Hidup Bersama Harapan

Seperti biasa, kalau hari sudah gelap, aku selalu berlari-lari kecil sembari memejamkan mata, melentangkan kedua tangan sambil mendengar serta menyanyikan kidung-kidung kerinduan padaNya. Di halaman gereja itu. Dengan begitu, aku merasa terbang bak rajawali. Memang begitulah salah satu caraku berbincang denganNya saat kekuatiran akut menghampiri. Selalu di depan rumah Bapaku itu.

Senin (15/4) malam lalu, sepulang dari acara bedah film Dekalog IX, saya gelisah! Sebabnya, ada perkataan yang membekas di hati saya, “Mestinya, orang yang bertuhan tidak sedang hidup menanti-nantikan harapan. Orang beragama sebenarnya sedang hidup bersama harapan itu sendiri (harapan itu adalah Tuhan),” kata Om Joas Adiprasetya. Seorang teolog jenius nan rendah hati yang didaulat menjadi narasumber dalam acara itu.

Sampai di kost saya bersih-bersih. Lalu coba pejamkan mata, membalikkan badan ke kiri dan ke kanan, tetap saja pikiran melayang-layang, tak bisa terlelap! Sekitar satu jam lebih uring-uringan di kasur. Kemudian saya bangun, membuka pintu dan duduk di depannya, membalas BBM lalu menatap ke langit.

Saat menatap ke langit, saya bergumam dalam hati, “Gimana ini fokal.info. Sudah empat bulan nggak rilis edisi baru! Jangan-jangan teman-teman kontributor sudah tidak lagi bersemangat menulis. Aku tidak mau majalah ini tutup! Belum lagi urusan kantor dan keluarga! Oh! Gimana ini, Tuhan!”

Mungkin saya terlalu muluk. Tahun 2009 silam, saya bersama beberapa teman punya mimpi ikut mendukung pembentukan karakter dan pengembangan potensi generasi muda. Lalu kami mendirikan fokal, mengimbangi maraknya media-media yang “tidak mendidik”. Harapannya, dengan adanya fokal, paling tidak, ada anak-anak muda yang terdorong untuk terus mengasah diri. Dengan begitu, bangsa ini hidup dalam harapan. Seperti yang Om Joas katakan.

Hampir empat tahun berjalan, sebelumnya mulus-mulus saja. Sejak Januari lalu sampai bulan ini, fokal tidak merilis satu pun edisi baru. Karena sedang membuat desain baru. Hanya saja, rencana tersebut tak semulus yang dikira. Mestinya selesai Februari dan sudah meluncurkan puluhan tulisan setiap bulan. Tentu tulisan-tulisan yang membangun.

Saya juga memikirkan tugas di kantor. Ada pekerjaan yang mesti dituntaskan supaya tidak menumpuk. Kebetulan, untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dibutuhkan keahlian khusus. Sementara saya tidak memenuhi kriteria. Tapi saya harus menuntaskannya. Bukan hanya karena tugas, saya pun ingin cepat beres.

Selain itu, adik saya yang paling kecil sedang menghadapi UN. Senin pagi, sekitar pukul 06.30 ibu saya menelepon, “Bang, doain Lina yah. Adek mulai UN hari ini.” Saya menangkapnya sebagai ungkapan penyerahan kepada Tuhan sekaligus takut kalau anaknya tidak lulus. Saya bisa merasakan betapa tegangnya orang tua dan adik saya menghadapi ujian tersebut.

Saya bukan praktisi pendidikan. Tapi saya merasa, kalau orang tua dan anak didik dibuat ketakutan, itu artinya penentu serta kebijakan pendidikan di negara ini gagal!

Selasa (16/4) pagi, saat di kantor, saya coba menunjukkan salah satu usulan desain web kepada seorang teman dan mengirimkan linknya via email. Setelah mengamati sekitar 10 menit, ia memanggil lalu menunjukkan usulan desain lain. Langsung saja hati ini bersorak! Desain yang dia pilih sesuai dengan kebutuhan fokal.

Perihal pekerjaan kantor, memang cukup banyak. Mesti membereskan laporan periode Januari – 31 Desember 2012. Saya tidak tahu harus memulai dari mana. Saya hanya memasukkan data-data harian, dengan pengelompokkan yang ngasal sebelumnya.

Selasa siang, saya menghadap bos di kantor induk. Kami bercakap-cakap sebentar. Lalu saya mulai mengerjakan tugas, beliau berangkat meeting. Saya mulai membenahi data yang sudah saya input. Pelan-pelan, satu-persatu, sesuai dengan petunjuk bos. Membagi pekerjaan besar menjadi tahapan-tahapan kecil.

Waktu sedang asyik mengerjakan, dan telah memasukkan sekitar 20 data baru, saya menyadari kesalahan. Tidak merubah tanggal! Sementara saya tidak piawai menggunakan aplikasi tersebut. Saya pun terdiam sejenak. Kemudian mencoba merunut, dan akhirnya menemukan solusi. Saya mengerjakan hingga pukul 19.00 lebih, dan butuh beberapa hari lagi. Tetapi paling tidak sedikit lebih tenang.

Mengenai adik saya. Sebelum ibu menelepon, saya sudah mendoakan supaya ia diberikan ketenangan menuntaskan tugasnya. Saya melakukan panggilan sebagai seorang abang, memberi semangat dan menghibur. Saya yakin, ia akan memenangkan ujiannya.

Bagi saya, yang utama bukan kelulusan. Tetapi bagaimana proses ia terbebas dari rasa kuatir. Saya berjanji memberikan semua ilmu yang saya miliki padanya, supaya ia tidak lagi gentar menghadapi “pembodohan”.

Mengingat bagaimana saya menghadapi tiga tantangan tersebut, saya disadarkan, ternyata benar apa yang Om Joas bilang. Saya sedang berjalan bersama harapan itu. Bergandengan bersama Tuhan yang hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s