Pelukan Onye Titipan Cinta Tuhan

Aku datang dengan lubang-lubang kepahitan yang menganga di hatiku. Aku merasa telah dibuang, ditinggalkan oleh banyak orang. Ini pula karena kelakuanku, yang tidak pernah berpikir untuk membuat hidupku berarti. Sampai akhirnya, ia yang diutus Tuhan, datang menerimaku. Tidak lagi melihat sebagai pesakitan atau sampah seperti sebelumnya. Apa adanya, ia memeluk dengan cinta.

Minggu (2/6), saya beribadah pukul 10.00 di GKI jl. Maulana Yusuf. Saya sangat terpukul sekaligus tertampar dan diingatkan kembali tentang proses, kekuatan, dan buah dari cinta. Bagaimana mengasihi orang lain tanpa batas.

Dengan gaya bicara yang berapi-api, Pdt. Albertus Patty bercerita tentang sikap Yesus yang bersedia berteman sekaligus mengasihi siapapun. Salah satunya dengan perempuan Samaria. Padahal orang Yahudi sangat membenci dan dilarang bertegur sapa sekalipun dengan orang-orang Samaria, karena mereka kaum rendahan.

Beliau juga mengisahkan bagaimana Yesus mengasihi seorang pelacur. Sekelompok orang datang kepada Yesus, membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah kehadapanNya, lalu menanyakan harus dihukum seperti apa perempuan itu.

Mengejutkan, Yesus malah membela pelacur itu. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8: 7b). Lalu tidak seorangpun melempari perempuan.

Setelah mereka pergi terjadi percakapan singkat antara Yesus dengan perempuan itu.

“Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” (Yoh 8:10).

“Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11).

Sulit sekali mengasihi seseorang tanpa batas. Beliau juga menceritakan kembali tentang Yesus dan Zakheus. Di saat banyak orang membenci Zakheus, karena menjadi kaki tangan penjajah pada saat itu, memungut pajak dari bangsanya sendiri.

Tapi pada saat Yesus datang, Yesus malah memilih menumpang di rumahnya. Karena girang, Zakheus sampai berjanji membagikan hartanya kepada orang miskin serta mengembalikan pajak yang dipungutnya dari orang-orang Yahudi empat kali lipat. Yesus datang ke rumah pendosa!

Cinta Yesus! Karena besarnya cinta dalam hatiNya, sehingga tidak menghakimi siapapun yang berbuat dosa, tercela, terpinggirkan, dan merasa tidak berharga. Ia menerima mereka apa adanya.

Ada pula kisah lain. Martin Luther King, Jr dan Mother Theresa. Bagaimana mereka mempraktekkan cinta dalam bentuk yang nyata. Luther, memperjuangkan kesetaraan kulit hitam dan putih. Theresa, hidup dengan keprihatinan, cibiran, dan keterbatasan bersama kaum papa sampai akhir hidupnya.

Sepulang ibadah, saya teringat pengalaman sewaktu bersama Alm. Kornel M. Sihombing semasa hidupnya. Setahun sudah kami berpisah.

Karikatur-Onye-12R-30x40cmTahun 2005 saya datang ke GKI Maulana Yusuf sebagai seorang yang merasa rendah diri, tidak memiliki teman dan arah hidup. Banyak orang tidak menyukai saya awal-awal aktif disana, dianggap rendahan! Dan saya sudah sempat berpikir lebih baik pergi, karena gereja tidak menerima orang berdosa seperti saya.

Tetapi Bang Onye lain, ia tidak menghukum, malahan mengajak saya berkenalan. Bicara hati ke hati. Membantu saya menata kembali kehidupan yang sudah lama berantakan. Dan tidak hanya saya yang diperlakukannya demikian, beberapa teman saya pun mengalami penerimaan yang penuh cinta.

Mulai dari menyusun kembali rencana menyelesaikan studi, sampai pada pengembangan potensi saya. Saya sering diberi beberapa kesempatan pelayanan, penghargaan, dan inspirasi dari pengalamannya sebagai salah satu orang penting di PTDI, keluarga, dan gereja.

Ia melakukan apa yang Yesus lakukan. Tidak menghakimi tetapi memberi cinta. Ia lebih dulu mengenal, bercakap-cakap dari hati ke hati, mencari tahu apa yang menyebabkan seseorang merasa tidak berarti hingga melakukan hal-hal yang buruk, lalu mendorong untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bahkan bangsa ini.

Tidak mudah menerima orang lain apa adanya, apalagi mengasihi tanpa batas. Ada banyak orang di luar sana yang merasa ditolak. Hanya memiliki kesempatan yang sedikit bahkan tidak sama sekali untuk menikmati kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya.

Ada banyak orang yang merasa terbuang, dan berpikir untuk tidak melanjutkan hidup. Kita dapat menjumpainya, tidak jauh-jauh, di lingkungan keluarga, kampus, gereja, dan sekitarnya.

Setiap manusia memiliki kebutuhan terbesar: merasa diterima. Kalau sudah merasa diterima, mereka akan melakukan hal-hal yang luar biasa, yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Saya juga ingat. Saat saya selesai sidang akhir, sekitar tahun 2008 silam. Saya bertemu Bang Onye di depan pos satpam gereja. Waktu itu, mengalir begitu saja. Saya menghampirinya, begitu juga ia. Lalu kami berpelukan. Pelukan itu lain sekali rasanya. Dekapan kelembutan hati yang dititipkan Tuhan untuk saya.

Sejak itu saya pun berteman dan melayani bersama mereka-mereka yang sebelumnya memandang saya sebelah mata.

Terima kasih Yesus. Tidak dengan menghakimi Engkau memulai sesuatu. Engkau melakukan apa yang selalu dirindu-rindukan setiap manusia. Mengasihi dan menerima tanpa batas.

“Aku mau belajar mengasihi siapapun, bahkan kalau bisa, tanpa batas!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s