Dari Solo Menuju Indonesia

Semoga saja sejarah berpihak dan kerinduan rakyat terpuaskan, bukan karena telah lama menanti, demi Indonesia Raya!

Tak terasa, sebentar lagi kita akan berganti presiden. Nama seperti Abu Rizal Bakrie (ARB), Jusuf Kalla (JK), Megawati, Prabowo, Hatta Rajasa, Jokowi, dan beberapa nama lainnya mencuat dalam berbagai survei. Metode survei sedikit banyak menolong seseorang untuk semakin yakin maju dalam suatu pemilihan. Entah itu survei berbayar atau tidak.

Manuver politik hari ke hari kian kental. Setiap hari kita disuguhi berbagai berita interaksi politik, yang mendorong kita semakin sadar dan dewasa dalam berdemokrasi. Sepertinya, kita tidak memiliki pilihan baru untuk presiden selanjutnya. Hanya Jokowi, figur anyar yang memikat hati rakyat, termasuk partai politik.

Dari beberapa calon lama, Prabowo dikuatirkan terjegal peristiwa penculikan aktivis, ARB terkait “tragedi” lumpur Lapindo, sedang Megawati dianggap sudah terlalu tua. Hanya JK yang sepertinya menjadi pertimbangan masyarakat. Seorang teman berkata, “Kalau JK ngomong, seperti ada harapan.” Lain lagi dengan Hatta Rajasa, ada campur tangan Amien Rais, yang diopinikan tidak memiliki pendirian politik dan tidak konsisten mengawal reformasi.

Jokowi, kian sering kita mengetahui sepak terjang beliau. Semenjak menjadi Wali kota Solo, kampanye Pilkada DKI, sampai akhirnya menjadi Gubernur. Entah kenapa, untuk sosok yang satu ini, media seperti mengistimewakan, entah pula karena memang media sadar dan mendukung serta membantu mensosialisasikan bahwa Indonesia butuh pemimpin seperti beliau.

Ada kawat duri yang menjadi penghalang kalau Jokowi akhirnya maju menjadi capres. Ada yang mengatakan, “Jokowi mesti tuntaskan dulu tugas sebagai orang nomor satu di DKI.” Ada pula yang mengatakan, “Kapasitasnya belum layak jadi presiden.” Kedua opini ini terlontar baik dari tokoh politik maupun masyarakat.

Ada pula yang bersikap “lain”. Karena merasa Jokowi bekerja dengan nyata, menyentuh kalangan bawah, disukai kalangan menengah, dan yang mengejutkan, beliau berani melawan asing. Walau skala perusahaan air.

Masyarakat dari berbagai kalangan seperti tiada hentinya mendorong Jokowi maju. Ada orang-orang yang dengan inisiatif sendiri mendeklarasikan sebagai relawan yang akan mendukung Jokowi menjadi presiden. Lihat dan baca juga komentar-komentar mengenai pemberitaan Jokowi.

Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan seorang teman.

A: “Kalau Jokowi nyapres, gimana?”
B: “Jangan dululah. Benahi Jakarta dulu. Nanti habis itu nggak usah kampanye pasti kepilih jadi presiden.”
A: “Kalau misalnya jadi maju? Milih nggak?”
B: “Iyalah, pasti milih.”

Teman saya itu berharap sebaiknya Jokowi lebih dulu membereskan Jakarta sebagai wujud integritas dan komitmen terhadap sumpah jabatan. Namun ia juga menyadari, jika Jokowi maju, maka ia akan memilih beliau. Karena merasa jenuh dengan kebanyakan pemimpin yang mengumbar janji. Tidak cepat dalam mengambil keputusan. Berharap ada perubahan signifikan, yang nyata.

“Politik itu lebih licin dari sabun mandi,” kata seorang teman aktivis. Dinamis. Belum tentu kondisi politik sekarang akan sama dengan tahun 2019 nanti. Memang, semua ada aturannya, termasuk kebijakan partai. Keputusan ada di tangan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Sekali lagi, politik bisa berubah kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Apa kita bersedia kemungkinan kehilangan emas di depan mata?

Saya ingat betul, waktu beliau ikut pertarungan Pilkada DKI, masih menjabat sebagai wali kota. Jika terpilih, mesti menaruh jabatannya. Saya juga mengingat apa yang beliau ucapkan, kira-kira begini, “Demi kepentingan yang lebih besar.” Saya menangkap, maksudnya bukan soal ambisi, namun bagaimana merespons tanggung jawab yang lebih besar. Menyelesaikan tugas-tugas besar demi kepentingan masyarakat, yang lebih banyak lagi.

Tentu, jika alasan ini dipakai kembali, itu pun kalau Jokowi jadi bertarung demi kursi R1-1, rasanya sebagian masyarakat (persentasi seluruh Indonesia lho) sulit untuk menerima hal itu. Tapi sebagian mungkin memahami. Kita semakin sulit menemukan pemimpin tegas, sopan, berbudaya, berpihak pada rakyat, dan berintegritas di zaman ini. Langka sosok seperti Jokowi. Begitu pula dengan Ahok, yang kelihatannya sedikit arogan.

Masyarakat Solo dengan legowo mendukung walikotanya untuk ikut bertarung di DKI kala itu. Apakah kita juga akan legowo dan memberi restu jika akhirnya beliau, karena ditugaskan oleh partai, atau bahasa lainnya, dimandatkan rakyat, maju sebagai capres?

Indonesia dalam masa krisis kepemimpinan. Kehadiran Jokowi menjadi alternatif, seperti ada harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu mendorong perubahan signifikan dan menginspirasi rakyat bersama-sama bertindak nyata memperbaiki Indonesia. Itu ada dalam diri Jokowi.

Ibarat Anda seorang manager, yang baru bekerja setengah tahun dan mesti meninggalkan posisi manager menjadi salah satu direktur demi kepentingan memajukan perusahaan, apa iya kita akan menolaknya? Ada tugas mulia yang sedang Anda jawab saat menerimanya.

Tentu ada kemampuan-kemampuan baru yang mesti Jokowi kembangkan. Dan beliau sedang menjalaninya. Seperti dari wali kota menjadi gubernur, ada ujian kompetensi yang beliau harus jalani setiap hari. Kapasitasnya sedikit demi sedikit berkembang. Begitu pula jika ia maju menjadi calon presiden. Proses itu pasti ada.

Ada yang menarik di akhir konser Metallica Minggu (25/8) lalu, para personil Metallica memegang bendera Merah Putih dengan tulisan Metallica pada warna merah dan tulisan Solo-Indonesia pada warna putih. Entah suatu kebetulan atau tidak. Seperti bahasa alam yang membuat kita berpikir “dari Solo menuju Indonesia”.

Kalau Jokowi bertarung, apa kita akan diam saja? Kepentingan yang lebih besar menanti. Kepentingan itu; membenahi Indonesia secara mental dan budaya. Karena persoalan bangsa ini bukan lagi soal cerdas tidaknya seseorang. Tetapi bagaimana menyelaraskan kecerdasan dengan mental dan budaya. Tentu budaya yang positif, seperti yang ditampilkan Jokowi dalam kehidupan sehari-hari. Kita nantikan kejutan. Sejarah mana yang akan terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s