

Melihat dan merasakan perubahan saya, ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Suatu kali ia berkata, “Dunia ini luas lho, yak! Bukan cuma kita berdua. Masa depan kita masih panjang. Nanti kalau kuliahnya sudah lulus, kalau kita jodoh hubungi aku yah.” Hati saya hancur kala itu dan marah pada Tuhan!

Karena tidak lagi berpacaran, saya pindah kost. Lalu saya coba-coba aktif di salah satu gereja juga mengurus kembali perkuliahan. Saya berharap melalui kegiatan di gereja luka hati saya sembuh. Dan saya kepengen menjadi laki-laki yang dewasa.

Sejak itu saya dipertemukan dengan beberapa wanita. Berelasi dan berinteraksi dengan mereka. Saya tidak tahu, itu Tuhan yang atur atau bukan.

Suatu kali, sepulang kuliah, saya berniat berkunjung ke Unpar. Walau tidak punya janji dengan siapapun di sana. Sebelum berangkat, saya bertekad, “Aku beli satu coklat, lalu aku akan kasih kepada wanita yang pertama kali menyapaku di sana nanti.”

Tiba di Unpar, saya mampir ke warung membeli coklat dan saya taruh di kantong jaket sebelah kanan. Saat berjalan menuju aula Unpar sambil menikmati sebatang rokok, dari kejauhan, seseorang menyapa, dan kami terlibat percakapan.

“Hey, bang!”

“Hai, dek! Kamu kuliah di sini, yah?”

“Iya, bang.Baru beres kuliah. Ngapain ke sini?”

“Oh, iseng aja. Habis ini kamu kemana?”

“Rapat himpunan, bang. Biasa mau bikin acara.”

“Oh, iya-iya. Tapi mau nggak temanin aku dulu di sini sebentar.”

“Ok, santai bang.”

“Oh iya, nomer hp kamu, aku belum punya.”

“Ini, bang…”

Setelah menyimpan nomernya, kami berpisah. Dan saya lupa memberikan coklat itu. Padahal sudah nazar dalam hati. Sejak itu kami sering berkomunikasi.

Suatu kali saya mengajaknya bertatap muka.

“Dek, lagi di mana?”

“Lagi sama temen-temen, bang. Kenapa?”

“Maen yuk…”

“Kapan?”

“Sekarang?”

“Nggak bisa, bang. Nggak enak ninggalin temen.”

“Yaaa…”

“Jangan sekarang yaaa. Kapan yuk?”

“Maunya sekarang…”

Saya ngotot bertemu saat itu. Mestinya, saya mengusulkan hari lain. Akhirnya kami tak jadi berjumpa.

Kami dekat sekitar satu tahun. Saya pernah memberinya hadiah Paskah. Malam setelah saya berikan, ia langsung memajangnya di dinding kamar tidurnya.

Singkat cerita, akhir tahun 2006 ia kembali menjalin asmara dengan mantan kekasihnya. Saya merasa kehilangan dan berpikir, wanita berpacar tidak akan bisa sebebas waktu lajang.

Setahun kedekatan kami, tentu rasa sayang saya ada. Dan akhirnya saya katakan padanya walaupun sudah terlambat.

“Dek, selamat yah! Oh iya, aku cuma mau bilang, aku sayang samamu.”

“Oh iya, thanks yah! Aku juga sayang sama abang. Tapi abang itu orangnya suka maksa.”

Jawabannya itu mengingat saya waktu berpacaran dulu, saya suka memaksakan kehendak. Sejak itu saya belajar untuk tidak memaksa.

Tuhan telah mengajari saya supaya tidak menjadi lelaki egois dan pemarah. Lewat dua wanita yang sempat saya kenal dan dekat dengan kehidupan saya. Banyak sekali wanita yang sangat berjasa, menghantarkan saya supaya benar-benar menjadi laki-laki.terima-kasih

Terima kasih, nona! Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Meskipun kamu tak pernah menyadarinya. Coklat ini buatmu!

2 thoughts on “Nona UNPAR 2006| Ini Coklat Buatmu!

    • Hahahaha.
      Ini namanya belajar hidup. Menjadi laki-laki dewasa itu sulit memang. Panjang prosesnya.

      Wanita punya peran yang besar dalam pembentukan karakterku yang sekarang.

      Ini sebagai ucapan terima kasih kepada mereka. Tanpa mengenal mereka, hidup tidak seperti yang sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s