Penolong, Kasih Aku Kesempatan (Lagi)

Satu kesempatan bisa saja berulang, dua kali, tapi itu sangat langkah. Kalau pun terulang, waktu dan bentuk-bentuk pendukungnya tidak lagi persis seperti pertama kali, termasuk suasana hati. Kalau sebuah peluang sudah terbuang, kita merasa menyesal pernah melewatkannya, walaupun itu sangat kecil untuk disesali dan bukan yang utama dalam pilihan hidup kita.

Kisah nyata. Andi dan Dina sudah lama berteman. Mereka sering bertemu dan bermain bersama semasa SMA. Karena sering berjumpa, perasaan tumbuh. Andi menunjukkan tanda-tanda tertarik pada Dina. Dina pun merasakan hal yang sama sebenarnya, menyukai sahabatnya itu.

Sekian lama dekat, Andi tak jua menyatakan perasaannya. Sementara Dina, sebagai wanita, wajar saja kalau menunggu Andi menyatakannya secara langsung. Singkatnya mereka tak sama-sama mengetahui perasaan masing-masing. Sampai akhirnya Dina pindah ke kota lain.

Dalam perjalanan waktu, Andi, yang berkuliah di salah satu kampus terkenal di Bandung, memutuskan untuk kerja praktek di salah satu kota yang dekat dengan tempat tinggal Dina.

Andi pun berangkat ke kota yang dituju. Suatu kali, ia mampir ke kota tempat Dina menetap. Mereka melepas rindu dengan bercerita masa-masa SMA dulu. Sampai dalam suatu percakapan, Dina, yang merasa perlu memberitahukan perasaannya, yang lama terpendam, akhirnya mengungkapkannya pada Andi.

Andi sedikit terkejut mendengar pernyataan Dina. Tak lama, Andi pun menjelaskan, bahwa perasaannya sudah lama hilang. Dina pun memakluminya.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, Dina merasa menyesal. Mengapa dulu ia mesti menunggu Andi menyatakan perasaan sukanya langsung. Mestinya Dina lebih terang lagi menunjukkan “sinyal” menyukai, supaya Andi benar-benar terdorong menyatakan isi hatinya. Tinggalah sedikit penyesalan. Sampai sekarang mereka tetap berteman.

Kesempatan, kebanyakan tidak terulang. Penyesalan, kerap datang setelah hilangnya sebuah moment.

Saya pun mengalami hal yang sama beberapa kali. Membuang kesempatan. Tepatnya, bukan acuh, tapi karena didasari berbagai pertimbangan, yang menurut saya, waktu sedang menjalaninya, saya merasa tidak berhak atau belum pantas. Cenderung kurang berani mengambil resiko.

Kadang saya lebih suka bermain “aman”. Supaya tidak menyesal dikemudian hari. Saya cenderung lebih suka melihat hal yang terlihat dengan mata, terkesan pasti. Tanpa berani meyakini hal yang belum terlihat dan berpotensi terjadi dalam hidup saya.

Misalnya, dalam hal memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan seseorang. Kadang saya memilih untuk tidak menjadi eksekutor. Saya membiarkan mengalir bersama waktu. Sampai akhirnya seseorang yang sedang berhubungan dengan saya sadar harus mengambil sikap seperti apa.

Tetapi saya juga sering diperhadapkan mesti mengambil keputusan. Waktu saya mengambil keputusan, saya meyakini telah mengambil keputusan terbaik. Tapi tetap saja ada sedikit perasaan menyesal. Mengapa saya memilih keputusan itu. Kenapa saya tidak berani melawan ketakutan saya.

Kesempatan, ya, kesempatan tidak selalu bisa berulang. Kalau pun berulang, tidak lagi dalam suasana yang sebelumnya pernah terjadi.

Saya sering bersikap seperti “kalah sebelum perang”. Memiliki kekuatiran besar kalau-kalau saya tidak sanggup menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Kadang saya berpikir, apakah dengan kesempatan-kesempatan yang pernah ada di depan saya, yang saya putuskan maupun tidak (membiarkan waktu berjalan yang menjawabnya), dan yang sudah dilewati, merupakan bagian dari proses pematangan diri. Menuju pendewasaan bahkan sebagai tahapan saya sampai pada kesempatan yang nantinya tepat untuk saya ambil.

Kesempatan adalah pilihan. Ketika dalam proses memilihnya sudah baik dan juga melakukan yang terbaik dalam menjalaninya, maka seburuk apapun kondisi saat ini, pasti ada yang bisa disyukuri dan dirasakan baik adanya, sehingga kita malah tidak mau waktu itu berputar kembali ke masa lalu.

Mungkin Anda pun pernah mengalami hal yang sama. Dimana saat Anda mengambil keputusan, Anda begitu yakin akan dapat mengelolah resikonya. Namun di belakang hari Anda sedikit menyesal. Tapi di satu sisi Anda pun tidak ingin kembali pada masa lalu.

Kata orang, seseorang tidak akan pernah membuang peluang untuk mencintai kekasihnya, jika ia menganggap kekasihnya itu salah satu tujuan hidupnya.

Semoga saya pun bisa demikian. Berani memutuskan dan memanfaatkan setiap kesempatan, terutama dalam pencarian, pengenalan, dan penentuan akan calon penolong hidup.

Pernah pula seseorang berkata, kesempatan atau kenangan masa lalu, akan membuat kita banyak belajar dan tersenyum serta lebih hikmat lagi dalam mengambil keputusan dalam kesempatan selanjutnya, ketika kita mengingat hal-hal indah yang pernah kita rasakan, jalani, dan lakukan di masa lalu.

Sekali lagi. Kasih saya kesempatan. Kali ini saya tidak akan belajar untuk kuatir. Kalau pun ketakutan, saya siap untuk mengambil resiko terburuk. Yaitu, menciptakan, memelihara kesempatan dan kebahagiaan untuk calon penolong yang jauh disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s