Duduk Bersebelahan di Padang Rumput

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” – Yesaya 40:31

Semenjak bekerja tahun 2009 silam, ada beberapa perubahan yang saya alami. Mulai dari gaya hidup, rutinitas, bahkan pola pikir. Saya merasa tertolong atas berbagai perubahan yang saya alami.

Misalnya, gaya hidup, walau tidak signifikan berubah, menolong lebih leluasa dalam bergaul. Sesuai usia dan kewajiban saya bekerja. Begitu pula dengan pola pikir, saya merasakan betul bagaimana dibentuk lebih dewasa lewat pekerjaan dan tantangan-tantangan lain yang saya hadapi.

Keluarga saya yang paling merasakan bagaimana saya yang sebelumnya kekanak-kanakan, perlahan sedikit lebih dewasa. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan saya. Walau begitu, saya mesti lebih dewasa lagi hari demi hari.

Rutinitas, sedikit demi sedikit teratur sejak bekerja. Pergi pagi – pulang sore (menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang mudah juga yang sulit), termasuk jadwal makan, dan mulai mengatur waktu kalau bertemu seseorang. Selain itu, saya terlibat beberapa pelayanan, tidak rutin. Saya menyukainya, seperti mengelolah media online, pelatihan kepemimpinan serta jurnalistik, tim mimbar, dan yang lainnya.

Saya senang dengan rutinitas baru sejak bekerja. Karena dengan bekerja, saya memiliki kesempatan mengembangkan diri dan melayani di kantor.

Sejak tahun 2008 sampai awal tahun 2012, setiap satu atau dua minggu sekali, saya berkumpul dengan abang PA juga beberapa teman. Berbagi Firman yang hidup, saling menguatkan serta mendoakan pergumulan yang sedang dihadapi.

Saya ingat, masa itu abang PA saya sering mengingatkan untuk lebih sering bercakap-cakap dengan Tuhan (melalui doa – bahkan saat di jalan, dalam hal ini cukup dalam hati saja).

Sumber: kumpulanfoto.net

Sumber: kumpulanfoto.net

Mei 2012, saya kehilangan abang PA, beliau dipanggil Sang Pencipta. Sejak saat itu saya mulai jarang bertemu sahabat-sahabat PA. Disamping memiliki kesibukan masing-masing, ada yang berpindah tempat kerja dan yang mulai berkeluarga. Kami lebih sering berkomunikasi lewat telepon genggam, sms, dan jejaring sosial.

Saya pun larut dalam rutinitas pekerjaan dan pelayanan. Setiap pulang, selalu ada rasa sepi dan ruang kosong dalam hati saya.

Beberapa kali saya coba menghiraukannya dengan mengunjungi mall pada akhir pekan atau mengajak rekan saya yang lain berbincang-bincang di warung kopi. Tapi “penambalan” itu tidak mampu menutup sedikit pun lubang yang ada dalam hati saya.

“Di dalam setiap hati manusia ada satu ruangan yang kosong yang tidak pernah dapat diisi oleh siapapun juga kecuali Tuhan.” – Blaise Pascal

Suatu kali, seorang teman yang sudah berkeluarga dan bekerja di Jakarta, bercerita bagaimana ramai padatnya kehidupan di ibukota. Ia merasakan kerasnya tekanan hidup di sana. Ia rindu untuk melayani serta memiliki kelompok berbagi, yang biasa disebut Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) oleh rekan-rekan lembaga pelayanan.

Sewaktu dia cerita, dalam hati saya, “Ah, aku pun butuh ini!” Lalu saya juga bercerita tentang suasana dan pertanyaan ganjil yang ada dalam hati saya, “Tuhan, kemana saya harus mengisi ruang kosong dalam hati saya ini?”

Bagi kelompok seperti saya (pekerja), rutinitas kantor dan tekanan berpotensi menelan saya hidup-hidup, tenggelam dalam lautan pengejaran ambisi pekerjaan. Bukan tidak baik, hanya saja, itu tidak menuntaskan apa yang jiwa saya butuhkan. Mungkin ini pula yang Anda rasakan saat ini. Merasa kosong, walau sudah sangat sibuk dengan jadwal-jadwal yang menanti.

Saya sedikit beruntung, terlibat dalam beberapa pelayanan. Sehingga saya tidak hanya akan menghabiskan waktu di meja kerja. Saya tidak menilai rekan-rekan saya yang hanya bekerja sebagai orang gila. Ini hanyalah rasa keberuntungan saya yang sedikit. Saya patut mensyukurinya. Dan tidak pula setiap orang mesti sama dengan saya. Tetapi saya tetap merasa tidak cukup. Saya butuh lebih dari itu. Saya lapar! Saya haus!

Suatu kali saya menanyakan kabar pada seorang teman, aktivis. “Apa kabar?” tanya saya. “Seperti biasa, bang! Jadwal padat, hati sepi.” Saya sempat tertawa membaca jawabannya. Namun saya kemudian sadar. Kesibukan telah menguatkan kelupaan kita untuk lebih mengutamakan relasi dengan Sang Pencipta. Sekali lagi, mungkin hal ini pula yang teman-teman aktivis rasakan.

Saya mesti lebih jujur. Saya butuh lebih akrab bercakap-cakap dengan Tuhan. Setiap malam bahkan setiap detik. Dituntun mengerti Firman berteman rindu mendalam, bertutur sejujur-jujurnya, bercucur air mata dan bernyanyi tulus ikhlas untukNya. Juga berbagi serta berdoa bersama sahabat-sahabat terkasih. Walau klise, tapi hati saya memerlukannya. Kerinduan saya ibarat Anda yang sedang menanti-nantikan kedatangan kekasih pada kencan pertama.

Saya membayangkan utuhnya kehidupan saya nanti. Di mana saya memiliki kesempatan terbaik, duduk bersebelahan denganNya. Bernostalgia atas kehidupan saya di dunia sambil memandang hijaunya padang rumput, dan tatapanNya yang meneduhkan sekaligus menenangkan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s